Hari Raya Kuningan Di Bali Merupakan Wujut Pemulangan Leluhur

Jumat, 26 Februari 2016
loading...

Indolinear.com – Hari raya Kuningan merupakan rangkaian terakhir dari upacara perayaan Hari raya Galungan di Bali. Tak jarang masyarakat di Bali yang memahami perayaan Kuningan yang identik dengan nasi kuning dan gantungan Tamiang.

Jero Mangku Widya, sesepuh spiritual muda Denpasar di Bali menyebutkan bahwa hari raya Kuningan adalah hari pemulangan. Ini diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali dalam kalender Bali tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.

“Pada hari ini ( Kuningan) wajib kita umat Hindu di Bali mengucapkan rasa syukur pada Tuhan, Ida Hyang Widi. Atas karunianya memberikan kemeriahan dan kemenangan buat kita semua,” ucap Mangku di Denpasar Selatan Bali.

Lebih spesifik lagi, kata Mangku pelaksanaan upacara pada Hari Raya Kuningan sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari, sebelum waktu para Betara dan leluhur kita yang sudah disucikan kembali ke surga.

Pada hari ini, lanjut Mangku Umat membuat nasi kuning tumpeng kecil-kecil sebagai lambang kemakmuran. “Kuning merupakan lambang dari kemakmuran dan kesejahteraan. Karenanya, disimboliskan dengan menghaturkan bahan pangan ( padi/beras) diolah jadi nasi kuning,” kata Mangku.

Dipertegasnya, bahwa hari raya ini adalah hari raya khusus, di mana para leluhur yang turun di lingkungan keluarga masing-masing sejak hari Sugihan Galungan, pada hari ini di Kuningan Beliau kembali.

“Di Kuningan ini disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke istananya masing-masing,” tuturnya.

Selain nasi kuning, kata Mangku juga ada sesajen yang berisi simbul tamiang dan endongan, di mana makna tamiang memiliki lambang perlindungan dalam bentuk perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam.

“Galungan sampai Kuningan, diharapkan agar umat selalu mengingat tentang cinta kasih dan saling menjaga keharmonisan dengan alam. Terpenting tidak melupakan apa yang telah diwariskan atas ilmu pengetahuan oleh leluhur ( pendahulu) kita,” Tutup Mangku Widya. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com