Hari ASEAN, Ketua LDII Sebut Nasionalisme Abad 20 Masih Relevan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 9 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Ketua DPP LDII Prof.Singgih Trisulistyono, menganggap sosio-nasionalisme atau nasionalisme abad 20 masih relevan diterapkan pada abad 21 ini, utamanya dalam konteks ASEAN.

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) itu mengatakan, dunia yang kian borderless tak menghilangkan negara bangsa (Nation-state) sebagai kesatuan politik dan mewujudkan cita-cita kebangsaan anggota ASEAN.

“Kemakmuran, kebersamaan, kerja sama, proteksi dan sebagainya harus terwujud dalam negara bangsa dalam menghadapi globalisasi yang memerlukan kerja sama dan persahabatan, untuk keamanan dan kesejahteraan rakyatnya” ujar Singgih dalam keterangannya, dilansir dari Tribunnews.com  (08/08/2021).

Setiap 8 Agustus, Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN memperingati hari jadinya.

Brunei Darussalam yang menjadi ketua ASEAN pada 2021 ini, mengangkat tema “Kami Peduli, Kami Siap, Kami Sejahtera”.

Menurutnya, sejarah telah memberi pelajaran, negara-negara yang mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan negara lain, terperangkap dalam Perang Dunia II.

Negara-negara di kawasan Eropa saat itu misalnya terlalu fokus dan total memperhatikan diri sendiri, terhadap masalah bersama di kawasan Eropa.

Akhirnya buah mementingkan diri sendiri adalah kehancuran Eropa dan dunia.

Oleh karena itu, guru besar Undip itu mengatakan kerjasama ASEAN kian penting, apalagi dengan dukungan internet yang membuat segalanya kian mudah,

“Sosio-nasionalisme abad 21 di ASEAN sangat memungkinkan. Dengan dukungan internet kerjasama tak hanya dilakukan oleh government to government tapi juga people to people. Warga di kawasan ASEAN bisa mengambil inisiatif kerja sama,” ujar Singgih.

Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengatakan tema yang diangkat Brunei pada perayaan hari jadi ASEAN kali ini relevan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang menjadi masalah kesehatan dan ekonomi yang besar di Asia Tenggara.

Sementara itu wilayah Asia Tenggara juga terimbas konflik Laut China Selatan.

Di sisi lain, terdapat ketegangan politik di Myanmar yang butuh perhatian ASEAN.

Chriswanto mengatakan, ASEAN yang dibentuk pada 8 Agustus 1967 muncul saat Perang Dingin yang menghangat.

Benang merah lainnya yang menyatukan ASEAN adalah latar belakang mereka, sebagai negeri bekas jajahan Barat, sehingga dalam tubuh ASEAN saat itu muncul kesadaran pula mengenai kesetaraan, pentingnya saling membantu dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.

Imperialisme dan kolonialisme yang ditanggung rakyat yang ada di Asia Tenggara sangat berat.

Dari perasaan senasib itu dan menghadapi tantangan global era Perang Dingin, mendorong sosio nasionalisme di kalangan ASEAN.

“ASEAN dengan sosio-nasionalismenya ingin aktif dalam mewujudkan perdamaian sosial dan kesejahteraan bersama,” ujar Chriswanto.

Bung Karno menyatakan Sosio-nasionalisme bukanlah kecintaan terhadap negara dalam arti sempit atau chauvinisme tapi menolak peindasan atas bangsa lain.

Artinya hidup berdampingan saling membantu dan menghargai, itulah bagian dari sosio-nasionalisme.

Chriswanto mengatakan, sosio-nasionalisme ASEAN direpresantasikan dalam deklarasi yang menyatakan, ASEAN adalah kehendak kolektif negara-negara Asia Tenggara untuk mengikat diri bersama, dalam persahabatan dan kerja sama.

“Deklarasi itu juga menunjukkan sosio-nasionalisme yang kuat, yang ditunjukkan dalam kalimat: “melalui upaya dan pengorbanan bersama, memberikan keamanan bagi rakyat, untuk perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran”,” imbuhnya. (Uli)