Harga Ayam Anjlok, DPR Meminta Pemerintah Berantas Kartel Pangan

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 7 Juli 2019

Indolinear.com, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Haryo Soekartono meminta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution untuk memperhatikan kondisi harga pangan khususnya untuk ayam. Sebab, berdasarkan laporan yang diterimanya terdapat dua lokasi anjloknya harga komoditas ayam.

“Saya tadi sampaikan ke WA bapak ada harga pangan ayam, dari peternak Rp 7 ribu diterima, tapi dijual di pasar dengan harga Rp 29 ribu,” kata Bambang Haryo di ruang sidang Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, dilansir dari Liputan6.com (06/07/2019).

Bambang Haryo yang menjadi anggota Badan Anggaran DPR ini juga meminta agar pemerintah bisa memberantas kartel pangan. Sebab, tanpa itu harga pangan seperti ayam bakal terus mengalami penurunan. “Jadi kartel pangan itu harus dihilangkan semua pak,” imbuhnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Menko Darmin mengatakan harga pangan ayam yang anjlok tersebut adalah hal yang wajar. Sebab, ini tidak terjadi pada komoditas ayam saja melainkan menimpa komoditas pangan lain seperti cabai.

Kendati demikian, dia memastika bahwa peristiwa ini tidak akan terjadi dalam jangka waktu yang lama. “Itu hanya kejadian sesaat, sehingga jangan dipakai jadi ukuran bahwa pasar kita seperti itu ya. Pasar kita itu mungkin relatif belum terlalu efisien,” kata Darmin.

Peternak Gulung Tikar

Seperti diberitakan sebelumnya, anjloknya harga ayam ras, membuat peternak di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta gulung tikar. Jika dalam kondisi normal harga ayam mencapai Rp 40.000 per ekor, namun saat ini para peternak mengobral dengan harga Rp 25.000 per ekor dengan berat 2 kilogram.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) Jawa Tengah, Parjuni mengatakan, anjloknya harga daging ayam ras di pasaran terjadi sejak April lalu. Kondisi tersebut membuat para peternak mandiri di wilayah Jawa Tengah dan DIY gulung tikar.

“Menyikapi kondisi tersebut, kami menggelar aksi obral ayam di Jalan Adi Sucipto. Aksi ini sebagai bentuk protes kepada pemerintah, selama ini sudah banyak para peternak mandiri yang gulung tikar,” ujar Parjuni kepada wartawan.

Parjuni menilai, anjloknya harga jual ayam ras di pasaran sudah berada di bawah biaya produksi yang dikeluarkan. Sebab harga pokok produksi (HPP) sebesar Rp 18.500 per kilogram, namun harga jual saat ini hanya diangka Rp 8 ribu sampai 9 ribu per kilogram.

“Kerugian peternak sudah tidak terhitung lagi, jadi wajar kalau mereka banyak yang memilih menutup usaha,” katanya.

Protes Harga Merosot, Asosiasi Peternak Yogyakarta Bagi Ayam Gratis

Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) akan membagikan 5.000 ekor ayam gratis kepada masyarakat. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk protes lantaran harga ayam anjlok di tingkat peternak.

“Betul (Apayo membagikan ayam gratis-red). Sebagai protes peternak dengan keadaan ini,” ujar Ketua Apayo, Hari Wibowo saat dihubungi Liputan6.com,Senin (24/6/2019).

Sebelumnya beredar kabar aksi bagi ayam 5.000 ekor gratis. Pembagian ayam gratis itu dilakukan pada Rabu siang, 26 Juni 2019. Langkah tersebut dilakukan lantaran harga ayammurah di tingkat peternak.

Sejak September 2018 hingga Juni 2019, selama 10 bulan harga ayam hidup di kandang selalu di bawah harga pokok penjualan/HPP. (Ayam hidup 18.700 per kilogram/kg atau karkasnya mencapai HPP 30.000).

Sementara itu, harga di pasar selalu di atas HPP yaitu 29.000-30.000 per kg meski pun para pedagang membeli dari peternak dengan harga hanya Rp 7.000-Rp 8.000.

“Kami melakukan protes. Alasan pedagang takut kalau menurunkan harga nanti susah ngangkatnya lagi. Sementara ayam peternak semakin besar semakin susah jual semakin mudah diobral,” ujar dia.

Hari menuturkan, kondisi tersebut terjadi lantaran  over suplai atau kelebihan produksi. Di sisi lain pedagang takut menurunkan harga ayam. Kelebihan produksi ini, menurut Hari juga didorong banyak pemain baru yang menjadi penyebab over suplai. “Banyak pemain baru yang menjadi penyebab over suplai seperti perusahaan China, Korea dan Malaysia,”kata dia. (Uli)