Hampir Setengah Abad Berpisah, Kakak Beradik di Kamboja Bertemu Lagi

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 24 Februari 2020

Indolinear.com, Kamboja – Dua kakak beradik di Kamboja, Bun Sen yang berusia 98 dan sang kakak berumur 101 tahun dipersatukan kembali untuk pertamakalinya setelah 47 tahun berpisah.

Mereka dipisahkan selama pemerintahan teror Khmer Rouge pada 1970an.

Keduanya berpikir satu sama lain sudah meninggal.

Bun Sen juga dipertemukan lagi dengan adik laki-lakinya yang berusia 92 tahun.

Dilansir dari Tribunnews.com (23/02/2020), kedua saudara ini terakhir bertemu pada 1973, dua tahun sebelum partai komunis yang dipimpin Pol Pot menguasai Kamboja.

Sekitar dua juta orang diperkirakan tewas selama pemerintahan Khmer Rouge.

Banyak kelaurga yang hancur di bawah kepemimpinan Khmer.

Anak-anak dipisahkan dari orang tuanya karena rezim ini berusaha mengontrol penduduknya.

Bun Sen kehilangan suaminya di bawah rezim Pol Pot.

Dia lantas menetap di kawasan pembuangan sampah, Stung Meanchey di Pnhom Penh.

Selama bertahun-tahun, hari-harinya dihabiskan dengan mencari sampah, memburu barang yang bisa didaur ulang dan dijual kembali.

Selain itu, Bun juga merawat anak-anak di lingkungan miskin itu.

Dia selalu bicara tentang mimpinya mengunjungi tempat kelahirannya di Provinsi Kampong Cham.

Lokasinya sekitar 90 mil dari timur ibu kota Phnom Penh.

Tetapi dia sudah terlalu tua dan tidak kuat lagi berjalan, jadi untuk menuju ke sana sangatlah sulit baginya.

LSM lokal di Kamboja, Cambodian Children’s Fund telah membantu kehidupan Bun sejak 2004.

Melihat keinginan Bun yang begitu kuat untuk pergi ke kampung halamannya, membuat LSM ini akhirnya merencanakan perjalanan ke sana.

Saat itulah mereka menemukan kakak perempuan Bun dan adik laki-lakinya masih hidup dan tinggal di desa itu.

Setelah hampir setengah abad, Bun Sen bisa bertemu kembali dengan kakak perempuannya, Bun Chea (101), dan adik laki-lakinya minggu lalu.

“Saya meninggalkan desa sejak lama, dan tidak pernah kembali.”

“Saya selalu berpikir saudara saya sudah meninggal,” kata Bun Sen.

Bertemu dengan kedua saudaranya membuat tangis Bun Sen pecah.

“Bisa memegang tangan kakak perempuanku sangatlah berarti.”

“Pertama kali adik laki-lakiku menyentuh tanganku, aku mulai menangis,” ujarnya.

Suami Bun Chea suaminya juga dibunuh saat kepemimpinan Khmer Rouge.

Dia menjanda dan harus menghidupi 12 anak.

Bun Chea juga meyakini adik perempuannya ini sudah lama meninggal.

“Kami memiliki 13 kerabat yang terbunuh oleh Pol Pot, dan kami berpikir dia juga sudah melakukannya (pada Bun Sen). Sudah lama sekali,” kata Chea.

Sekarang tiga kakak beradik itu menebus waktu perpisahan mereka.

Minggu ini, ketiganya melakukan tur ke Phnom Penh bersama.

“Kami membicarakannya (Bun Sen),” kata Chea.

“Tapi aku tidak pernah mengira kami (Chea dan adik laki-lakinya) akan melihatnya kembali,” tambahnya. (Uli)

INDOLINEAR.TV