Haji Endang Sultan Karawang Pernah Bekerja Bersihkan Toilet Dan Bawa Truk Pasir

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 11 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Haji Endang dikenal sebagai sosok tajir dan kerap tampil sederhana. Saking kayanya, ia bahkan memiliki julukan Bos Jembatan Perahu, serta Sultan Karawang, Jawa Barat. Diketahui, omzet fantastisnya sehari mencapai Rp25 juta.

Kendati demikian, siapa sangka Haji Endang sempat mengalami getirnya kehidupan. Ia telah menjajaki banyak karier, dari sopir, tukang bersih toilet, berjualan ubi, dan banyak lagi. Perjalanan panjang sampai ia berhasil menjadi sosok kreatif dan inspiratif seperti saat ini.

Lantas bagaimana lika-liku kehidupan sang Sultan Karawang di masa lalu? Simak kisah inspiratifnya berikut ini, seperti yang dilansir dari Merdeka.com (09/05/2022).

Pengalaman unik yang dibagikan oleh Haji Endang semasa dirinya masih menjadi seorang sopir truk. Ia mengaku mengantarkan banyak barang, serta beragam jenis kendaraan pernah dikendarainya.

“Awal nikah. Sopir macam-macam, ada bawa (mikro bus) tiga perempat, ada bawa colt diesel, tronton, macam-macam,” ceritanya.

Salah satu momen tak terlupakan kala Haji Endang menjadi sopir truk pasir. Sang istri dan kedua buah hatinya turut menemani selama perjalanan antar kota.

“Waktu itu saya kerja sopir. Saya pernah bawa (sopir) truk pasir tronton dari Cirebon ke Cikampek saja, istri di bekalang jok sama anak dua, ikut,” kata Haji Endang.

Kerja di Pabrik Bersihkan Toilet

Selain menjadi sopir truk, rupanya bapak tajir ini juga pernah menjadi seorang tukang pembersih toilet di salah satu perusahaan.

Sekira dua tahun berlalu Haji Endang menjadi tukang bersih-bersih di pabrik. Dari situ, ia mencoba peruntunga dengan menjadi pedagang kecil-kecilan. Cukup panjang perjalanannya beralih profesi sekian kali. Sampai tercetus membuat jembatan perahunya kini.

“Saya pernah kerja juga di pabrik, bagian office boy. Cuma dulu saya bukan office boy katanya house keeping yang bersihin toilet. Sudah saya jalanin itu dua tahun lebih di Karawang,” papar Haji Endang.

Jembatan perahu milik Haji Endang dibangun sejak 2010. Bahkan mengalami banyak tahapan dan sekian kali gagal. Jembatan tersebut menggabungkan antara Desa Parung Mulya dengan Desa Anggadita, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Menjadi jalan alternatif bagi masyarakat, berada di balik jalan Tol Citarum penghubung Jakarta-Bandung. Digemari karena bisa menghemat waktu perjalanan sekira 20-30 menit.

Lantaran banyak yang mengandalkan jembatan perahu milik Haji Endang, bisnisnya kian melejit. Setiap orang yang lewat akan membayar jasa untuk satu motor dibanderol Rp2.000 dan pejalan kaki Rp1.000. Omzetnya sehari pun mencapai sekira Rp25 juta.

“Ya kalau Rp25 juta setiap hari kerja, kalau Sabtu Minggu berkurang. Paling 60 persen, jadi cuma sekitar 40 persen. Banyak biaya tak terduga, kalau servis satu perahu bisa Rp20 juta,” terang Haji Endang.

Sultan Karawang Tetap Pakai HP Jadul

Sejak lama Haji Endang kerap tampil sederhana. Meski telah menjadi seorang yang tajir melintir.

Meski kini jadi orang kaya, tak membuatnya tergiur akan perkembangan zaman. Bahkan, untuk handphone Haji Endang tetap setia mempertahankan yang lama.

“Sudah lama ini HP-nya. Alhamdulillah sudah cukup bisa SMS dan telepon. Kalau ini (HP) kuat kalau jatuh juga,” ungkap Endang kepada merdeka.com.

HP Zaman Sekarang Dinilai Mahal

Tak kalah mengejutkan, meski memiliki penghasilan melimpah, Haji Endang masih saja menganggap bahwa HP atau smartphone zaman sekarang itu terlampau mahal harganya.

Saat merdeka.com bertemu. Haji Endang terlihat beberapa kali membalas pesan pendek. Bahkan merek yang tertulis di punggung HP, telah memudar termakan usia.

“Mahal yang sekarang mah, ini saja sudah cocok dipakainya,” ujar Haji Endang. (Uli)