Gunakan Hak Konstitusi dan Jangan Kita Begaduh di Tangsel

FOTO: net/indolinear.com
Kamis, 10 Desember 2015
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Pilkada Kota Tangerang Selatan (Tangsel) 9 Desember kemarin, sudah usai. Perhitungan cepat menempatkan pasangan nomor urut 3, Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie unggul dari dua pesaingnya, Nomor urut 2 H Arsid-Elvier dan nomor urut 1, Iksan Modjo-Li Claudia. Pasangan nomor urut 3, berdasar hitung cepat mengantongi suara 60 persen, lalu nomor urut 2 sekitar 30 persen dan nomor urut satu sekitar 9 persen.

Kemenangan ini tentunya harus disepakati sebagai kemenangan seluruh warga Tangsel. Selepas 9 Desember, idealnya semua warga Tangsel kembali bersatu dan tidak saling menghujat, menghakimi bahkan berbuat anarkis. Apalagi, secara keseluruhan Pilkada serentak yang dilakukan di Indonesia dan Tangsel didalamnya, berjalan kondusif. Tidak ada aksi bakar membakar, tidak ada aksi tawuran atau aksi jenis lain yang merugikan kita sebagai bangsa dengan label: Negara Demokrasi.

Warga Tangsel, usai Pilkada 9 Desember kemarin, harusnya kita kembali bersatu padu. Kita kembali lagi menjalankan segala aktifitas. Pekerja kembali bekerja, guru kembali mengajar, kontraktor kembali mengerjakan proyek, mahasiswa kembali belajar, aktivis kembali menjalankan fungsinya, LSM kembali melakukan tugasnya dan semua warga yang lain kembali kepada pekerjaan utama.

Bersatu padunya warga Tangsel yang dimaksud bukan juga semata harus menjadi dan ikut arus dalam konteks hasil demokrasi di Kota Tangsel. Tetap harus ada penyeimbang. Tetap harus ada kritisi dari mahasiswa, akademisi, aktivis, LSM dan warga. Harus ada pengkaji regulasi yang di buat Pemkot Tangsel. Harus ada pengawasan yang ketat terkait dengan penggunaan APBD dan turunannya. Kenapa itu harus ada dan harus dilakukan? Karena demokrasi sebagai sistem yang kita percaya, membuka ruang sebesar-besarnya, dalam berbeda pendapat. Namun, tetap menjaga marwah demokrasi dengan menempatkan perbedaan tersebut pada alurnya.

Kembali lagi pada hasil pesta demokrasi Pilkada Tangsel yang digelas 9 Desember kemarin. Pasangan nomor urut 1 dan 2 menyatakan akan melakukan gugatan. Konferensi pers pun sudah di gelar dengan menghadirkan wartawan cetak, online, radio dan tv. Bahkan pukul 15.30 pada Kamis 10 Desember 2015, melalui siara televisi, konferensi pers tersebut sudah ditayangkan dan ditonton seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak hanya di Kota Tangsel.

Apakah gugatan itu salah? Tidak!! Itu bagian dari demokrasi. Itu juga hak hakiki yang dimiliki pasangan calon yang merasa menemukan kecurangan, yang berakibat pada hilangnya hak kandidat untuk menang. Konstitusi jelas mengatur bahwa ada ruang untuk melayangkan gugatan atas dugaan kecurangan.

Hanya saja, idealnya gugatan atau hak konstitusi yang digunakan oleh pasangan calon dan tim yang dibentuk, diharap tidak memantik perselisihan hingga ke akar rumput. Jangan menjadi dan malah menyulut caos antar massa calon yang dinyatakan kalah dan massa calon yang menang.

Pasangan yang menggunakan hak konstitusi untuk menggugat, mari kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya untuk dipaparkan dan dijelaskan dihadapan penegak hukum. Gunakan saluran penjelasan, melalui media massa atau komunikasi efektif lainnya, agar warga Tangsel memahami dengan jelas apa yang terjadi dan dimana unsur kecurangan yang dianggap merugikan.

Bagi yang digugat, diharapkan juga jangan mengarahkan massa untuk melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada anarkisme dan kegaduhan di Tangsel. Idealnya, lebih baik fokus pada bukti-bukti untuk meng-counter gugatan yang dilayangkan oleh pasangan calon lain. Bahkan bila perlu, gunakan juga hak untuk menggugat apabila memang ada unsur kecurangan yang dirasakan oleh pasangan calon pemenang. Namun lagi-lagi, mari gunakan saluran yang sesuai dengan aturan hukum di Indonesia.

Penutup, usai Pilkada Tangsel, jangan kita korbankan nasib warga Tangsel dikegaduhan yang tidak berujung dan malah mengarah pada ketidakmapanan berdemokrasi. Mari gunakan hak konstitusi masing-masing dengan cerdas. Sehingga, warga Tangsel juga dapat dengan cerdas memahami alur demorasi yang berjalan.

Sukses untuk semua pasangan calon dan sekali lagi, Usai Pilkada Tangsel, Jangan Dong Kita Begaduh.

 

Penulis :

King Hendro Arifin, S.Sos.

Pimred www.indolinear.com

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: