Greenwich Mean Time (GMT) Dijadikan Standar Waktu Dunia

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 17 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Washington – Ahli geografi dan astronomi menetapkan Royal Observatorium di Greenwich sebagai Prime Meridian (Garis Bujur Utama) dan menjadi standar waktu dunia pada 13 Oktober 1884.

Greenwich adalah sebuah kota di Inggris dan dilewati oleh garis bujur nol derajat yang menghubungkan Kutub Utara dengan Kutub Selatan.

Penetapan ini dilakukan setelah International Meridian Conference digelar di Washington dan dihadiri perwakilan dari 25 negara.

Dalam konferensi itu, semua garis bujur di timur dan barat akan dihitung dari Greenwich (nol derajat) sampai 180 derajat.

Sebanyak 22 negara setuju dengan penetapan ini, dan hanya ada ada satu negara yang menolak, yakni San Domingo. Dua lainnya memutuskan abstain, dilansir dari Tribunnews.com (15/10/2020).

Sekilas garis bujur

Garis bujur adalah garis khayal atau imajiner membelah Bumi dari Kutub Utara ke Kutub Selatan.

Garis ini berkaitan dengan fenomena matahari terbit dan tenggelam yang menyebabkan adanya perbedaan waktu berbagai tempat di Bumi.

Secara teknis, garis bujur nol derajat (prime meridian) bisa berada di mana saja dan tidak fenomena alam yang menandainya.

Sistem garis bujur dan lintang, tercatat pertama kali, disarankan pertama kali oleh matematikawan dan astronom Yunani bernama Erastosthenes pada abad ke-3 SM.

Sistem ini kemudian dikembangkan oleh pemikir Yunani lainnya, yakni Hipparchus dan Ptolemy.

Garis bujur dan lintang mempunyai peran penting dalam pelayaran dan navigasi.

Inggris dan standar waktu

Inggris sudah menggunakan Royal Observatory di Greenwich sebagai Prime Meridian sejak tahun 1721.

Observatorium ini didirikan pada tahun 1675 dan sangat berpengaruh pada dunia astronomi dan kartografi.

Dibangun di atas reruntuhan kastil Greenwich, Royal Observatorium adalah lembaga ilmu pengetahuan pertama yang didanai pemerintah Inggris.

Astronom Inggris John Flamsteed mengeluarkan konsep “mean time” atau waktu yang dihitung dengan gerakan rata-rata matahari atau panjang rata-rata Hari Matahari.

Ketelitian waktu semakin penting di lautan sejak Nautical Almanac yang menggunakan Greenwich Mean Time dikenalkan.

Sementara itu, di daratan, kota-kota masih menggunakan standar waktunya sendiri sampai pertengahan abad ke-19.

Namun, meluasnya jalur kereta api di Inggris dan dunia membuat kebutuhan akan waktu standar diserukan.

GMT kemudian diberlakukan sebagai “waktu kereta api” pada tahun 1847 dan Master Clock dipasang di Greenwich lima tahun kemudian.

GMT dijadikan standar

Abad ke-19 menjadi era standardisasi. Ada banyak jalur kereta yang menghubungkan berbagai tempat dalam satu benua.

Perluas jalur kereta ini membuat negara-negara mengganti standar waktu lokal yang berjumlah ratusan, bahkan ribuan, menjadi sistem zona waktu jam-an.

Amerika Serikat mulai memberlakukan zona waktu pada tahun 1883.

Namun, banyak negara yang belum menjadikan GMT sebagai standar waktu.

Beberapa tempat seperti Jerusalem, St. Petersburg, Roma, Pisa, Paris, Washington dll. dijadikan Prime Meridian dengan alasan tertentu.

Bahkan, banyak batas negara bagian di AS ditentukan dengan Washington Meridian.

Karena adanya ketidaksamaan standar waktu, Presiden AS memutuskan menggelar Internasional Meridian Conference di Washington pada Oktober 1884.

Inggris dan AS sebagai kekuatan besar dunia sudah mengadopsi GMT sehingga GMT diajukan sebagai Prime Meridian.

Semua garis bujur di timur dan barat akan dihitung dari Greenwich (nol derajat) sampai 180 derajat.

Ada 41 perwakilan dari 25 negara yang ikut dalam konferensi ini.

Sebanyak 22 negara setuju dengan penetapan ini, dan hanya ada ada satu negara yang menolak, yakni San Domingo.

Dua lainnya, Prancis dan Brazil, memutuskan abstain.

GMT akhirnya ditetapkan standar waktu dunia pada 13 Oktober 1884. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: