Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Diminta Mendorong Terciptanya UMKM

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 7 Juni 2019

Indolinear.com, Jakarta – Pemerintah perlu mendorong terciptanya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi, selain meningkatkan ekspor dan investasi.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan, sejak 1990, struktur perekonomian dalam negeri selalu didominasi oleh konsumsi rumah tangga, yang saat ini pertumbuhannya sulit didorong lebih tinggi lagi.

Menurutnya, sejak 2001, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menopang perekonomian nasional, selalu di bawah 6 persen.

“Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi konsumsi pemerintah terhadap perekonomian terbatas di kisaran 9 persenan dan ini tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” kata Arif di Jakarta, dilansir dari Tribunnews.com (06/06/2019).

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, sebanyak 98,7 persen usaha di Indonesia merupakan usaha mikro, yang menyerap 89,17 persen tenaga kerja domestik serta berkontribusi sebanyak 36,82 persen terhadap PDB Indonesia.

“UMKM sangat potensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Kebijakan disertai dengan eksekusi yang baik di sektor ini tentunya dibutuhkan sehingga hal ini bisa terwujud,” papar Arif.

Menurutnya, langkah yang harus diambil untuk mewujudkan hal tersebut mendorong program UMKM tumbuh dan naik kelas secara intensif untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Oleh karena itu, meningkatkan peran UMKM dalam aktivitas ekspor dan investasi, baik melalui insentif fiskal maupun moneter wajib dilakukan. Investasi juga dapat diarahkan kepada UMKM, terutama UMKM yang berorientasi ekspor.

“Peningkatan ekspor dan investasi harus tetap dilakukan, sejalan dengan penguatan UMKM. Hal ini juga sesuai dengan mandat Presiden Joko Widodo yang mengatakan kunci pertumbuhan ekonomi saat ini hanya ada dua, yakni kenaikan ekspor dan investasi,” tutur Arif. (Uli)