Generasi Milenial Mengeluhkan Gaji Yang Tak Sebesar Biaya Hidup

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Rabu, 28 Agustus 2019
Unik | Uploader Yanti Romauli

Indolinear.com, Malaysia – Bagi generasi milenial, bukan rahasia lagi bahwa gaji fresh graduate kadang tak bisa mencukupi biaya hidup. Ada kesenjangan besar antara biaya hidup jika dibandingkan dengan gaji standar.

Seperti yang dikeluhkan seorang warganet asal Malaysia yang dimuat oleh World of Buzz berikut ini. Sebagaimana dikutip dari Dream.co.id (27/08/2019), warganet dengan akun Twitter @InjangNation mencuit bahwa generasi milenial di sana mengalami kesenjangan besar antara biaya hidup dengan gaji standar.

Menurut dia, 19 tahun yang lalu, harga nasi goreng sekitar satu hingga dua ringgit (Rp3.414-Rp6.829), sementara gajinya sebesar 1.500 hingga 2.000 ringgit (Rp5,13 juta—Rp6,83 juta).

“ Sekarang sepiring nasi goreng sekitar 5 ringgit—6 ringgit (Rp17.073—Rp20.487). Gaji yang berkisar antara 5 ribu hingga 6.500 ringgit (Rp17,07 juta—Rp22,19 juta), kan?” cuit Si Injang.

“ Saya tak tahu apakah hanya buruk dalam matematika, tapi sepertinya biaya hidup meningkat, sementara kisaran gaji yang mengikuti standar yang lebih tua,” cuit di lagi.

Dianggap Pemalas?

Si Injang juga menyoroti pandangan masyarakat terhadap generasi milenial. Bagi masyarakat, generasi ini dinilai malas dan buruk, terutama bagi generasi yang lebih tua.

Warganet ini juga menunjukkan bagaimana kesenjangan ekonoi untuk menemukan cara menstabilkan status keuangan dengan mengambil pekerjaan sebagai pengantar makanan.

“ Kami bahkan tidak mampu membeli rumah meskipun generasi yang lalu membelikan masing-masing anaknya rumah, sementara yang satu menyewakan satu kepada kami,” cuit Si Injang.

Dengan kesenjangan ini, Si Injang mencuit, alih-alih bisa membeli rumah, generasi milenial juga kesulitan untuk menikah karena biaya pernikahannya tinggi.

“ Kami sering berpikir dua kali sebelum membentuk keluarga,” cuit dia,

Bahkan 3 Pekerjaan Tak Cukup

Si Injang mengatakan harga barang sepanjang 2019 semakin naik, tapi gaji tetap mengikuti aturan tahun 2000. Inilah yang membuat warganet kesal.

“ Bahkan kita mengambil 2-3 pekerjaan, tetap saja tak cukup untuk hidup,” cuit dia.

Lagipula, Si Injang mengatakan tak logis dengan gaji minimum 1.500 ringgit pada 2019. “ Ini tidak logis, tapi masih eksis. Ini kenyataan yang harus dihadapi bahwa kita harus menghadapi hidup,” kata dia.

Bantah Anggapan Pemalas

Si Injang juga menepis anggapan generasi Y merupakan pemalas. Dikatakan bahwa generasi Y bukan malas, melainkan tak punya gaji yang cukup untuk menghidupi kebutuhannya.

“ Aset (generasi terdahulu) bisa mencukupi 19 generasi sebelum habis. Gaji kami? Akan habis selama seminggu,” cuit dia.

Unggahan Si Injang menjadi viral dan telah dicuit sebanyak 19.100 kali. (Uli)