Garut, Dari Swiss van Java hingga Chaplin Van Dutchwife

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 21 Februari 2020

Indolinear.com, Jakarta – Bagi penduduk Jawa Barat, Kabupaten Garut dikenal karena keeksotisannya. Deretan pegunungan yang luas hingga hamparan persawahan yang terbentang membuat Garut dijuluki sebagai Swiss van Java atau Swissnya Pulau Jawa.

Kabupaten Garut memang memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak kalangan. Selain hawanya yang sejuk, Garut juga terkenal karena melimpahnya sumber air yang membuat kabupaten ini sempat dijuluki sebagai Paradijs van het Oosten (Surga dari Dunia Timur). Selain keindahan kota, Garut juga menyimpan berbagai fakta yang belum banyak diketahui oleh publik:

Dikelilingi Banyak Gunung

Selain terkenal dengan keadaan tanahnya yang subur, Garut juga memiliki mata air yang melimpah dan mengalir ke Sungai Cimanuk. Tak hanya itu, Kabupaten Garut juga dikenal sebagai wilayah dataran tinggi yang dikelilingi oleh banyak gunung.

Terdapat kurang lebih 6 gunung yang terlihat mengelilingi Garut, yaitu Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak.

Kata Garut Berasal dari Penyebutan Orang Belanda

Dilansir dari Merdeka.com (19/02/2020), Kabupaten Garut awalnya merupakan hasil dari pembubaran Kabupaten Limbangan oleh Hindia Belanda melalui kepemimpinan Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun drastis.

Pada tanggal 16 Februari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci (Suci merupakan kampung yang dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun).

Pada saat itu pemerintah membentuk tim untuk mencari lokasi yang tepat untuk wilayah baru tersebut. Tim tersebut lalu menemukan lokasi yang tepat berada 5 km sebelah barat Kampung Pidanyeuheun yang dipenuhi oleh semak belukar yang berduri. Para petugas yang melewati kawasan itu banyak yang terluka dan salah seorang pendamping dari Belanda menanyakan penyebab tangannya berdarah.

Petugas tersebut langsung menjawab dengan dialek berbahasa Sunda yaitu Kakarut. Ternyata kalimat tersebut sangat susah disebut oleh orang Belanda tersebut akhirnya menyebutnya dengan kata Gagarut.

Dikunjungi oleh Charlie Chaplin

Pada tahun 1932 (ada juga yang menyebut 1927) Kabupaten Garut dikunjungi oleh aktor dan pelawak legendaris abad 20 yaitu Charlie Chaplin. Dalam kegiatan berliburnya di negara tropis ini, Charlie menginap di salah satu hotel legendaris di Garut yang bernama Grand Hotel Ngamplang.

Ada kisah menarik dari kunjungan Chaplin ke wilayah Garut tersebut.

Disebutkan bahwa Charlie sangat terkesan dengan The Dutchwife (guling) yang Ia temukan di kamar hotel tempatnya menginap. Bahkan kisah itu tertuang dalam tulisan berjudul Charlie Chaplin dan Kenangan Guguling the Dutch Wife (1932).

“Di sinilah saya menemukan pengalaman pertama saya dengan Dutch wife, yang kalau Anda tinggal di daerah tropis untuk waktu yang lama, maka Anda akan mengetahui bahwa Anda sangat memerlukannya,” ujar Charlie dalam tulisan itu. (Uli)

INDOLINEAR.TV