Ganjar Pranowo Kisahkan Masa Lalunya, Orang Tua Jualan Bensin Eceran

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 26 Juli 2020

Indolinear.com, Jakarta – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menceritakan kisah masa lalunya yang penuh dengan perjuangan.

Meski sukses menjadi seorang Gubernur Jawa Tengah 2 periode, ternyata kehidupan masa lalu Ganjar tak semewah dan sesukses kehidupannya sekarang.

Kepada Anang Hermansyah dan Ashanty, Ganjar menceritakan, bahwa dirinya sebenarnya lahir dari keluarga yang miskin.

Ganjar merupakan anak kelima dari 6 bersaudara dari pasangan Pamuji dan almarhum Sri Suparmi.

“Orang tua saya miskin, anaknya 6, tahu nggak sih, berat kan ya? Saya anak nomor 5,” kata Ganjar, seperti dikutip dari Tribunnews.com (24/07/2020).

Ganjar menceritakan, semasa kecil hingga ia dan kakak-kakaknya lulus, kedua orang tuanya memiliki utang yang masih belum dibayar.

Utang-utang tersebut kemudian baru bisa dibayar setelah satu per satu saudara Ganjar lulus dan mulai bekerja.

“Kami keluarga miskin, utang bapak ibu saya itu mulai bisa dibayar, itu yang bayar anak-anaknya, itu setelah kami-kami mulai lulus,” ungkapnya.

Namun, gotong royong di keluarga Ganjar sangat kuat.

Hal itu dibuktikan dengan kakak-kakaknya yang sudah lulus akan membantu membiayai sekolah adik-adiknya.

Kemudian, setelah satu persatu mulai bekerja, Ganjar dan 5 saudaranya melakukan ‘arisan’.

“Kita lulus, kita mulai bekerja, kita arisan. Arisan bayar utang, ‘nanti besok kamu ya (giliran mambayar utang),” papar Ganjar.

Saat itu, untuk melunasi utang, Ganjar dan 5 saudaranya saling iuran uang senilai Rp 50 ribu.

“Iurannya saat itu mulai kita kerja-kerja awal giliran kami bertiga, kita iurannya Rp 50 ribu kirim ke ibu,” ucapnya.

Namun, setelah jenjang karier Ganjar dan 5 saudaranya semakin baik, mereka akhirnya memutuskan untuk melunasi utang orang tuanya yang masih tersisa.

“Tentu tidak Rp 50 ribu terus, kita jadi baik kerjanya, saya jadi anggota dewan waktu itu, masa Rp 50 ribu lagi, nggak lah. Kita rapat, kita lunasi utang keluarga,” paparnya.

Ganjar menegaskan, bahwa kesuksesannya saat ini didapat dari perjuangan hidup yang tidak mudah.

Bagaimana tidak, saat sedang menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Ganjar hampir tak bisa melanjutkan pendidikannya karena kekurangan biaya.

Namun, lantaran kakaknya sudah lulus dan mulai bekerja, akhirnya Ganjar bisa tetap melanjutkan pendidikannya hingga tamat.

“Prosesnya nggak gampang sih ya, kuliah juga terseok-seok, pernah mau putus (berhenti kuliah).”

“Tapi karena kakak saya lulus waktu itu bilang ‘kamu harus lulus, butuhnya apa’ terus ditolong,” ungkapnya.

Tak berhenti di situ, saat masih menempuh pendidikan sekolah menegah atas (SMA), Ganjar juga harus membantu orangtuanya kulakan bensin.

Dijelaskan Ganjar, untuk membiayai anak-anaknya sekolah, orangtuanya berjualan bensin eceran.

“Berat sih, saya SMA sudah kos di Jogja, kuliah di Jogja, pada saat itu orang tua karena nggak mampu jadi mereka membiayai anak-anaknya itu dengan jualan bensin eceran.”

“Jadi kalau saya pulang, suruh kulakan bensin. Dulu ya diejek, malu tapi hari ini orang tua kita jadi bangga banget rasanya (melihat Ganjar dan 5 saudaranya),” tandasnya. (Uli)