G-20 Menyetujui Pernyataan seputar Lingkungan Dan Kesulitan terhadap Perubahan Iklim

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 24 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menteri lingkungan dan energi dari Group of 20 (G-20) membuat sedikit kemajuan pada Kamis (22/7/2021) tentang bagaimana mencapai tujuan iklim, The Straits Times melaporkan.

Pertemuan G-20 di Naples, Italia mendiskusikan keanekaragaman hayati dan lingkungan alam pada hari Kamis, sementara energi dan perubahan iklim akan menjadi topik pertemuan hari Jumat.

Para utusan dari masing-masing negara telah berjuang selama berhari-hari untuk menemukan landasan bersama yang berarti pada kedua topik tersebut.

Italia, yang memegang kursi kepresidenan G-20 bergilir tahun ini, mengatakan pernyataan resmi lingkungan akhirnya disetujui dari semua 20 negara setelah “berminggu-minggu negosiasi dan dua hari sesi non-stop”.

Pernyataan itu akan diterbitkan kemudian menjelang konferensi pers oleh Menteri Transisi Ekologi Italia, Roberto Cingolani.

Pernyataan hari Jumat, yang secara langsung membahas komitmen perubahan iklim, kemungkinan akan lebih menantang.

Dalam pidatonya di G-20, yang dilihat oleh Reuters, Menteri Lingkungan Argentina, Juan Cabandie menyerukan “pertukaran utang” di mana sebagian dari utang negara-negara berkembang diampuni sehingga mereka dapat mendanai transisi ekologis mereka.

Pertemuan G-20 dipandang sebagai tahap perantara utama menjelang pembicaraan iklim global “COP26” yang akan diadakan di Glasgow pada bulan November mendatang.

Urgensi iklim telah menjadi topik bulan ini setelah banjir mematikan terjadi di Eropa, kebakaran di Amerika Serikat dan suhu yang terik di Siberia.

Tetapi negara-negara masih berselisih tentang bagaimana caranya menerapkan kebijakan yang membutuhkan biaya mahal untuk mengurangi pemanasan global.

“Sepertinya tidak akan ada komitmen sama sekali soal uang,” kata Oscar Soria dari kelompok aktivis online Avaaz yang berbasis di AS, dilansir dari Tribunnews.com (23/07/2021).

“Utara mengatakan kepada selatan ‘kita perlu melindungi lingkungan’ dan selatan mengatakan ‘kita butuh uang untuk itu’, dan kepresidenan Italia tidak terbukti sangat baik untuk membuat semua orang berada di posisi yang sama,” katanya.

Negara-negara maju sepakat di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2009 untuk bersama-sama menyumbangkan US$100 miliar setiap tahun pada tahun 2020 dalam pembiayaan iklim ke negara-negara miskin.

Banyak di antaranya bergulat dengan naiknya air laut, badai dan kekeringan yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Namun, target itu masih belum terpenuhi.

“Komitmen pembiayaan yang dibuat oleh negara-negara maju belum terpenuhi, mempengaruhi kepercayaan antar pihak,” kata Cabandie.

Jika tidak ada kemajuan di menit-menit terakhir, sepertinya pertemuan G-20 di Naples tidak akan mengacu pada US$100 miliar atau membuat komitmen keuangan perusahaan lainnya.

Sekilas tentang G-20

– Apa itu G-20?

G-20 merupakan forum antar pemerintah yang terdiri dari 19 negara dan Uni Eropa.

Group of 20, juga disebut G-20, adalah sekelompok menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 19 ekonomi terbesar dunia, termasuk banyak negara berkembang, bersama dengan Uni Eropa.

G-20 bekerja untuk mengatasi masalah utama yang terkait dengan ekonomi global, seperti stabilitas keuangan internasional, mitigasi perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.

– Apa Tujuan G-20?

Tujuan G20 mengacu pada:

– Koordinasi kebijakan antar anggotanya dalam rangka mencapai stabilitas ekonomi global, pertumbuhan berkelanjutan;

– Mempromosikan peraturan keuangan yang mengurangi risiko dan mencegah krisis keuangan di masa depan;

– Modernisasi arsitektur keuangan internasional.

– Siapa Saja Negara Anggota G-20?

Anggota G20 adalah: Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

– Apa Bedanya dengan G-7?

Group of Seven atau G7 umumnya berkaitan dengan politik.

Setelah guncangan minyak pertama tahun 1970-an, ekonomi di seluruh dunia menderita, dan para pemimpin global ingin melakukan sesuatu tentang hal itu.

Jadi, sekelompok pejabat pemerintah dari negara-negara kaya memutuskan untuk bertemu dan mencari solusinya.

Sementara itu, G-20 umumnya berfokus soal uang.

Anggotanya mewakili 85 persen dari output ekonomi global, dan sedikit kurang eksklusif dibandingkan G-7. (Uli)