Foto Permukaan Asteroid Ryugu Diabadikan Oleh Hayabusa2 Milik Jepang

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 27 November 2019

Indolinear.com, Tokyo – Rabu, 10 Juli 2019, probe atau roket riset Hayabusa2 buatan badan antariksa Jepang, JAXA, mendarat dengan sukses untuk kali kedua di asteroid Ryugu, setelah bersembunyi di sisi teraman batuan antariksa ini.

Hayabusa2 kembali menginjakkan kakinya di permukaan Ryugu pada 21.06 Eastern Time (ET) atau 19.00 WIB, dilansir dari Liputan6.com (26/11/2019).

Japan Aero Space Agency (JAXA) pertama meluncurkan Hayabusa2 ke antariksa pada Desember 2014, sedangkan ia berada di posisi terdekat Ryugu pada Juni 2018, kemudian langsung mengobservasi, mengukur gravitasi asteroid, dan bersiap mendarat.

Misi utamanya yaitu mengeksplorasi dan mengumpulkan sampel batu dan debu dari Ryugu, sebuah asteroid purba yang diameternya mencapai setengah mil, mengorbit matahari pada jarak 131 juta mil (211 juta kilometer).

Usai semua pengamatan selesai dilakukan, Hayabusa2 mulai menjatuhkan sebuah bahan peledak tembaga, juga dikenal sebagai Small Carry-on Inspector (SCI) yang bentuknya seperti bola tenis, di asteroid Ryugu pada hari Jumat, 5 April 2019.

Hayabusa2 melepaskan SCI sekitar 500 meter (1.640 kaki) di atas permukaan Ryugu sekitar pukul 11.13 waktu Jepang atau 09.13 WIB, kata JAXA dalam akun Twitter-nya. Tujuan peledakan tersebut adalah untuk melubangi batu, membuat kawah buatan di Ryugu dan meneliti material di bawah permukaan.

Lempengan tembaga tersebut membantingkan dirinya ke Ryugu dengan kecepatan 2 km (1,2 mil) per detik, dengan maksud agar bisa menciptakan lubang selebar 10 meter (32,8 kaki) di tubuh asteroid, BBC melaporkan.

Misi kala itu sangat berisiko bagi Hayabusa2, sebab satelit buatan ini harus segera beranjak dari dekat Ryugu untuk kemudian bersembunyi di sisi lain asteroid, demi melindungi dirinya dari puing-puing ledakan yang berterbangan di antariksa.

Bulan ini, Hayabusa2 kembali menorehkan sejarah, dengan mendarat lagi di Ryugu. Ia mengambil sampel kedua dari asteroid ini, yaitu puing-puing bekas ledakkan SCI dan tanah.

Wahana antariksa Jepang tersebut kemudian mengabadikan sejumlah gambar permukaan Ryugu sebelum meninggalkannya.

“Foto pertama diambil pada 10.06.32 Japan Standart Time (atau 08.06.32 WIB) dan Anda dapat melihat kerikil melayang ke atas. Potret kedua diambil pada 10.08.53 (08.08.53 WIB) di wilayah yang lebih gelap di dekat pusat tempat pendaratan,” tulis JAXA melalui Twitter.

Kembali ke Bumi

Asteroid terbentuk dari batu dan logam, bentuknya unik, mulai dari ukuran kerikil hingga 600 mil megalit. Sebagian besar asteroid berkelana di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter, meskipun orbit Ryugu terkadang membawanya antara Mars dan Bumi.

Beberapa asteroid berasal dari fajar tata surya kita, 4,5 miliar tahun yang lalu, ketika sisa-sisa material dari pembentukan planet-planet menyatu ke dalam bongkahan batu ini.

Dalam arti lain, asteroid dapat berfungsi sebagai kapsul waktu: apa yang para ilmuwan temukan di bebatuan primitif itu dapat memberi tahu mereka tentang sejarah tata surya.

Ryugu adalah asteroid tipe C atau asteroid yang kaya akan molekul karbon organik, air, dan kemungkinan asam amino. Asam amino membentuk blok untuk protein dan sangat penting untuk evolusi kehidupan di Bumi.

Beberapa teori berpendapat bahwa asteroid pertama kali membawa asam amino ke planet kita, memberi ‘hadiah’ kepada Bumi dengan benih kehidupan, meskipun opini itu masih diperdebatkan.

Sekitar tiga perempat asteroid di tata surya kita adalah tipe C dan Hayabusa2 bertujuan untuk menjadi misi pertama yang membawa sampel asteroid kembali ke Bumi.

Sesungguhnya, probe tersebut sudah mendarat di Ryugu pada Februari 2019 dan mengumpulkan sampel dangkal dari bawah permukaan Ryugu, tetapi manajer misi di JAXA memutuskan untuk mengumpulkan beberapa sampel batuan yang lebih dalam juga, karena material itu belum terkena pelapukan keras dari angkasa luar.

Untuk mencapai target itu, wahana harus menyingkir sesaat dari asteroid, lalu meledakkan kawah sedalam 10 meter untuk mengakses batu di bawahnya. Inilah yang dilakukan JAXA pada April kemarin.

“Gambar-gambar ini diambil sebelum dan sesudah pendaratan, oleh kamera monitor kecil (CAM-H). Yang pertama adalah 4 detik sebelum mendarat, yang kedua adalah saat pendaratan itu sendiri dan yang ketiga adalah 4 detik setelah pendaratan. Pada gambar ketiga, Anda dapat lihat jumlah batu yang naik,” tweet JAXA.

Setelah mendarat, Hayabusa2 kemudian mengumpulkan set sampel baru dan meninggalkan permukaan Ryugu. Pada akhir tahun ini, pesawat tersebut akan memulai perjalanan pulang sejauh 5,5 juta mil (9 juta kilometer). Sejauh ini, semuanya sesuai rencana.

Serupa Dengan NASA

NASA juga mempelajari asteroid. Misi OSIRIS-REx dari agensi itu mencapai asteroid tipe C yang lebih kecil, Bennu, pada Agustus 2018. Tetapi wahana tersebut tidak mendarat di permukaan Bennu, alih-alih mengorbit pada jarak yang sangat dekat.

Rencana selanjutnya adalah OSIRIS-REx bakal mendekati permukaan Bennu pada Juli 2020, tetapi pesawat ruang angkasa tersebut hanya akan melakukan kontak selama sekitar lima detik.

Selama misi instan ini, OSIRIS-REx akan meniup gas nitrogen untuk mengaduk debu dan kerikil, kemudian mengumpulkan sampel dari Bennu. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, OSIRIS-REx akan mengembalikan materi itu ke Bumi pada tahun 2023.

Permukaan asteroid ternyata lebih kasar dari yang diperkirakan, dan puing-puing yang terbang dari batu ruang angkasa itu dapat menimbulkan ancaman bagi pesawat yang mengorbit di sekelilingnya. Jadi, NASA masih memilih lokasi pengambilan sampelnya.

Tetapi Bennu telah membuat temuan yang signifikan. Pada Desember 2018, sebelum memasuki orbit di sekitar Bennu, probe NASA tersebut menemukan bahwa asteroid menyimpan bahan-bahan pembentuk air (atom oksigen dan hidrogen yang terikat bersama).

Meskipun Bennu terlalu kecil untuk menampung air cair, mungkin saja air pernah ada di asteroid induknya, yang dipecah oleh Bennu antara 700 juta hingga 2 miliar tahun lalu.

Meskipun misi eksplorasi asteroid NASA bertujuan untuk mengumpulkan jumlah sampel material yang lebih besar daripada Jepang, tim JAXA berharap bahwa membandingkan sampel dari dua situs berbeda di asteroid yang sama akan menghasilkan informasi baru tentang paparan jangka panjang antariksa yang mampu mengubah asteroid dari waktu ke waktu.

Baik Bennu dan Ryugu juga bisa memberikan bukti tentang sejarah tata surya dan potensi — jika mengandung bahan organik — tentang asal usul kehidupan di Bumi. (Uli)

INDOLINEAR.TV