Foto Bintang Meledak Terekam Teleskop Hubble, Berpendar Seperti Matahari

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 10 November 2019

Indolinear.com, California – 13,8 miliar tahun sejak alam semesta terbentuk, para peneliti NASA mengklaim telah menemukan sistem bintang jauh yang meledak dalam cahaya merah, putih dan biru bak kembang api, kira-kira 5 juta kali lebih terang daripada matahari Bumi.

Dalam foto ultraviolet baru yang diambil oleh Hubble Space Telescope pada 1 Juli 2019, bintang kembar tersebut tengah meledak dari sistem bintang raksasa bernama Eta Carinae. Demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (09/11/2019).

Terletak sekitar 7.500 tahun cahaya dari Bumi, Eta Carinae sebenarnya terdiri dari sepasang bintang, satu kira-kira berbobot 50 kali massa matahari dan yang lainnya 250 kali lebih besar. Mereka telah menggelembung selama sekitar 170 tahun.

Letusan gas dan debu yang epik ini dimulai pada sekitar tahun 1837, ketika para astronom memperhatikan bahwa Eta Carinae telah tumbuh secara signifikan lebih terang dalam semalam.

Peristiwa ini adalah awal dari periode 18 tahun yang dikenal sebagai Great Eruption atau Letusan Hebat, di mana Eta Carinae segera menjadi salah satu objek paling terang di langit.

Para astronom masih belum tahu apa yang memicu kembang api tersebut, namunsatu teori yang meyakinkan: Eta Carinae dimulai sebagai sistem bintang tiga, tetapi bintang terbesar dari kelompok itu menelan salah satu di antaranya dan mendesak yang ketiga ke angkasa luar.

Tetapi berkat pengamatan Hubble, para ilmuwan tahu materi pembuat gas itu: gas nitrogen panas bergesekan menjauh dari inti kembar nebula.

Ketika seharusnya ada ruang kosong yang menandakan akhir Erupsi Besar, cincin biru magnesium hangat justru melesat ke ruang yang berada dekat di belakang nitrogen.

Akan Meledak Lagi

Cincin magnesium yang luas itu terdeteksi untuk pertama kalinya dalam pengamatan Hubble terbaru, tentang nebula jauh. Kehadirannya yang tak terduga mengungkapkan bahwa Letusan Hebat mungkin lebih besar daripada yang diyakini sebelumnya, kata Nathan Smith, seorang astronom di Steward Observatory di University of Arizona.

Mempelajari puing-puing gas yang dikeluarkan oleh Eta Carinae akan memberi para astronom gagasan yang lebih baik tentang seperti apa Letusan Hebat itu, bahkan mungkin mengisyaratkan apa yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi.

Seiring berjalannya waktu, Eta Carinae mungkin akan meletus kembali dalam jutaan tahun ke depan. Kali ini, dalam ledakan supernova yang menghancurkan. (Uli)

INDOLINEAR.TV