Film Dokumenter Perang Jepang Di Indonesia Akan Diputar Di Jakarta Tahun Depan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 17 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Tokyo – Film dokumenter peperangan Jepang di Indonesia tahun 1945, akan ditayangkan di Jakarta tahun depan dan diharapkan memberikan gambaran keadaan sebenarnya mengenai saat itu kepada masyarakat Indonesia nantinya.

“Rencana kami memang setelah corona ini menyurut, tahun depan kita coba tayangkan film dokumenter “Ima ha Mukashi” (Saat ini adalah Masa Lampau) di Jakarta. Film dibuat apa adanya kenyataan saat perang dulu, sehingga masyarakat Indonesia bisa melihat sendiri situasi kondisi saat itu,” papar Produser dan Sutradara Shin-ichi Ise (72) anak ketiga (terkecil) dari Chonosuke Ise (1912-1974) yang dilansir dari Tribunnews.com (15/10/2021).

Sebanyak 130 rol film yang dibuat Chonosuke telah ditemukan di arsip film Belanda di Den Haag, di antaranya 80 film dokumenter dan sisanya film pemberitaan saat perang Jepang di Indonesia.

“Belanda menyimpan semua rol film itu dengan sangat baik. Saya sangat terharu melihat karya ayah saya tersebut saat ke Den Haag Belanda,” paparnya lagi.

Penemuan itu juga direkam ke dalam filmnya “Ima ha Mukashi” termasuk diskusinya dengan pihak Museum Film Den Haag tersebut.

Selain itu juga memasukkan diskusinya, curhat wanita lansia Indonesia yang pernah merasakan penjajahan Jepang di Indonesia. Disajikan apa adanya tanpa sensor apa pun oleh Ise.

“Memang sakit dan menderita rasanya kalau mengalami keadaan perang. Itu bisa kita pakai untuk merenungkan diri bersama, agar tidak sampai terjadi perang di masa mendatang karena akan merugikan semu apihak adanya perang itu.”

Ise juga berniat untuk melihat sendiri sungai Bengawang Solo di Solo yang dimasukkan lagunya ke dalam film tersebut dan mengakhiri film itu dengan diiringi lagu Bengawan Solo.

Ayah Shinichi, Chonotsuke ke Indonesia selama 3 tahun  dengan tugas membuat film propaganda  yang memuji Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya di Jepang.

Saat itu filmnya dipusatkan di Nippon Eigasha di Jakarta yang saat ini lokasi itu digunakan Produksi Film Negara (PFN).

Selama 30 tahun filmnya dibuat Shinichi akhirnya selesai Juni 2021 dan ditayangkan mulai Shinjuku Tokyo, Nagoya, Osaka, Kyoto, saat ini di Tabata Tokyo dan mulai Sabtu (16/10/2021) sampai dengan 29 Oktober ditayangkan di bioskop Jack & Betty Yokohama.

“Tahun depan saya mau ke Jakarta dan kita tayangkan di sana. Sekaligus saya juga melihat langsung sunga Bengawan Solo yang terkenal itu kalau memungkinkan,” tambahnya.

Saat pemutaran film di Shinjuku cukup banyak orang Indonesia khususnya pemagang yang menonton filmnya.

“Kaget juga saya melihat banyak pemagang Indonesia yang menonton saat dtayangkan di Shinjuku. Dan lebih menarik lagi mereka mengatakan ke saya jadi ingin segera pulang kangen sama Indonesia. Tetapi tak bisa pulang karena adanya pandemi corona saat ini,” ungkap Ise lagi.

Bagi negara lain menurutnya lagi, mungkin keadaan perang dunia disampaikan apa adanya.

“Namun bagi Jepang ada banyak orang Jepang  yang belum tahu keadaan sebenarnya saat perang dunia kedua lampau. Namun belum lama ini mereka menjadi lebih terbuka dan belajar mencari tahu sendiri bagfaimana keadaan sebenarnya saat perang Jepang di luar negeri saat itu. Memang menyakitkan ternyata, saya bisa merasakannya sendiri setelah melihat film-film dokumenter tersebut dan langsung berdialog dengan para pelaku di Indonesia 20 tahun lalu saat saya ke Indonesia.”

Di masa lalu sampai dengan sekitar 30 tahun lalu, buku pelajar Jepang bagi pelajar SD SMP SMA tampaknya memang masih seolah taboo tidak menampilkan wajah sebenarnya perang dunia tentara Jepang di luar negeri.

Namun setelah itu semuanya direvisi oleh kementerian pendidikan Jepang, dibuka dengan melihat sejarah realitas yang ada dan materi  dimasukkan ke dalam buku-buku pelajaran SD SMP SMA di Jepang sehingga anak muda Jepang dapat mengetahuinya lebih lanjut keadaan yang sebenarnya saat itu.

“Jadi sebenarnya tidaklah heran kalau ada kelompok yang mengatakan setelah masuk ke kandang Singa kemudian masuk ke kandang Buaya. Setelah dijajah Belanda lalu dijajah Jepang.”

Demikian pula dua kelompok yang ada di masyarakat umum yang menyatakan bahwa tentara Jepang membantu mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Namun kelompok lain menyatakan Indonesia merdeka dari tangan bangsa Indoensia sendiri.

Film juga menyampaikan apa adanya komentar Rosihan Anwar (10 Mei 1922 – 14 April 2011) yang dengan tegas mengatakan, “Kemerdekaan Indonesia bukan dari Jepang, tidak benar itu,” tekan Rosihan Anwar di film tersebut.

Komentar wanita tua Indonesia yang merasakan penjajahan Jepang pun dengan ketus menyatakan, “Kalau tentara Jepang datang kita kabur semua ketakutan. Kalau ada wanita pasti diculik tentara Jepang dan diperkosa,” ungkap wanita tersebut disampaikan di dalam film itu apa adanya.

Menarik sekali memang film karya Shinichi yang apa adanya itu, dokumenter saat dijajah Jepang yang juga menyampaikan pesan-pesan propaganda, misalnya “Hati-hati Malaria” karena saat itu juga terjadi penyebaran penyakit malaria di Indonesia di saat perang dunia kedua.

Gotong royong rakyat bersama membersihkan got-got dan tempat-tempat yang diduga sarang malaria ditampilkan di film dokumenter tersebut yang terjadi antara tahun 1942-1945.

Film panjang 90 menit itu tampaknya memberikan banyak fakta kenyataan yang ada saat perang dunia kedua di Indonesia, saat dijajah oleh tentara Jepang.

Menarik sekali untuk ditonton nantinya apabila ditayangkan di Indonesia, sebagai bahan pembelajaran bagi kalangan muda di Indonesia pula. Info lebih lanjut dapat ditanyakan ke info@tribun.in (Uli)