Fakta Di Balik Mitos Tentang Diabetes Yang Wajib Anda Ketahui

FOTO: detik.com/indolinear.com
Rabu, 3 Februari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Diabetes adalah salah satu penyakit tidak menular yang mulai mengkhawatirkan. Pasalnya, di dunia pasien diabetes terus meningkat. Di Indonesia sendiri menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, terakhir tahun 2013 pasien diabetes sudah mencapai angka 9,1 juta jiwa.

Tingginya pengidap diabetes ini disebabkan beberapa faktor, mulai dari keturunan hingga pola makan yang tidak sehat dan tidak bergizi seimbang.

Di masyarakat, beredar berbagai mitos tentang diabetes yang dipercaya itu adalah fakta. Untuk itu, detikHealth merangkum beberapa mitos yang tidak perlu dipercaya.

  1. Mitos: Gejala diabetes mudah dikenali

Dikutip dari Detik.com (02/02/2021), hampir 28 persen pasien diabetes tidak menyadari bahwa dirinya memiliki diabetes. Sementara gejala diabetes tipe 1 maupun tipe 2 sangat mirip, seperti peningkatan buang air kecil, mudah haus, mudah kelelahan, penglihatan kabur.

“Gula darah Anda mungkin sedikit meningkat pada tahap awal penyakit tapi Anda tidak akan mengetahuinya tanpa tes darah. Elevasi ringan yang dikenal sebagai pradiabetes ini dianggap berbahaya, karena bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah lainnya,” kata dokter spesialis endokrinologi dari Los Robles Hospital di Thousand Oaks, Amerika Serikat, dr Sarfraz Zaidi, MD.

  1. Mitos: Suplemen herbal bisa membantu diabetes

Banyak iklan yang menawarkan suplemen herbal atau vitamin yang menjanjikan akan menghilangkan diabetes. Jangan mudah terbujuk rayu iklan-iklan tersebut.

Menurut American Diabetes Association, suplemen seperti itu tidak dapat menghilangkan diabetes karena pada dasarnya diabetes sulit untuk dihilangkan, tapi bisa dikontrol kadar gula darahnya.

  1. Mitos: Olahraga tidak bisa mencegah diabetes

Olahraga bisa menjadi pencegah dan pengobat diabetes. Foto: ilustrasi/thinkstock

Salah satu hal penting dalam pencegahan dan pengobatan diabetes adalah olahraga. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa olahraga yang baik lebih efektif daripada obat.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, pasien pradiabetes yang mengubah pola hidup menjadi sehat dengan rutin berolahraga mengurangi kemungkinan diabetes sebesar 58 persen. Sedangkan yang diberi obat hanya berkurang 31 persen.

“Olahraga membakar glukosa dan membuat sel lebih sensitif terhadap insulin,” kata dokter spesialis endokrinologi di Beth Israel Medical Center di New York, dr Gerald Bernstein, MD.

  1. Mitos: Pasien diabetes tidak boleh makan yang manis

Pasien diabetes boleh mengonsumsi makanan manis, asal tidak berlebihan. Foto: iStock

Siapa bilang pasien diabetes tidak diizinkan mengonsumsi makanan manis sama sekali? Boleh-boleh saja, asal tidak berlebihan maka kadar gula darah tetap terkontrol.

“Mengonsumsi lebih banyak makanan manis tidak menyebabkan diabetes, dan mereka yang menderita diabetes dapat makan makanan mengandung gula dari waktu ke waktu,” kata direktur pusat diabetes klinis di Montefiore Medical Center di Bronx, New York, Joel Zonszein, MD.

  1. Mitos: Hanya orang yang kelebihan berat badan yang terkena diabetes

Bukan hanya orang yang obesitas bisa terkena diabetes. Foto: thinkstock

Meskipun orang dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes, bukan berarti yang memiliki berat badan normal tidak bisa terkena diabetes.

Bahkan salah satu gejala diabetes adalah penurunan berat badan secara cepat. Tanpa gula di dalam tubuh, sel yang kelaparan mulai mencari sumber energi alternatif. Tubuh akan memecah lemak dan otot untuk digunakan sebagai energi, hal ini lah yang menyebabkan penurunan berat badan yang cukup cepat.

“Riwayat keluarga diabetes juga membuat Anda lebih mungkin terkena penyakit ini,” tegas dr Zaidi. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: