Erupsi Gunung Laki Tewaskan 10 Ribu Orang Dan Memicu Revolusi

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Sabtu, 5 Oktober 2019

Indolinear.com, Reykjavik – Gunung Laki di Islandia erupsi berkepanjangan selama delapan bulan, sejak 8 Juni 1783 hingga Februari 1784. Ia memuntahkan 14 kubik kilometer lava basalt dan sejumlah tephra atau fragmen batuan vulkanik.

Di Islandia, hampir semua hewan ternak yang ada di sana mati karena makan rumput yang terkontaminasi fluor. Sementara hujan asam memicu gagal panen.

Seperti dikutip dari Liputan6.com (03/10/2019), diperkirakan seperempat penduduk Islandia meninggal dunia akibat kelaparan. Jumlah korban jiwa diperkirakan antara 9.000 hingga 10.000 orang.

Belakangan diketahui, dampak erupsi Gunung Laki melintasi negara bahkan benua. Di Norwegia, Belanda, Kepulauan Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Amerika Utara, bahkan Mesir hingga Suriah. Kabut debu vulkanik dan partikel sulfur terbawa ke sebagian besar Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere).

Kapal-kapal terjebak di banyak pelabuhan. Tanaman pangan terdampak erupsi yang terjadi bertepatan dengan musim panas yang tidak wajar.

“Tanaman barley menjadi coklat dan layu … seperti halnya penampakan daun tanaman oat dan rye (gandum hitam), seperti berjamur,” kata Pendeta Sir John Cullum dalam suratnya ke Royal Society.

Ahli ilmu alam asal Inggris, Gilbert White mendeskripsikan musim panas tahun itu dalam tulisannya Natural History of Selborne.

“Musim panas yang bukan main dan seakan menjadi penanda kejadian buruk…kabut aneh, kepulan asap yang terjadi selama berminggu-minggu di pulau ini, juga setiap jengkal Eropa, bahkan melampaui itu, adalah penampakan yang paling luar biasa, yang tak pernah tercatat dalam memori manusia.”

“Matahari di siang hari tampak kosong, seperti Bulan yang ditutupi awan, memancarkan cahaya kuning tua, mirip warna karat, ke permukaan tanah,” tambah White.

Sang Surya, ia menambahkan bahkan terlihat mengerikan, sewarna darah, saat terbit maupun terbenam. “Pada saat bersamaan, panas begitu intens sehingga daging yang baru disembelih di tukang jagal nyaris tak bisa dimakan. Lalat-lalat berkerumun di jalanan dan pagar, membuat kuda-kuda yang melintas setengah panik…orang-orang di pedesaan mulai mengaitkan fenomena tan terjadi dengan takhayul.”

Sementara itu, di seberang Atlantik, pemimpin Revolusi Amerika, Benjamin Franklin, menjadi saksi perubahan alam yang ekstrem. “Kabut asap terus menerus menutupi langit Eropa, dan sebagian besar Amerika Utara,” tulis dia.

Gangguan terhadap pola cuaca memicu konsekuensi panjang. Musim dingin ekstrem terjadi, banjir yang terjadi pada musim semi menewaskan lebih banyak orang. Di Amerika Serikat, Sungai Mississippi di New Orleans dilaporkan membeku.

Para ilmuwan menyebut, erupsi Gunung Laki mengganggu siklus monsun Asia kala itu, yang memicu kelaparan di Mesir.

Para sejarawan lingkungan juga menemukan dampak letusan gunung tersebut juga mengubah laku sejarah, khususnya di Eropa, ketika kekurangan makanan dan kemiskinan menjadi faktor utama yang memicu Revolusi Prancis 1789.

Pada Selasa 14 Juli 1789, revolusi Prancis bermula dari sebuah penjara bernama Bastille. Pada akhirnya, Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette dieksekusi penggal.

Ahli vulkanologi di departemen ilmu bumi Open University mengatakan, dampak erupsi Laki memiliki konsekuensi yang sangat besar. Pun dengan letusan gunung lainnya.

“Letusan gunung berapi dapat memiliki dampak signifikan pada pola cuaca selama dua hingga empat tahun, yang pada gilirannya memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi. Dan, kita tidak boleh mengabaikan dampak politik yang mungkin terjadi,” kata Dr John Murray. (Uli)