Era Teknologi 5G Jadi Pendorong Untuk Pendapatan Mitratel

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 28 November 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) berpotensi memiliki pertumbuhan pendapatan usaha. Sebab permintaan operator telekomunikasi terhadap menara bakal meningkat di era teknologi seluler 5G.

Anak usaha PT Telkom Tbk (TLKM) ini mengelola menara telekomunikasi lebih 28.000 unit di seluruh Indonesia. Jumlah menara inin akan ditambah seiring penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) Mitratel dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 29,85 persen saham kepada publik. Dana IPO ini antara lain dialokasikan untuk membeli menara baru sebanyak 6.000 unit.

Research Analyst PT Indopremier Sekuritas Hans Tantio mengatakan kebutuhan menara telekomunikasi berspektrum tinggi diprediksi meningkat di era 5G, sehingga Mitratel berpotensi meningkatkan kinerja bisnis di masa mendatang.

“Kebutuhan menara dan spektrum tinggi akan meningkat, peluang bisnis untuk perusahaan penyedia tower komunikasi seperti Mitratel,” ujar Hans di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com (27/11/2021).

Menurut Hans, cakupan dan ketersediaan tower telekomunikasi Mitratel menjangkau wilayah di luar Pulau Jawa. Ketersediaan menara Mitratel di luar Pulau Jawa merupakan unique selling point yang membedakannya dengan kompetitor.

Pada 2020, Mitratel membukukan pendapatan usaha Rp 6,18 triliun, meningkat 16 persen dari tahun sebelumnya yang Rp 5,32 triliun.

Per semester I 2021, pendapatannya Rp 3,22 triliun, naik 10,65 persen dari periode sama tahun lalu yang Rp 2,91 triliun. Pada Juni tahun ini, perseroan mengantongi laba bersih Rp 700,7 miliar. Naik 356 persen dari semester I 2020.

Hans mencermati konsolidasi bisnis operator telekomunikasi akan berdampak positif terhadap permintaan menara telekomunikasi ke depan.

“Tidak tersedia lagi spektrum, sehingga operator telekomunikasi akan menyewa menara telekomunikasi. Tren konsolidasi bisnis para operator akan berefek domino terhadap kinerja fundamental Mitratel di masa mendatang,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menyatakan valuasi Mitratel di kisaran wajar, lantaran enterprise value/EBITDA mencapai 13 kali atau rata-rata dengan perusahaan sejenis yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Kemitraan Bisnis Menara

Pada kesempatan terpisah, Raymond Kosasih, analis saham PT Verdana Sekuritas, menambahkan penetrasi jumlah menara di Indonesia termasuk rendah dibandingkan beberapa negara seperti Brasil atau India. Rasio populasi per menara di Indonesia di kisaran 2.250 dibandingkan Brasil dan India yang berkisar 2.100.

“Dengan keterbatasan jumlah spektrum atau frekuensi, maka kebutuhan menara bakal tetap tinggi pada masa mendatang,” tutur Raymond.

Potensi itu juga dinilai sebagai peluang besar bagi Mitratel untuk menjalin kemitraan bisnis dengan operator-operator telekomunikasi lain di luar Grup Telkom. Model bisnis kemitraan Mitratel dengan operator bervariasi: skema built-to-suit (membangun menara baru) dan co-location (co-lo).

Raymond memproyeksikan minat investor terhadap saham Mitratel cukup tinggi karena membukukan laba bersih. “Kinerja fundamentalnya bagus dan akan diapresiasi investor.”

Rencana IPO Mitratel tidak hanya menjadi momentum emas untuk investor berinvestasi di saham ini, tapi juga salah satu penataan portofolio yang dilakukan Telkom Group untuk mengoptimalkan value creation Mitratel, sehingga dapat memberikan hasil optimal bagi stakeholder.

Mitratel akan menggelar IPO dengan menerbitkan maksimal 25,5 miliar saham atau setara 29,85 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor. Dengan kisaran harga

Rp 775-975 per lembar saham, maka potensi proceed maksimal Rp 19,79-24,9 triliun.

Perseroan telah menunjuk penjamin pelaksana emisi efek, antara lain PT Mandiri Sekuritas dan PT BRI Danareksa Sekuritas. Mitratel akan memakai dana IPO antara lain sekitar 90 persen untuk belanja modal dan sisanya modal kerja.

Rinciannya, sekitar 44 persen untuk belanja modal organik seperti mengembangkan dan memperluas hubungan dengan pelanggan melalui penambahan penyewa kolokasi.

Selain itu, pembangunan menara baru dan penambahan site baru termasuk biaya sewa lahan baru untuk dibangun dengan pesanan built-to-suit untuk berbagai operator telekomunikasi dan ekspansi ke teknologi dan layanan yang dapat bersinergi dengan bisnis penyewaan menara telekomunikasi. Kemudian sekitar 56 persen untuk belanja modal anorganik.

Rencananya roadshow dan penawaran awal (bookbuilding) saham Mitratel dijadwalkan pada 26 Oktober – 4 November 2021. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan terbit pada 12 November 2021. Setelah diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, penawaran umum akan dilaksanakan pada 16-18 November 2021 dan pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 November 2021. (Uli)