Enam Mitos Danau Ranu Kumbolo Yang Menarik Untuk Ditelusuri

FOTO: viva.co.id/indolinear.com
Jumat, 15 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Para pendaki tentu sudah tidak asing lagi dengan pesona Ranu Kumbolo, salah satu keindahan yang bisa Anda cicipi ketika bertandang ke Gunung Semeru Jawa Timur.

Ranu Kumbolo merupakan sebuah sungai atau danau yang lokasinya berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Selain itu, Ranu Kumbolo juga merupakan tempat transit bagi para pendaki sebelum mencapai puncak Gunung Semeru.

Ranu Kumbolo memang memiliki pesona yang tak terbantahkan dan menarik untuk disambangi. Danau yang dijuluki dengan surganya Gunung Semeru ini menyimpan begitu banyak keindahan maupun hal-hal misterius di dalamnya.

Saking indahnya, danau Ranu Kumbolo kerap dijadikan tempat persinggahan favorit para pendaki gunung Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di mana, para pendaki biasanya melakukan gelar tenda di sekitar danau tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju Puncak Mahameru.

Yang menariknya lagi, Ranu Kumbolo juga menjadi tempat favorit dan terbaik untuk bisa menikmati sunrise dan sunset. Namun sebelum lebih jauh mengenal Ranu Kumbolo, simak lebih dulu beragam mitos yang beredar yang menarik untuk Anda ketahui, dilansir dari Viva.co.id (14/07/2022).

Sakralnya Air Danau Ranu Kumbolo

Banyak mitos yang beredar jika masyarakat percaya kalau Ranu  Kumbolo merupakan air yang begitu suci dan sakral.Pasalnya, hingga saat ini tempat semegah ini kerap digunakan untuk ritual keagamaan masyarakat setempat.

Saking sakralnya danau Ranu Kumbolo, terdapat beberapa larangan bagi pendaki yang transit danau ini. Misalnya yang pertama, pendaki tidak diperbolehkan untuk mandi, mencuci, apalagi buang air di danau.

Bagi para pengunjung, jangan coba-coba berenang juga, karena suhunya sangat ekstrim dan kedalamannya mencapai 28 meter.

Di balik kebenaran mitos yang beredar itu, para pendaki memang harus mematuhi aturan tersebut.  Mematuhi aturan larangan tersebut itu artinya menjaga keindahan Danau Ranu Kumbolo sendiri.

Tanjakan Cinta

Semua orang pasti sudah tidak asing lagi dengan tanjakan cinta di Gunung Semeru ini. Ya, tepat di sebelah barat Ranu Kumbolo, para pengunjung bisa menikmati indahnya tanjakan cinta yang mengarah ke puncak Gunung Semeru.

Konon, tanjakan cinta ini menyimpan berbagai mitos yang menarik untuk ditelusuri. Salah satu mitos tersebut adalah, bagi siapapun yang terus mendaki tanjakan cinta sembari memikirkan sang pujaan hati tanpa menoleh ke belakang, maka nantinya kisah percintaan kalian akan bahagia. Tapi sebaliknya, jika ada yang berani mengoleh ke belakang, maka kisah cinta Anda akan berakhir pilu.

Mitos ini bermula pada saat sepasang kekasih yang ingin tunangan mendaki Gunung Semeru.  Konon, ketika melewati tanjakan cinta ini sang pria harus lebih dulu di puncaknya. Namun saat tiba-tiba menoleh ke belakang, ia pun menyaksikan tunangannya yang terguling bahkan hingga tewas lantaran kelelahan.

Ikan Mas, Penjaga Ranu Kumbolo

Benar atau tidaknya, Danau Ranu Kumbolo begitu banyak dilimpahi ikan mas. Namun, ada larangan bagi setiap pengunjung danau untuk tidak memancing atau menangkapnya. Pasalnya, warga setempat meyakini bahwa ikan mas tersebut merupakan jelmaan dewi yang ditugaskan untuk menjaga keindahan Ranu Kumbolo.

Ada Dewi Berkebaya Kuning

Sungguh luar biasa Ranu Kumbolo, selain indah berbagai hal yang diluar nalar bisa kita temukan di sini.  Selain berwujud ikan mas, romannya penunggu Ranu Kumbolo juga diasosiasikan dengan penampakan sosok wanita. Menurut cerita yang beredar, wanita tersebut kerap muncul dengan pakaian kebaya berwarna kuning.

Puncak Abadi Para Dewa

Setelah transit di Ranu Kumbolo, para pengunjung bisa melanjutkan perjalanannya ke Puncak Mahameru.  Dimana, puncak ini merupakan titik tertinggi di Pulau Jawa. Jauh lebih tinggi dibandingkan puncak Gunung Slamet, Sumbing, Sindoro, ataupun Gede Pangrango.

Bahkan, Mahameru juga dikenal sebagai puncak abadi para dewa yang menghubungkan manusia dan kayangan. Hingga kini, masyarakat Jawa dan Bali masih menganggap puncak ini sebagai kediaman dewa sehingga masih terdapat sesajen di beberapa titik.

Pakunya Pulau Jawa

Bagi sebagian mitos yang beredar, khususnya masyarakat Jawa tertulis dalam kita kuno Tantu Pagelaran, dulunya Pulan Jawa mengambang di lautan. Kemudian, dewa memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Pada awalnya, gunung ini berada di ujung barat tanah Jawa. Namun karena posisinya jadi berat sebelah, maka gunung tersebut dibagi dua dengan Gunung Semeru di sisi timur dan Gunung Penanggungan di sisi barat Jawa.

Sebelum muncul, asap akan mengepul di permukaan Ranu Kumbolo pada saat bulan purnama. Demikian keenam mitos yang ada di Ranu Kumbolo dan sekitarnya.

Kamu bebas memilih antara percaya atau tidak percaya terkait mitosnya, tapi yang harus diingat ialah tetap mengikuti aturan yang ditetapkan dan menjaga kebersihan. (Uli)