Empat Fakta Menarik “sang Pemberontak” Soe Hok Gie

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 29 Oktober 2019
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Jika diberi usia panjang, aktivis dan intelektual, [Soe Hok Gie](/813372 “”) genap 72 tahun hari ini. Ia lahir di Jakarta, 17 Desember 1942.

Aktivismenya mekar sempurna saat berstatus mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Bersama Angkatan 66, ia “menggempur” kekuasaan Orde Lama dengan serangkaian demonstrasi pasca-G30S. Ia menjadi pemimpin mahasiswa seperti juga Cosmas Batubara, Soegeng Sarjadi, Mar’ie Muhammad, atau Nono Anwar Makarim.

Kisahnya makin menyebar luas saat difilmkan sineas Riri Riza pada 2005.  Aktor Nicholas Saputra didapuk memerankan lelaki berperawakan kecil tersebut. Buku hariannya, terbit dengan judul Catatan Seorang Demonstran, makin banyak dibaca usai film itu beredar.

Termasuk oleh anak-anak muda yang lahir jauh setelah ia meregang nyawa di puncak Gunung Semeru.Berikut sejumlah fakta menarik menyangkut sosok adik sosiolog Arief Budiman tersebut yan dilansir dari Liputan6.com (27/10/2019).

1. Dikirimi Surat Kaleng Gara-gara Tulisan Gie adalah penulis yang produktif. Artikel-artikelnya tersebar di Harian KAMI, Kompas, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Ia menulis di rumah orangtuanya di Jalan Kebon Jeruk IX, dekat Glodok, Jakarta Barat. Di kamar belakang yang temaram, berteman nyamuk, ketika kebanyakan orang telah larut dalam mimpi.

Pemuda kurus ini banyak dikagumi lantaran tulisan-tulisannya. Namun, ada juga yang tak suka. Suatu kali Gie dikirimi surat kaleng oleh seseorang yang mengaku pecinta Bung Karno. Rupanya pengirim surat gusar dengan kritik-kritik Gie dalam mingguan Mahasiswa Indonesia. Surat itu berisi umpatan berbau rasial.

2. Mengirim Bedak ke Aktivis Mahasiswa Lain Sebelum mendaki Semeru, ia mengirim bedak, gincu, dan cermin kepada 13 aktivis mahasiswa yang menjadi anggota DPR setelah Orde Baru berkuasa. Harapannya, agar mereka bisa berdandan dan tambah “cantik” di hadapan penguasa.

Gie kecewa dengan teman-teman mahasiswanya di DPR. Mereka dianggap sudah melupakan rakyat, lebih mementingkan kedudukannya di parlemen. Buat Gie, aktivis mehasiswa sebagainya hanya menjadi kekuatan moral, bukan pelaku politik praktis.

Dalam surat pengantar kiriman, 12 Desember 1969, ia menulis, “Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmati kursi Anda–tidurlah nyenyak.”

3. Mengecam Pembunuhan Massal Kader dan Simpatisan PKI Gie gencar mengkritik Partai Komunis Indonesia (PKI) dan perilaku politiknya. Tapi, ia menjadi salah seorang intelektual yang pertama-tama mengecam pembunuhan massal terhadap kader dan simpatisan PKI menyusul peristiwa G30S. Ia menulis esai berjudul Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-besaran di Bali. Petikannya, “Selama tiga bulan, Bali berubah menjadi neraka penyembelihan. Jika di antara pembaca ada yang mempunyai teman putra Bali, tanyakan apakah dia punya seorang kenalan yang menjadi korban peristiwa berdarah itu. Tentu akan diiyakannya, karena memang demikianlah kenyataannya di Bali.” Gie juga mengritik stigmatisasi kader PKI. Misalnya, dengan surat bebas G30S. Ia menganggapnya tak perlu. “Bahkan anak-anak SD kelas V dan IV (umur 12-14 tahun) harus punya surat “bersih diri” (bersih dari apa?). Tiga tahun yang lalu mereka baru berusia 9-11 tahun. Ini benar-benar keterlaluan,” tulisnya dalam Surat Tidak Terlibat G30S yang dimuat di Kompas, 29 April 1969.

4. Meninggal Sehari Sebelum Berulang Tahun ke-27 Gie meregang nyawa di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, 16 Desember 1969. Gie tewas karena menghirup asap beracun. Turut tewas saat itu rekan seperjalanannya, Idhan Lubis.

Ia mencandu naik gunung. Bukan sekadar rekreasi. Suatu hari, ia menulis, “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”

Tragis, Gie meninggal di tempat yang dicintainya: gunung. Mati muda. Uniknya, ia menyukai baris-baris puisi dari dari seorang filsuf Yunani: Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan/ yang kedua, dilahirkan tapi mati muda/ yang tersial adalah berumur tua/ berbahagialah mereka yang mati muda// (Uli)