Elon Musk, Kisah Lahirnya Orang Terkaya Di Planet Bumi

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Sabtu, 14 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Rumah di Boca Chica, Texas, Amerika Serikat, itu saat ini jelas bukan rumah mewah. Luasnya cuma 114 meter persegi. Panjang dan lebarnya sama: Hanya 59,7 meter persegi.

Yang unik lagi, rumah itu adalah rumah rakitan. Rumah itu akan dibawa oleh mobil kontainer ke lokasi yang diinginkan. Lalu diletakkan di tanah kosong, sebelum kemudian dirakit secara otomatis.

Tipe rumah itu Boxabl Casita. Sudah lengkap dengan dapur, kamar tidur, dan kamar mandi dan disewakan dengan harga U$ 50.000 atau Rp 772 juta.

Pada bulan November 2021, Boxabl sebagai pengembang rumah rakitan tersebut memposting video sebuah unit yang sedang dibangun di Boca Chica. Rumah itu menurut Boxabl diperuntukkan bagi ” pelanggan rahasia.”

Perusahaan Boxabl yang berbasis di Las Vegas memang bertujuan untuk memproduksi rumah murah secara massal. Mereka menciptakan rumah rakitan yang dikirim dalam kotak dan dapat dibangun dalam waktu sehari.

Yang tidak biasa, ternyata “ pelanggan rahasia” yang akan menempati rumah rakitan itu adalah CEO Tesla dan CEO SpaceX yang merupakan orang  terkaya di planet ini: Elon Musk, 50 tahun. Dalam sebuah tweet pada bulan Juni, Musk memang mengaku menyewa sebuah rumah di Boca Chica, Texas, dengan biaya U$ 50.000, dilansir dari Dream.co.id (12/05/2022).

Menurut Business Insider, Musk tampaknya menepati janji yang dia buat dalam tweet pada Mei 2020 untuk ” tidak memiliki rumah.”

Beberapa minggu sebelumnya, Elon Musk telah menjual ketujuh rumahnya di California seharga U$ 128 juta atau Rp 1,8 triliun setelah bersumpah untuk ” tidak lagi memiliki rumah pribadi”. Di antara properti yang dijual Musk adalah bekas rumah aktor Willy Wonka & The Chocolate Factory Gene Wilder.

Miliarder itu juga menjual salah satu rumah mewahnya di Bel Air kepada miliarder China, William Ding, yang membayar U$ 29 juta untuk properti mewah itu. Empat rumah lainnya di Bel Air dijual kepada pengembang properti Los Angeles, Ardie Tavangarian.

Penjualan itu terjadi setelah Musk pada 2020 berjanji untuk menjual ” hampir semua harta fisik” , termasuk propertinya.

Penjualan properti ini tampaknya seiring dengan keputusannya untuk meninggalkan California pada Desember 2021 untuk fokus tinggal pada kompleks manufaktur baru raksasa pembuat mobil listrik Tesla dan tempat peluncuran roket  SpaceX di Boca Roca, Texas.

Pada saat itu, miliarder itu men-tweet: ” Saya menjual semua harta benda fisik. Tidak akan memiliki rumah.”

Padahal menurut majalah Forbes, sampai tanggal 28 April 2022, Musk masih menjadi orang terkaya di planet ini dengan harta sebesar U$ 246 miliar atau 3.552 triliun. Lebih besar dari Angaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Republik Indonesia untuk tahun 2002 sebesar Rp 2.714 triliun. Dengan harta super bejibun itu dia memilih tak punya rumah pribadi untuk dia tinggali secara permanen!

Elon Reeve Musk lahir dari keluarga kaya pada 28 Juni 1971, di Pretoria, Afrika Selatan.

Ibunya adalah Maye Musk, seorang model dan ahli diet yang lahir di Saskatchewan, Kanada, tetapi dibesarkan di Afrika Selatan. Ayahnya adalah Errol Musk, seorang insinyur elektromekanis kulit putih Afrika Selatan. Errol merupakan pilot, pelaut, konsultan, dan pengembang properti dan pernah menjadi setengah pemilik tambang zamrud Zambia di dekat Danau Tanganyika.

Elon Musk memiliki adik laki-laki, Kimbal Musk, yang lahir tahun 1972, dan seorang adik perempuan, Tosca Musk, kelahiran 1974.

Keluarga Musk itu sangat kaya di masa muda Elon. Ayahnya Errol Musk pernah bercerita: ” Kami punya begitu banyak uang, sehingga kadang-kadang kami bahkan tidak bisa menutup brankas kami”.

Setelah orang tuanya bercerai pada tahun 1980, Elon memilih menghabiskan sebagian besar masa remaja hingga dewasa mudanya dengan tinggal bersama ayahnya di Pretoria. Pilihan yang dia buat dua tahun setelah perceraian orang tuanya, dan yang kemudian ia sesali.

Elon menjadi terasing dari ayahnya, yang dia gambarkan sebagai: ” Manusia yang mengerikan… Hampir setiap hal jahat yang mungkin Anda pikirkan, telah dia lakukan.” Saat dewasa, Elon Musk memutus hubungan dengan ayah kandungnya.

Setelah perkawinan orang tuanya hancur, Elon Musk mengembangkan minat dalam komputasi dan video game. Tepatnya pada usia pada usia 10 tahun, ia belajar pemrograman komputer menggunakan buku manual. Dan, pada usia 12 tahun, dia menjual kode video game berbasis BASIC yang disebutnya Blastar ke majalah Office Technology seharga  U$ 500 atau Rp 7,2 juta.

Elon Musk adalah seorang anak yang canggung dan tertutup. Ia selalu dirundung dan diintimidasi sepanjang masa kecilnya. Bahkan ia pernah sampai dirawat di rumah sakit, setelah sekelompok anak laki-laki melemparkannya ke bawah tangga. Dia bersekolah di Waterkloof House Preparatory School dan Bryanston High School sebelum lulus dari Pretoria Boys High School.

Sadar akan lebih mudah untuk memasuki Amerika Serikat dari Kanada, Elon mengajukan permohonan paspor Kanada melalui ibunya yang kelahiran Kanada. Sambil menunggu izin dokumen, ia kuliah di Universitas Pretoria selama lima bulan. Ini memungkinkan dia untuk menghindari wajib militer rezim Apartheid Afrika Selatan yang saat itu berkuasa.

Elon Musk tiba di Kanada pada Juni 1989, dan tinggal bersama sepupu kedua di Saskatchewan selama setahun. Ia bekerja serabutan di pertanian dan pabrik kayu.

Pada tahun 1990, ia masuk Universitas Queen di Kingston, Ontario, Kanada. Dua tahun kemudian, ia dipindahkan ke University of Pennsylvania, Amerika Serikat,  hingga lulus pada tahun 1997 dengan gelar Bachelor of Arts di bidang fisika dan gelar Bachelor of Science di bidang ekonomi.

Pada tahun 1995, ia diterima di program Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam ilmu fisika di Universitas Stanford di California. Dia keluar dari Stanford hanya setelah mengikuti kuliah dua hari, dan memutuskan untuk bergabung dengan booming Internet dan meluncurkan startup Internet.

Menurut majalah Time, setelah batal mengambil gelar Doktor Fisika di Stanford University, Musk muda mulai menyadari bahwa Internet, jaringan koneksi baru antar komputer, lebih dari sekadar taman bermain bagi para kutu buku, dan Musk ingin mencoba peruntungannya.

Bersama adik kandungnya Kimbal, Elon Musk mendirikan sebuah perusahaan bernama Zip2 sebagai direktori bisnis online, semacam yellow pages yang mendukung web dengan peta. Sebuah ide bagus di pertengahan tahun sembilan puluhan.

Elon dan Kimbal merekrut investor dan membawa bantuan dari luar untuk menjalankan perusahaan, dan membuat kesepakatan dengan penerbit seperti harian New York Times. Terkadang Elon dan Kimbal berbeda pendapat. Dan itu akan mereka selesaikan dengan cara bergulat.

Pada tahun 1999, mereka menjual Zip2 ke Compaq, raksasa perakitan komputer seharga U$ 307 juta atau Rp 4,4 triliun. Musk mendapatkan U$ 22 juta atau Rp 317 miliar dari penjualan Zip2.

Elon Musk segera menghabiskan U$ 1 juta atau Rp 14,4 miliar dari uang itu untuk membeli mobil supercar McLaren F1. ” Itu tidak konsisten dengan perilaku saya yang lain,” katanya kepada CNN, yang merekam Elon Musk saat mobil itu dikirim ke rumahnya.

Setahun kemudian, Elon menghancurkan mobil itu ketika ia mencoba memamerkan akselerasinya dan akhirnya secara tidak sengaja membanting mobil itu ke udara. Mobil sport jutaan dolar itu ternyata tidak diasuransikan. Duh!

Tetapi pada saat itu, Elon sudah melakukan langkah usaha berikutnya. Yang ikut bersamanya dalam mobil McLaren pada hari kecelakaan itu adalah Peter Thiel, salah satu pendiri startup pembayaran Confinity. Thiel dan Musk tak dinyana tidak terluka dalam kecelakaan itu.

Pada saat itu Musk telah menghabiskan jutaan dolarnya untuk memulai startup perbankan online lain bernama X.com. Akhirnya X.com dan Confinity bergabung pada Maret 2000, membentuk bisnis yang akhirnya dinamai PayPal. Elon Musk diangkat sebagai CEO, tetapi pada bulan September, saat dia sedang berlibur, dewan direksi memecatnya, menggantikannya dengan Thiel. Itu terjadi setelah Musk berkeras ingin mengubah perangkat lunak perusahaan dari Linux  ke Microsoft.

“ Bukan ide yang baik untuk meninggalkan kantor ketika ada banyak hal besar yang sedang berlangsung yang menyebabkan banyak orang stres,” kata Musk usai pemecatan dirinya. Namun Musk masih memiliki saham di PayPal. Ketika eBay membeli PayPal seharga U$ 1,5 miliar  atau Rp 21 triliun pada tahun 2002, Musk mendapat untung besar U$ 175,5 juta atau Rp 2,5 triliun dari kesepakatan itu berkat kepemilikan sahamnya.

Elon Musk tidak kemudian berleha-leha meski sudah tercatat sebagai  miliarder muda. Pada tahun 2002, ia mendirikan SpaceX dengan misi yang hampir menggelikan yaitu mengkolonisasi Mars. Ia mengelontorkan U$ 100 juta atau Rp 1,4 triliun untuk membangun SpaceX.

Tahun berikutnya, di tahun 2003, dia menanamkan investasi awal lebih dari U$ 6 juta atau Rp 86 miliar ke Tesla, yang saat itu tidak lebih dari sepasang pendiri dengan visi mobil sport listrik. Perusahaan berencana untuk mengambil keuntungan dari baterai lithium-ion baru, yang ringan dan padat energi, untuk merevolusi bidang itu. Elon Musk antusias dengan ide tersebut, lalu menyuntikkan modal.

Pada saat itu, sel lithium-ion hanya digunakan dalam perangkat elektronik kecil, dan salah satu inovasi utama Tesla adalah meningkatkan kinerjanya, yang memungkinkannya untuk menciptakan kendaraan listrik dengan jangkauan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dicapai oleh mobil listrik sebelumnya.

Kedua perusahaan memiliki awal yang sulit dalam beberapa tahun pertamanya. Elon mengatakan bahwa dia pada akhirnya mendorong semua pendapatannya dari penjualan PayPal untuk mendanai dua usaha tersebut.

SpaceX mengalami beberapa peluncuran roket yang gagal, yang hampir membuatnya gulung tikar. Sementara Tesla mengalami masalah ketika para insinyurnya menyadari bahwa paket baterai prototipe-nya kemungkinan akan terbakar. Tesla juga hampir bangkrut selama resesi hebat pada tahun 2008.

Akhirnya, investasi Musk mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2008, SpaceX mendapatkan kesepakatan kontrak senilai U$ 1,6 miliar atau Rp 23 triliun dari NASA, sementara Tesla pada 2012 mulai meluncurkan mobil pasar massal pertamanya, Model S.

Saat ini, Tesla adalah raksasa otomotif dunia, menguasai sekitar dua pertiga pasar mobil listrik AS. SpaceX adalah pemimpin tak terbantahkan dalam eksplorasi ruang angkasa milik swasta.

Meskipun Tesla memproduksi lebih sedikit kendaraan daripada pembuat mobil lama seperti Ford dan General Motors, valuasi atau nilainya telah melonjak berkali-kali lebih tinggi daripada mereka.

Dalam 18 bulan terakhir, harga saham Tesla naik lebih dari tiga kali lipat, mendorong kapitalisasi pasarnya lebih dari  U$ 1 triliun atau setara dengan Rp 14.400 triliun. Itu membuat Tesla lebih bernilai dari gabungan perusahaan Toyota, Volkswagen, Hyundai, General Motors dan Ford. Elon Musk mengendalikan sebagian besar saham itu, bahkan setelah menjual hampir U$ 12 miliar saham Tesla miliknya dalam dua bulan terakhir.

Elon Musk saat ini memegang sekitar 17% saham Tesla, senilai U$ 175 miliar atau Rp 2.527 triliun, yang merupakan bagian terbesar dari kekayaan bersihnya.

Sementara itu, nilai atau valuasi SpaceX kini lebih dari U$ 100 miliar atau Rp 1.444 triliun, menurut putaran pendanaan Oktober, dan 48% saham Elon Musk berada di perusahaan roket tersebut.  Nah, jika ditambah uang tunai dan aset lainnya, maka semuanya menjadikan total kekayaan bersih Elon Musk menjadi sekitar U$ 246 miliar atau 3.552 triliun.

Dia juga memasukkan uangnya ke perusahaan baru. Pada 2016, Musk memulai The Boring Company, perusahaan penggali terowongan, dan startup neuroteknologi Neuralink. Keduanya sekarang bernilai ratusan juta dolar. Terakhir, dia membeli platform media sosial Twitter seharga U$ 44 miliar atau Rp 635 triliun yang menggegerkan dunia.

Menurut para ahli, tidak banyak peluang yang akan terbayar dalam jangka panjang. Tetapi pengambilan risiko besar adalah pilihan bisnis Elon Musk. Pendekatannya masih sama: Mengeluarkan jutaan atau miliaran dolar untuk proyek yang sangat sulit, yang mengubah Elon Musk dari anak yang beruntung dengan kekayaan dot.com menjadi orang terkaya di planet ini.

Tweet lama Musk menjelaskan wawasan lebih lanjut tentang pemikirannya tentang kekayaan pribadi. ” Sekitar setengah uang saya dimaksudkan untuk membantu masalah di Bumi, dan setengahnya lagi untuk membantu membangun kota mandiri di Mars untuk memastikan kelanjutan kehidupan (dari semua spesies) jika Bumi terkena meteor seperti kepunahan dinosaurus atau Perang Dunia ke-III terjadi dan kita menghancurkan diri kita sendiri,” tulis Musk.

Namun di sinilah barangkali ironinya: Orang terkaya di planet Bumi justru tak memiliki rumah pribadi satu pun di planet ini. Ia memilih menyewa rumah rakitan sederhana. Sebuah pilihan gaya hidup yang unik dan tidak biasa bagi orang kebanyakan. (Uli)