Edge Computing Disebut Akan Mampu Percepat Transformasi Digital

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 3 Februari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Lie Heng, Wakil Bidang Kerjasama Industri, Asosiasi Cloud Computing Indonesia mengatakan, teknologi cloud computing akan semakin dipercepat dengan adanya tren Edge Computing dan penerapan Making Indonesia 4.0.

Pertumbuhan dari data dan informasi yang perlu dianalisa akan berdampak pada kebutuhan teknologi komputasi yang memilki skalabilitas dan fleksibilitas dari sisi daya listrik dan kecepatan, sehingga cloud computing menjadi teknologi pilihan.

“Seiring dengan perkembangan teknologi edge dan cloud computing, tentunya dibutuhkan infrastruktur pendukung agar mampu memberikan layanan yang optimal, baik di SaaS (Software as a Service), PaaS (Platform as a Service), maupun di IaaS (Infrastructure as a Service), sehingga infrastruktur data center menjadi hal yang penting dan utama untuk diperhatikan,” jelas dia saat konferensi pers virtual, dilansir dari Merdeka.com (02/02/2021).

Edge computing bukanlah sekedar tren, namun merupakan sebuah solusi pemrosesan data yang lebih kompleks dan dianggap mampu membantu perusahaan mengatasi masalah latensi, tuntutan operasional, dan keamanan, terutama di lingkungan seperti saat ini.

Gartner memperkirakan bahwa 75 persen data perusahaan diharapkan dibuat dan diproses di edge pada tahun 2025, dan laporan 2019 oleh Analysys Mason menunjukkan bahwa perusahaan akan mengalokasikan rata-rata 30 persen dari anggaran TI mereka untuk edge computing selama tiga tahun ke depan.

Data Center Berkelanjutan        

Yana Achmad Haikal, Business Vice President Secure Power Division Schneider Electric Indonesia mengatakan membangun data center yang berkelanjutan dan andal sangat lah penting dalam mengakomodasi permintaan yang terus bertumbuh.

Berdasarkan data internal dari Schneider Electric, konsumsi energi data center diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2040 dimana peningkatan sebagian besar terjadi karena meningkatnya pemanfaatan edge data center.

“Diperkirakan terdapat sekitar 7,5 juta micro data center baru yang dibangun hingga tahun 2025 dengan konsumsi energi global mencapai 120 GW hanya untuk fasilitas edge saja dan mencetak jejak karbon antara 450.000 hingga 600.000 ton per tahun. Peningkatan konsumsi energi oleh industri data center ini tidak akan luput dari perhatian publik dan pemerintah karena keberlanjutan akan tetap menjadi agenda utama bagi sektor swasta dan publik,” ungkap Yana.

Maka itu, kata Yana, Schneider Electric telah memperkenalkan beberapa solusi yang dapat menjawab tantangan akan keterbatasan staf TI untuk mengelola edge data center, keamanan, efisiensi dan keberlanjutan yaitu EcoStruxure Micro Data Center, EcoStruxure IT Expert dan Monitoring & Dispatch Services.

“Seiring dengan percepatan inisiatif transformasi digital, keberlanjutan harus lah tetap menjadi landasan penting dalam dunia yang berpusat pada digital. Sementara dunia bergerak ke arah meningkatkan keunggulan, kita perlu mengingat bahwa upaya mencari solusi berkelanjutan harus sekuat upaya terkoordinasi yang dilakukan untuk mengoptimalkan sistem dan proses. Dengan mengedepankan teknologi dan inovasi, menciptakan operasional bisnis yang sukses dan berkelanjutan akan sangat mungkin terwujud,” jelas Yana. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: