Dulu Makan Saja Susah, Mohed Altrad Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia

FOTO: detik.com/indolinar.com
Jumat, 26 November 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menjadi seorang yang sukses dan kaya raya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menjadi seseorang yang bergelimang harta membutuhkan kerja keras dan proses yang panjang. Hal itu dilakukan oleh Mohed Altrad.

Pria asal Suriah ini dulu hanyalah laki-laki biasa, dia lahir dari rahim wanita yang diperkosa oleh pemimpin suku sebuah desa di Suriah. Ibunya bahkan meninggal saat Altrad masih balita. Hidup Altrad kecil bisa dibayangkan untuk mencari makan saja susah. Namun kerja keras yang selama ini dijalankan membuah hasil.

Altrad yang tercatat dalam daftar 1.000 miliuner Forbes 2018 merupakan salah satu pengusaha imigran yang paling sukses. Perjuangan seorang Mohed Altrad hingga menjadi dirinya seperti sekarang ini bisa jadi yang paling heroik dibanding kisah-kisah sukses lainnya.

“Ibu saya dilecehkan sejak usia 12 tahun dan diperkosa dua kali oleh kepala suku. Pertama kali, dia melahirkan saudara laki-laki saya, yang kemudian dibunuh. Yang kedua kalinya, itu aku yang dilahirkan ke dunia ini,” kata Altrad dalam sebuah artikel yang dikutip dari Detik.com (24/11/2021).

Sejak kecil, dia justru melarikan diri dan membangun kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar. Bisnisnya pun mengantarkan dirinya mendapat julukan sebagai pengusaha terbaik di dunia pada 2016.

Alih-alih menjalani kehidupan keras di tangan ayahnya yang kejam, Altrad harus kerja keras membanting tulang untuk mengubah nasib. Kehidupan yang dijalani miliarder pemilik Altrad Group ini seperti sebuah kisah dalam novel.

Mohed Altrad bahkan tak tahu tanggal lahirnya secara pasti. Tak ada satu pun dokumen yang bisa memastikan kapan dia lahir. Kemudian dengan cara mengundi, dia pun memilih 9 Maret 1948 sebagai tanggal lahirnya.

Setelah kabur, Altrad kemudian tinggal bersama dengan neneknya, meski akhirnya dia dilarang pergi ke sekolah. Sesuai dengan adat Badui, dia harus merawat kambing, domba, dan unta, menjadi seorang penggembala.

Akhirnya, seorang kerabat jauh mengadopsi Altrad dan tinggal di dekat Raqqa, Suriah. Di sana, Altrad mengenyam bangku pendidikan, menyelesaikannya hingga menerima beasiswa dari pemerintah Suriah untuk belajar di luar negeri.

“Saya beruntung. Saya adalah yang pertama,” kata Altrad.

Butuh waktu lebih dari setahun agar dia bisa lancar berbahasa Prancis. Hal itu dilakukannya demi bisa memperluas relasi dan berusaha.

“Kamu tidak bisa mencintai sesuatu yang kamu tidak mengerti,” kata Mohed Altrad.

Sebagai seorang imigran, Altrad menyadari tidak ada pekerjaan yang langsung membuat dirinya tajir melintir. Apalagi dirinya seorang imigran Arab yang pada umumnya di Prancis selalu mendapatkan pekerjaan dengan bayaran rendah.

Contoh pekerjaannya adalah membersihkan jalan-jalan atau mengelola jalur perakitan pabrik. Pekerjaan itu adalah yang biasa ditolak oleh sebagian besar penduduk asli.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan gelar sarjananya di Montpellier, dia langsung terdaftar di Ph.D program dalam ilmu komputer, dan pindah ke Paris. Di sana, dia bekerja paruh waktu sambil belajar dan mendapatkan pekerjaan sebagai insinyur tingkat pemula dengan Compagnie Générale d’Electricité.

Pada tahun 1980, tidak lama setelah menyelesaikan gelar Ph.D-nya, ia melihat sebuah lowongan pekerjaan di Le Monde oleh pemerintah Abu Dhabi. Dia tertarik dengan prospek kembali ke Timur Tengah dan dipekerjakan di departemen informasi dan teknologi pada Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi.

Abu Dhabi memainkan bagian penting dalam kebangkitan kehidupan Altrad. Dia bekerja untuk Abu Dhabi National Oil Company sebelum mendirikan Grup Altrad.

Dia menghabiskan hampir empat tahun di Abu Dhabi bersama istri dan dua anaknya. Pekerjaannya merancang jaringan telekomunikasi untuk komunikasi antara orang-orang di anjungan minyak lepas pantai dan di darat.

Sekembalinya ke Prancis pada 1985, Altrad memutuskan untuk membeli perusahaan mesin konstruksi yang nyaris bangkrut. Walau tak tahu bagaimana bisnis baru tersebut, bersama kawan lamanya Richard Alcock yang ia kenal saat masih di Abu Dhabi, Altrad mengakuisisi 90% saham perusahaan tersebut.

Mohed Altrad cukup jeli dalam menangkap peluang bisnis. Meski hanya berjualan mesin perancah bangunan (scaffolding), Altrad akhirnya sukses hingga berhasil masuk dalam daftar orang kaya dunia.

Dengan jiwa bisnis yang agresif, perusahaan mesin perancah yang nyaris bangkrut itu mampu disulap Altrad menjadi sebuah entitas bisnis raksasa dengan wilayah operasi di berbagai belahan dunia.

Berkat kerja kerasnya, Altrad menjadi nakhoda sebuah perusahaan dengan produk andalannya yakni mesin perancah bangunan dan pencampur semen (cement mixer).

Grup Altrad sekarang setidaknya telah mempekerjakan 17.000 orang di 100 negara di seluruh dunia. Perusahaan bahkan telah menjalin 170 afiliasi di seluruh dunia termasuk UAE, Oman, dan Arab Saudi, dengan keuntungan tahunan sebesar US$ 200 juta.

Nama Mohed Altrad kini tak bisa dilepaskan dari Altrad Group, konglomerasi yang bergerak di bidang peralatan konstruksi dan industri. Lewat bisnisnya yang menggurita, Mohed Altrad masuk ke golongan jet set dengan kekayaan pribadi sekitar US$ 2,5 miliar. (Uli)