Dua Pesawat Bertabrakan Di Landasan, 583 Orang Tewas

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 30 Oktober 2019
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Tenerife adalah pulau yang bentuknya mirip wajan bergagang di Atlantik. Salah satu dari gugusan Kepulauan Canaria (Canary Islands), yang menjadi bagian dari Spanyol. Kota terbesarnya, Santa Cruz, memiliki bandara bernama Los Rodeos.Sebelumnya, nama Tenerife terdengar asing. Hingga hari itu, Minggu 27 Maret 1977, insiden kecelakaan udara terburuk dan paling mematikan sepanjang sejarah terjadi di sana. Tragedi diawali peristiwa ledakan bom di Bandara Las Palmas di Grand Canary, yang menghancurkan sebuah kios bunga di terminal keberangkatan. Ancaman bom kedua menyebabkan banyak pesawat, yang membawa calon turis kapal pesiar, dialihkan ke bandara terdekat, Los Rodeos.

Pesawat demi pesawat tiba dalam waktu berdekatan, sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Bandara kecil yang biasanya sepi dan tak penting itu sontak hiruk pikuk. Sejumlah kapal terbang diparkir di landasan yang panjangnya tak seberapa, saling menghalangi, dengan sayap bersenggolan. Suasana sungguh kacau. Apalagi, kemudian muncul kabar bandara Las Palmas, Grand Canary dinyatakan aman dan segera dibuka. Para penerbang yang lelah, jengkel, dan tak sabar menanti, ingin cepat-cepat pergi dari Los Rodeos dan tiba di tujuan. Dua pesawat Boeing 747, KLM Penerbangan 4805 dari Amsterdam dan Pan Am Penerbangan 1736 — yang terbang dari Los Angeles dan sempat transit di New York, lalu berjalan pelan menuju satu-satunya landasan yang tersedia. Demi mendapatkan posisi untuk lepas landas.

Kala itu, sekitar pukul 18.00 waktu setempat, cuaca cerah mendadak berganti mendung, diselimuti kabut tebal. Visibilitas rendah, para pilot di kedua pesawat tak bisa melihat satu sama lain. Pun dengan pengendali lalu lintas udara di menara. Penampakan 2 Boeing 747 jumbo jadi tak kentara. Karena bandara tak punya radar darat, petugas hanya bisa mengetahui posisi pesawat berdasarkan laporan yang disampaikan lewat radio. Serba karut marut. Sejumlah kesalahpahaman akhirnya berakibat fatal, KLM yang dipiloti Jacob Van Zanten mencoba lepas landas, tak menyadari Pam Am sedang melaju pelan memotong landasannya, seperti dikutip dari Liputan6.com (28/10/2019).

Tabrakan hebat tak terhindarkan.

Suara gemuruh memekakkan telinga. Dentuman keras yang bikin hati jeri terdengar di seluruh pulau. Orang-orang yang saat itu berada di bandara menjadi saksi sebuah peristiwa mengerikan: dua pesawat sarat penumpang yang pecah, puing yang terlontar ke rerumputan di sekitarnya, tanki bahan bakar terbakar dan akhirnya meledak. Bola api membara, asap kehitaman membumbung ke angkasa.

Kedua pesawat hancur. Ada 583 nyawa yang yang pisah dari raga kala itu. Seluruh orang yang berada di KLM, yang jumlahnya 248, tewas. Sementara, 335 dari 396 orang yang berada di pesawat Pan Am meninggal dunia — 61 lainnya termasuk kedua pilot dan teknisi penerbangan, selamat.

Pasca kejadian, area bandara, juga landasan, tertutup jelaga hitam. Asap masih mengepul di sana sini ketika petugas penyelamat darurat berupaya melakukan evakuasi, dengan jumlah korban jiwa yang tak terbayangkan banyaknya. Tentara pun akhirnya dikerahkan untuk membantu.

Floy Olson dan suaminya, Paul Heck beruntung selamat. Namun, trauma akibat kejadian saat itu tak lekang dari ingatan. “Aku terkejut bukan kepalang. Jika bukan karena suamiku, niscaya aku tak selamat. Aku mendengar seorang perempuan berteriak, ‘Kita dibom!’. Saat mengira diri ini sekarat, aku mendengar suamiku berteriak, ‘Floy, lepas sabuk pengamanmu dan cepat keluar’,” kata Floy Olson.

Tragedi di Tenerife hingga kini menjadi kecelakaan udara paling mematikan dalam sejarah. Melampaui korban jiwa dalam insiden sebelumnya, ketika Turkish Airlines celaka dekat Paris yang menyudahi 346 nyawa.

Selain tabrakan dua pesawat di Tenerife, tanggal 27 Maret menjadi tanggal yang dicatat dalam sejarah karena beragam peristiwa. Pada 1958, Nikita Khrushchev terpilih menjadi pemimpin Uni Soviet. Pada 1968, Soeharto dilantik sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia.

Sementara pada 2013, gempa bumi berkekuatan 6,0 skala Richter mengguncang Taiwan tengah, menewaskan 1 orang dan melukai 19 orang lainnya. Dan, sebagian rakyat Indonesia tak pernah melupakan tanggal yang sama di tahun 2009, saat tanggul Situ Gintung tiba-tiba bobol dini hari itu. Dipicu hujan deras yang mengguyur.

Situ Gintung menumpahkan 2,1 juta meter kubik air ke pemukiman yang terletak di bawah tanggul. Akibatnya, maut. Setidaknya 99 orang meninggal dunia karenanya. (Uli)