Dua Penyandang Disabilitas Parah Terpilih Jadi Anggota Parlemen Jepang

FOTO: bbc.com/indolinear.com
Minggu, 4 Agustus 2019

Indolinear.com, Tokyo – Dua orang difabel terpilih sebagai anggota parlemen pertama di Jepang yang menyandang disabilitas parah.

Sebagian besar tubuh Yasuhiko Funago dan Eiko Kimura lumpuh dan mengandalkan pengasuh untuk kebutuhan fisik mereka, dilansir dari Bbc.com (03/08/2019).

Terpilihnya mereka sebagai anggota parlemen pada bulan lalu dianggap sebagai langkah besar untuk mewakili aspirasi para penyandang disabilitas di negara itu.

Gedung parlemen Jepang bahkan telah dimodifikasi secara khusus untuk memudahkan akses mereka.

Setelah masuk gerbang utama melalui jalan khusus, keduanya untuk pertama kali mengambil posisi tempat duduk di hadapan para pendukung mereka.

Siapa mereka?

Yasuhiko Funago mengalami amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yang juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig. Dia berkomunikasi menggunakan sistem komputer atau melalui pengasuhnya.

Pria berusia 61 tahun itu didiagnosis mengidap penyakit neurologis progresif pada 2000 dan semenjak saat itu kehilangan mobilitas anggota tubuhnya.

“Saya sangat emosional saat terpilih sebagai anggota parlemen,” kata Funago, setelah pemilihannya pada Juli lalu.

“Saya mungkin terlihat lemah, tapi saya lebih bernyali ketimbang lainnya, karena ini adalah masalah hidup dan mati bagi saya.”

Pria berusia 61 tahun itu didiagnosis mengidap penyakit neurologis progresif pada 2000 dan semenjak saat itulah dia kehilangan mobilitas anggota tubuhnya.

Adapun Eiko Kimura mengidap cerebral pals. Diamengalami kelumpuhan dari lehernya hingga ke bawah kecuali tangan kanannya.

Dia mengalami disabilitas sejak berusia delapan tahun, tetapi dia sudah lama mengampanyekan agar kaum difabel mampu berintegrasi lebih baik ke dalam masyarakat.

Untuk apa mereka mencalonkan diri?

Keduanya terpilih sebagai anggota parlemen melalui partai oposisi berhaluan kiri, Reiwa Shinsengumi, yang didirikan oleh bekas aktor yang menjadi politisi, Taro Yamamoto.

Mengadvokasi masyarakat yang terpinggirkan, partai ini terutama berfokus pada orang-orang yang katanya diabaikan dalam masyarakat tradisional Jepang.

Selain para penyandang cacat, para kandidat yang diperjuangkan oleh partai ini adalah para orang tua tunggal, pekerja paruh waktu atau anggota minoritas seksual.

Reiwa Shinsengumi hanya memenangkan dua kursi dengan pemimpinnya, Taro Yamamoto, mendapatkan sebagian besar suara.

Eiko mengalami disabilitas sejak berusia delapan tahun, tetapi dia sudah lama mengampanyekan agar kaum difabel mampu berintegrasi lebih baik ke dalam masyarakat.Tetapi dengan adanya kebijakan perwakilan proporsional, partai tersebut berhak mendapat dua kursi yang ditempati Funago dan Kimura.

Modifikasi apa yang dibutuhkan?

Setelah mereka terpilih, parlemen Jepang atau majelis tinggi merenovasi sebagian sarananya untuk memudahkan bagi dua anggota parlemen baru tersebut.

Mereka bukanlah anggota parlemen pertama yang menggunakan kursi roda, tapi mereka adalah yang pertama dengan disabilitas parah.

Salah-satu modifikasinya adalah melepas kursi, sehingga kursi roda mereka bisa disesuaikan.

Selain itu sejumlah aturan harus direvisi sehingga memungkinkan pengasuh mereka dapat medndampingi selama rapat kerja atau acara lainnya.

Pemerintah Jepang mengatakan ada 9,63 juta orang yang menyandang disabilitas di negara tersebut.

Pada 2020, Tokyo akan menjadi tuan rumah Paralimpiade bersama dengan Olimpiade. (Uli)