Dua Pengusaha Wanita Indonesia Paling Berpengaruh Di 2020

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Selasa, 22 September 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Di tahun 2020 ini, dunia ditantang oleh kondisi pandemi yang mengharuskan setiap penduduk beradaptasi. Tantangan ini tentunya berlaku untuk semua kalangan, termasuk pebisnis yang sudah sukses sekalipun. Namun, bukan berarti mempertahankan bisnis di tengah pandemi merupakan hal yang mustahil.

Maka dari itu, Forbes merangkum 25 pemimpin bisnis wanita yang berhasil menunjukkan keberanian mereka dalam masa-masa sulit ini. Daftar pebisnis di Forbes Asia’s Power Businesswomen yang muncul tahun ini datang dari berbagai sektor, mulai dari bioteknologi, fintech, dan teknologi dalam edukasi (edtech), hingga sektor ritel, logistik dan hukum. Dari 25 daftar tersebut, terdapat dua putri bangsa yang berhasil terdaftar oleh Forbes, dilansir dari Merdeka.com (20/09/2020).

Mereka adalah Nabilah Alsagoff (53) dan Dewi Muliaty (67). Keduanya sudah eksis di dunia bisnis Indonesia sejak dekade lalu. Nabilah berkecimpung di bidang startup digital, sedangkan Dewi berkarya sesuai dengan profil studinya yaitu farmasi.

Nabilah Alsagoff

Pada 2005, saat Nabilah mulai membuat situs dengan dewan Pariwisata Bali, dia melihat bahwa bank lokal belum mampu memproses pembayaran online. Hal inilah yang memancing dirinya dan dua orang temannya untuk mendirikan Nusa Satu Inti Artha, yang terkenal dengan produk Doku-nya.

Sejak saat itu, Doku menjadi pelopor transaksi non-tunai di Indonesia melampaui beberapa bank domestik yang selanjutnya menawarkan fitur e-wallet (dompet elektronik).

Di 2016, Elang Mahkota Teknologi membeli sebagian besar saham di Nusa Satu dengan harga yang dirahasiakan. Meskipun begitu, Nabilah tetap berperan sebagai chief operating di Doku.

Prestasi Doku tentu tidak sampai di situ. Di 2019 lalu, Doku menangani pembayaran senilai Rp 63 triliun yang mana tumbuh 50 persen dari 2018. Hal ini menjadikan Doku sebagai layanan pembayaran elektronik terkemuka di Indonesia.

Di 2020 ini, Doku pun tetap produktif dan berkembang menjadi konsultan untuk membantu lebih banyak bisnis untuk bertransaksi secara online.

Dewi Muliaty

Sebagai presiden direktur dari Prodia Widyahusada, Dewi Muliaty memulai karier di bidang farmasi dengan belajar menjadi seorang Apoteker. Saat itu, profesornya, Andi Wijaya (yang merupakan pemilik Laboratorium Klinik Prodia), merekrut Dewi sebagai asisten manajer pada 1988.

Singkat cerita, 20 tahun kemudian, Dewi diangkat menjadi Presiden Direktur dan memimpin ekspansi Prodia secara nasional dengan meningkatkan jumlah klinik dari 107 di 2010 menjadi 285 klinik saat ini.

Dewi mengembangkan Prodia dengan meningkatkan pengujian gangguan autoimun serta penyakit lainnya, dan menjadi penyumbang seperlima dari pendapatan tahun lalu.

Adapun, Prodia sempat mengalami penurunan permintaan yang mendorong penjualan semester pertama turun 18 persen menjadi Rp 657 miliar. Saat itu, Dewi beralih menawarkan pengujian COVID-19 dengan cepat, dapat dilakukan secara drive-thru, di klinik, di rumah, lalu hasilnya akan dipublikasikan secara online.

Kisah Dewi maupun Nabilah menjadi tanda bahwa perempuan Indonesia selalu punya kesempatan untuk maju di panggung bisnis dunia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: