DPR Mendorong Dukungan Politik Permudah Kerja Sama RI-Serbia

FOTO: dpr.go.id/indolinear.com
Sabtu, 11 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI dipimpin Wakil Ketua BKSAP DPR RI Mardani Ali Sera menghelat pertemuan dengan Kementerian Perdagangan, Pariwisata, dan Telekomunikasi Serbia. Pertemuan menyepakati perlunya dukungan politik dari parlemen untuk mempermudah kerja sama antar kedua negara. Ia mengatakan, potensi besar jumlah penduduk Indonesia dengan bonus demografi angkatan muda Indonesia, akan menjelajahi dunia termasuk ke Serbia.

“Saya melihat, pentingnya memanfaat kebijakan resiprokal bebas visa, dalam kerangka meningkatkan bisnis antar-masyarakat atau antar-UMKM,” terang Mardani dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, dilansir dari Dpr.go.id (10/12/2021). Untuk itu, pihaknya meminta Pemerintah Indonesia mengoptimalkan kesepakatan KADIN kedua negara yang telah ditandatangani pada tahun 2019.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Ketua BKSAP DPR RI Putu Supadma Rudana mengakui bahwa perdagangan dan pariwisata mendapatkan tantangan sangat berat.  Ia menyebutkan bahwa di Indonesia sepanjang tahun 2020 telah kehilangaan sekitar 17 juta turis. Sementara Serbia sendiri menurut Stevan telah kehilangan sekitar 95 persen turisnya. Putu menegaskan bahwa Indonesia dengan lebih 270 juta dan kawasan ASEAN dengan sekitar 600 juta merupakan pasar yang sangat potensial.

Oleh karena, Indonesia sebagai hub ASEAN dan Serbia sebagai hub Balkan dengan populasi sekitar 60 juta jiwa perlu mempertimbangkan kebijakan travel bubble dan direct flight untuk memaksimalkan kebijakan bebas visa. “Juga bisa memanfaatkan influencer dari kedua negara sebagai bagian dari kebijakan low budget but high impact,” sebut Putu.

Adapun delegasi BKSAP disambut Wakil Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Telekomunikasi Serbia Stevan Nikcevic menyampaikan bahwa pada Mei 2020,  nilai perdagangan kedua negara merupakan yang terendah yaitu sekitar 20 US$ juta sebagai akibat pandemi. Menurutnya, terjadi penurunan impor dari Indonesia sekitar 50 persen dan demikian pula investasi yang rendah dari Indonesia di Serbia, yang hanya sektor makanan.

Maka dari itu, Stevan menyoroti urgensi dukungan politik bagi kerja sama perdagangan kedua negara. Lebih lanjut ia menjelaskan perlu ditingkatkan kerjasama antar-KADIN dan komunitas bisnis antara kedua negara. Ia juga menyebutkan potensi Serbia sebagai negara yang memiliki free custom territory dengan banyak negara termasuk dengan enam negara tetangga di Balkan. (Uli)

loading...