DPR Mendesak Komunikasi Intens Kemenkes Dan WHO Soal Hepatitis Misterius

FOTO: cnnindonesia.com/indolinear.com
Sabtu, 7 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Wakil Ketua DPR Komisi IX DPR RI Charles Honoris mendesak Kementerian Kesehatan untuk berkomunikasi intens dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) terkait penyebaran hepatitis akut misterius.

Dia mengatakan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga kini tentang penyakit tersebut, baik metode penularan, masa inkubasi, hingga tingkat kematiannya.

“Oleh karena itu Kementerian Kesehatan harus membuka komunikasi secara intens dengan otoritas kesehatan di berbagai negara dan juga WHO untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat khususnya terkait dengan protokol penanganan pasien,” kata Charles melalui pertanyaan resmi yang dilansir dari Cnnindonesia.com (06/05/2022).

Selain itu, Kemenkes harus berkoordinasi dengan dinas kesehatan di seluruh Indonesia untuk pengawasan kemunculan kasus-kasus baru di berbagai wilayah. Protokol penanganan perlu segera ditentukan demi percepatan penanganan pasien dan nyawa pasien bisa diselamatkan.

“Saya berharap pemerintah bisa memiliki pola komunikasi publik yang baik. Komunikasi publik yang dilakukan secara terbuka dan transparan dapat menghindari kepanikan publik dan penyebaran disinformasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, muncul dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini sudah masuk ke Indonesia. Dugaan muncul menyusul kasus kematian tiga pasien anak di RSCM karena kondisi serupa dengan hepatitis akut yang sedang marak di berbagai negara.

Namun, baik Kemenkes maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum bisa mengonfirmasi apa kasus kematian berkaitan dengan hepatitis akut atau bukan. Saat ini RS Sulianti Saroso dan Laboratorium FKUI ditunjuk untuk menyelidiki kasus kematian ini.

Selain kasus tiga pasien anak di RSCM, IDAI mengungkap ada dugaan penambahan kasus dari Jakarta dan daerah lain.

“Saya kira saat ini ada laporan dari Jakarta penambahan kasusnya, luar kota ada laporan dugaan penambahan kasus. Hal ini masih dalam investigasi apa masuk kriteria hepatitis akut atau bukan,” kata Hanifah dalam konferensi pers update perkembangan kasus hepatitis akut di Indonesia, Kamis (5/5). (Uli)