DPMP3AKB Tangsel Gelar Seminar dan Pengukuhan Jejaring Perlindungan Perempuan dan Anak

FOTO: Eksklusif DPMP3AKB Tangsel for indolinear.com
Rabu, 13 November 2019

Indolinear.com, Tangsel – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) menggelar Seminar dan Pengukuhan Jejaring Perlindungan Perempuan dan Anak di Plaza Balai Kota Tangsel, Ciputat pada Selasa, 12 November 2019.

Kepala DPMP3AKB Tangsel Khairati mengatakan, kegiatan seminar jejaring se Tangsel adalah bagian dari upaya Pemerintah Kota Tangsel memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Oleh karena itu, pada kegiatan ini diisi juga dengan pengukuhan jejaring perlindungan perempuan dan anak.

Dikatakannya, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berkomitmen memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. Saat ini, Kota Tangsel telah memiliki 548 satgas perlindungan anak tingkat RW.

Pembentukan satgas ini merupakan inisiasi dari Ka Seto pada tahun 2013 dan mendapatkan Rekor MURI dalam bidang kategori kota yang memiliki perlindungan anak sampai tingkat RW.

Upaya lainnya dalam rangka perlindungan anak adalah, pada tahun 2015 telah dibentuk Pos Pelayanan Terpadu (PPT) tingkat Kelurahan dan kini sudah terbentuk di 72 lokasi. Kemudian di tahun 2016, dibentuk aktivitas perlindungan anak terpadu berbasis anak di 24 Kelurahan dan kini memiliki 240 anggota.

“Kita sudah memiliki P2TP2A yang aktif sejak 2013, Puspaga sebagai pusat pembelajaran keluarga. Ini adalah jejaring kita semua dalam melakukan pencegahan kekerasan,” ujarnya.

Inilah jejaring kami di lapangan yang akan membantu dalam pencegahan kekerasan dan penanganan kekerasan pada perempuan dan anak. Mudah-mudahan kekerasan berkurang dan masalah kekerasan bisa kita tangani dengan tuntas dan pasti.

“Adapun tugas jejaring adalah melakukan upaya pencegahan dalam bentuk sosialisasi maupun penyuluhan masyarakat. Serta melakukan pendampingan dan melaporkan P2TP2A jika ada kasus,” jelasnya.

Lanjutnya, mengumpulkan data-data yang potensi terjadinya kekerasan dan memerlukan penanganan secara cepat. Membuat laporan secara berjenjang sesuai dengan alur yang sudah kita tetapkan.

“Dalam melaksanakan tugas memerlukan pengetahuan agar bisa mencegah kekerasan pada perempuan dan anak oleh karena itu perlu melakukan seminar yang kita laksanakan ini,” jelasnya.

Tujuan adanya seminar ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seluruh anggota jejaring perlindungan perempuan dan anak. Serta menjalin silaturahmi agar mengenal dan bisa berbagi informasi.

“Selain itu agar pihak kecamatan dapat bersinergi dalam melaksanakan kegiatan khususnya pencegahan dan penindakan penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak,” jelasnya.

Membangkitkan semangat motivasi dan membangun komitmen bersama antara sesama jejaring untuk melaksanakan tugas dengn ikhlas sehingga menjadi ladang amal untuk kita.

Pada kegiatan tersebut juga para mahasiswa melakukan deklarasi peduli anak dan penyerahan sertifikat relawan P2TP2A yang telah berjasa menanganu kasus dari 2010 hingga 2019.

“Kami atas nama pemkot dan DPMP3AKB mengucapkan terimakasih atas dedikasi dan sumbangsih pikiran maipun waktu dalam rangka membantu pemerintah dan masyarakat dalam pencegahan dan penanganan kekerasan di Tangsel,” jelasnya.

Sementara, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengucapkan terimakasih kepada mahasiswa karena telah melakukan deklarasi. Mahasiswa tentu pernah menjadi anak-anak. Kita melihat mahasiswa memiliki peran yang luar biasa.

“Ajak lagi temen mahasiswa lain untuk  melakukan kegiatan positif dan bisa berkolaborasi dengan jejaring lainnya,” ungkap Walikota Airin.

Korban kekerasan terhadap anak dan perempuan ada sejak jaman dulu. Sekarang banyak diketahui apalagi dengan media sosial makanya cepat tersebar. Ada juga kesadaran untuk menyampaikan. Jadi laporkan jika ada suami yang memukul istri atau orangtua memukul anak.

Anak yang melaporkan ibu bapak yang melakukan kekerasa sering dibilang durhaka, padahal itu harus dihentikan. Dilihat dulu seberapa keras kasus tersebut.

Kita tahu bersama manakala ada seorang kakek atau ayah kandung yang berani melakukan kekerasan terhadap anak kecil setelah ditanya, para pelaku kekerasan juga pernah mengalami kekerasan saat mereka kecil.

“Ini mata rantai yang sudah lama terjadi. Maka beruntunglah kita tidak mengalami kekerasan. Bisa menjadi ibu yang mendidik anak-anak dengan baik. Kita diberikan kepercayaan untuk dapat membantu kasus kekerasan,” jelas Airin dihadapan 750 peserta seminar.

Sementara, Psikolog Anak Seto Mulyadi menjelaskan bahwa pada tahun 2013 Tangsel telah mendapatkan rekor MURI karena seluruh RW nya memiliki Satgas Perlindungan Anak, di susul Kabupaten Banyuwangi, Bengkulu Utara dan akan ada beberapa di daerah Jakarta. Mereka semua berguru pada Kota Tangsel.

“Siapa pun yang melakukan kekerasan dalam anak maka akan di pidana selama 5 tahun. Maka dari itu kita harus peduli jika melihat kekerasan pada perempuan dan anak. Jika ada tetangga yang memukuli anaknya jangan diam, jika tidak bisa menegur langsung bisa lapor,” tegasnya.

Bullying pada anak memiliki banyak dampak, contohnya gelisah, cemas, rendah diri, malas belajar, panik, ingin bunuh diri, agresif dan kenakalan remaja. Jadi stop bullying agar tidak terjadi hal tersebut.(Adv)

INDOLINEAR.TV