Dongeng Rakyat Dari Amerika Serikat Tuan Kelinci Dan Bayi Ter

FOTO: dongengceritarakyat.com/indolinear.com
Minggu, 9 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Tuan rubah sangat membenci tuan kelinci. Ia selalu memikirkan berbagai cara untuk mencelakai tuan kelinci.

Suatu hari, tuan rubah membuat boneka bayi dari ter. Ter adalah cairan kental hitam seperti aspal yang Iengket. Bayi ter itu lucu sekali. Setelah mendudukkan bayi ter di pinggir jalan, tuan rubah bersembunyi di balik semak-semak. Tidak lama, tuan kelinci muncul. la melihat bayi ter yang lucu itu.

“Selamat siang,” sapa tuan kelinci. “Cerah sekali ya hari ini,” katanya lagi.

Tentu saja bayi ter itu diam tak dapat menjawab. Tuan kelinci menyapa lagi, “Apa kabarmu?”

Bayi ter tetap diam. Akhirnya, tuan kelinci pun kesal karena bayi ter itu tak kunjung menjawab sapaannya.

“Hei, Apa Kabarmu?” tuan kelinci membentak. Tapi, bayi ter tetap diam.

“Apakah kamu tuli?” tuan kelinci memukul bayi ter dengan tangan kanannya. Tangan kanannya menempel di tubuh bayi ter. la memukul dengan tangan kiri. Tangan kirinya juga menempel. Lalu, menendang bergantian dengan dua kaki. Kedua kakinya juga menempel

Tidak lama kemudian, tuan rubah keluar dari semak. “Aku mendapatkanrnu kali ini, Tuan Kelinci!” katanya menyeringai.

Tuan Kelinci dalam bahaya. Tapi, ia adalah binatang yang cerdik. “Aku mohon, Tuan Rubah. Apa pun yang kau lakukan, jangan lempar aku ke semak rumput berduri,” kata tuan kelinci.

“Mungkin aku akan memanggangmu atau menggantungmu,” seru tuan rubah, dilansir dari Dongengceritarakyat.com (08/08/2020).

“Panggang aku! Gantung aku! Asalkan jangan lempar aku ke semak rumput berduri,” kata tuan kelinci.

“Kau sepertinya takut pada semak berduri, ya. Kalau begitu, aku akan melemparmu ke sana. Tubuhmu pasti akan terkoyak-koyak,” kata tuan rubah sambil tertawa puas.Tanpa pikir panjang ia melemparkan tubuh tuan kelinci ke semak berduri.

“Aaaaaaaa…,” tuan kelinci berteriak. Lalu, suasana hening sejenak.

Tiba-tiba, betapa kagetnya tuan rubah ketika melihat tuan kelinci sedang duduk santai di kejauhan. “Aku dilahirkan di semak berduri itu, Tuan Rubah. Semak berduri tidak akan melukaiku,” kata tuan kelinci sambil tertawa.

Selamatlah tuan kelinci karena kecerdikannya. Sementara, tuan rubah menggerutu kesal dan pulang ke rumahnya.

Pesan Moral dari Cerita Pendek Bahasa Indonesia adalah jadilah anak yang cerdik agar kamu selalu bisa hadapi permasalahan dengan baik. Anak yang pintar akan merniliki banyak teman dan disukai banyak orang. Untuk menjadi anak yang cerdik, kamu harus belajar, membaca, dan bertanya kepada guru. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: