Dongeng Cerita Rakyat Korea Asal Muasal Matahari Dan Bulan

FOTO: dongengceritarakyat.com/indolinear.com
Rabu, 9 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Alkisah, ada seorang janda yang memiliki 2 anak.

Anak pertama laki-laki bernama Sulung, dan anak ke-2 perempuan bernama Bungsu.

Setiap hari, janda itu selalu meninggalkan kedua anaknya untuk pergi ke kota.

“Jangan bukakan pintu untuk orang yang tak kalian kenal,” pesan sang ibu.

“Baik, Bu. Kami akan menutup semua pintu dan jendela. Kami hanya akan membukanya jika Ibu pulang,” jawab Sulung.

Sang ibu pergi ke kota untuk menjual kue beras. Namun, hari itu amat sial baginya.

Hanya beberapa kue beras yang laku. Padahal, hari sudah hampir sore.

“Aku harus segera pulang. Aku tak mau anakku celaka di rumah. Biarlah kue ini kumakan bersama anak-anakku,” kata sang ibu.

Dalam perjalanan pulang, sang ibu dicegat oleh harimau yang jahat dan licik.

Harimau itu mengancam akan memangsa sang ibu.

“Berikan kue berasmu! Kalau tidak, kau akan kumakan!” ancam harimau.

Dengan tangan gemetar, sang ibu memberikan satu kue beras untuk harimau, lalu bergegas pergi.

Harimau itu ternyata belum puas.

Ia kembali mencegat ibu itu di bukit berikutnya.

“Aku tak mungkin menyerahkan semua kue ini. Anakku sedang menungguku di rumah. Mereka pasti amat kelaparan,” kata ibu itu.

Tetapi, harimau tak peduli. Akhirnya, sang ibu memberikan seluruh kue beras miliknya kepada harimau.

Kemudian, Sang ibu pun berlari lagi untuk menyelamatkan diri Harimau masih belum merasa kenyang. Ia pun mengejar ibu penjual kue beras itu lagi.

“Berikan kue berasmu lagi!” seru harimau, dilansir dari Dongengceritarakyat.com (08/06/2021).

“Sudah tak ada kue beras. Aku sudah memberikan semuanya kepadamu,” ucap ibu penjual kue beras dengan gemetar.

Tanpa membuang waktu, harimau pun langsung menerkam ibu penjual kue beras.

Setelah memangsa ibu penjual kue beras, harimau menyamar menjadi ibu itu.

Ya, ia hendak ke rumah ibu penjual kue beras.

“Anakku, bukakan pintu. Ibu pulang membawa kue untuk kalian!” seru harimau.

“Apakah di luar sana benar ibu kami?” tanya Sulung.

“Ya, aku ibu kalian. Lihatlah baju yang kukenakan dan remah kue beras yang aku tabur di bawah pintu,” jawab harimau.

Kedua anak itu lantas mengintip ke bawah pintu. Mereka pun percaya pada ucapan harimau.

Tanpa curiga, mereka membuka pintu.

“Hahaha! Akan kumakan kalian!” seru harimau dengan senang.

Kedua kakak beradik itu sontak berlari kencang, hingga sampailah mereka di sebuah pohon yang besar.

“Dewa, jika memang kami harus menjadi santapan harimau, tak apa. Tapi, jika kami harus selamat, selamatkan kami, dewa. Turunkan tali dari langit agar kami bisa naik,” pinta kedua anak itu.

Ternyata dewa mendengar doa mereka. Tampak tali panjang turun dari langit.

Kedua anak itu pun langsung memanjat. Namun, harimau juga ikut memanjat tali itu.

Terlihat dari atas langit, harimau sudah hampir sampai.

Kedua kakak beradik itu pun kembali berdoa, agar tali yang dinaiki harimau putus.

Untunglah, doa mereka dikabulkan. Harimau itu pun jatuh ke bumi dan seketika mati.

Kedua kakak beradik itu sungguh senang. Mereka selamat dari cengkeraman harimau.

Dewa lalu memberikan tugas kepada mereka. Sulung menjadi matahari dan Bungsu menjadi bulan.

Namun, setelah beberapa lama menjadi bulan, Bungsu jadi takut dengan malam.

“Baiklah, aku akan menggantikanmu menjadi bulan. Kau jadilah matahari yang selalu ada di siang hari,” ujar Sulung.

Sejak saat itu, Bungsu menjadi matahari, dan Sulung menjadi bulan.

Itulah cerita asal muasal matahari dan bulan yang berasal dari negeri Korea.

Pesan moral dari dongeng cerita pendek rakyat adalah jangan jadi anak yang serakah seperti harimau ya. Dan jangan menilai orang sebelum mengenalnya. Orang yang terlihat tulus bisa jadi sebenarnya serakah. (Uli)

loading...