Dokter Sebut Hypoxia Belum Tentu Dialami Pasien Covid-19

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 28 September 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Gejala happy hypoxia belakangan sering muncul sejak pandemi covid-19 muncul. Kepala Instalasi Gawat Darurat RS PGI Cikini Dokter Bintang Cristo Fernando menjelaskan happy hypoxia sebenarnya tidak spesifik terjadi pada pasien covid-19.

Menurutnya apabila ada seseorang yang memiliki gangguan pada paru-paru bisa berisiko memunculkan gejala tersebut karena kinerja paru memberikan oksigen yang cukup ke jaringan dan sel tubuh.

“Contoh yang paling sering memang pada pasien yang menderita infeksi paru, penyakit paru obstruksi kronik, serta tumor paru atau hingga ke keganasan yang menyebar ke parenkim paru,”tutur dokter Bintang, dilansir dari Tribunnews.com (27/09/2020).

Happy Hypoxia merupakan kondisi dimana tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Menurut dokter Bintang, kondisi tersebut biasa terjadi di jaringan dan sel yang kemudian dapat menimbulkan gejala atau keluhan klinis.“Berbeda dengan hypoksemia dimana terjadi kondisi kekurangan oksigen di dalam darah. Kondisi hypoksemia kemudian dapat menimbulkan hypoxia,” ucap dokter Bintang.

Berdasarkan hasil penelitian Scientific Report pada 22 Mei 2018, yang diterbitkan situs penelitian NCBI, terapi hidrogen bisa memperbaiki cedera paru yang diinduksi Hypoxia. Pada penelitian ini kata Dokter Bintang dinyatakan, bahwa hidrogen dapat memperbaiki cedera paru-paru yang diinduksi hypoxia dengan menghambat produksi radikal hidroksil (radikal bebas yang sangat reaktif) dan peradangan di paru-paru.

“Secara molekular, paru paru sering cedera akibat adanya pembentukan radikal hidroksil. Menurut tanggapan saya pada penelitian tersebut, dengan penggunaan hidrogen dalam jumlah konsentrasi tinggi (berikatan dengan air) akan menghambat sistem inflamasi di dalam paru-paru, sehingga mencegah dan mengurangi terjadinya kerusakan paru yang lebih luas atau masif dengan menghambat faktor-faktor peradangan dan inflamasi, “ jelas dokter Bintang menanggapi penelitian tersebut.

Penggunaan hidrogen untuk menjaga kesehatan dan bantu pencegahan berbagai penyakit di Indonesia sudah mulai diterapkan sebagian masyarakat.

Hal ini juga diakui oleh Leonardo Wiesan, pendiri perusahaan LiveWell Global, distributor Hydro-Gen Fontaine PEM and Inhaler dari Korea Selatan yang merupakan mesin generator portabel penghasil air bermolekul hidrogen tinggi.

“Saat ini permintaan terhadap Hydro-Gen Fontaine PEM and Inhaler semakin tinggi. Saya rasa masyarakat Indonesia mulai memahami manfaat air hidrogen. Masyarakat di negara maju sepeti Jepang, Korea , China sudah banyak menggunakan air minum berkandungan hidrogen sehari-harinya untuk menjaga kesehatan,” ujar Leonardo.

Leonardo menjelaskan, air dan inhalasi hidrogen juga telah mendapat respon positif dari para peneliti dunia untuk membantu perawatan pasien Covid-19 di Tiongkok.

“Hal ini bisa dilihat dalam jurnal Therapeutic Advances in Respiratory Disease yang diterbitkan situs penelitian NCBI berjudul Covid-19 dan inhalasi hidrogen, yang diterbitkan pada 30 Agustus 2020 lalu.

Di artikel tersebut, tertulis mengenai laporan Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok yang merekomendasikan terapi inhalasi perpaduan oksigen dan hidrogen pada perawatan pada pasien Covid-19 dengan pneumonia Tiongkok,” jelas Leonardo. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: