Diolok-olok Bakal Miskin Karena Jujur, Kehidupan Tukang Ojek Muda Berubah

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Senin, 27 Juni 2022
Unik | Uploader Yanti Romauli

Indolinear.com, Jakarta – Kisah yang dialami Emmanuel Tuloe memiliki cerita bak negeri dongeng. Kehidupan tukang ojek ini mendadak berubah setelah mengembalikan uang senilai $50.000 atau Rp718 juta.

Pemuda 19 tahun asal Liberia ini mengenakan seragam sekolah kemeja biru langit dan celana pendek biru tua. Dengan umur dan posturnya, Ia tentu saja terlihat aneh di kelas yang penuh dengan murid yang berusia enam tahun lebih muda darinya.

Namun Emmanuel yang putus sekolah sejak sekolah dasar itu justru terlihat paling gembira.

Tahun lalu ia berjuang untuk mencari nafkah sebagai tukang ojek dan tiba-tiba menemukan uang US$50.000 atau sekitar Rp718 juta terbungkus kantong plastik di pinggir jalan.

Emmanuel bisa saja menyimpan uang itu dan menggunakannya untuk keperluan pribadi. Namun ia memilih menyimpan uang itu kepada bibinya untuk disimpan hingga si pemilik mencari uang tersebut melalui bantuan radio nasional, dilansir dari Dream.co.id (25/06/2022).

Dicibir Hidup Miskin Karena Jujur

Bukannya pujian karena kejujurannya, ia malah dicemooh dan ditertawakan orang-orang yang mencibirnya akan akan mati dalam kemiskinan.

Namun tindakannya justru membuat Emmanuel mendapat hadiah besar dari Ricks Institute, salah satu sekolah paling bergengsi di Liberia.

Presiden George Weah memberinya US$10.000 dan pemilik media lokal juga memberinya uang tunai, beberapa di antaranya diperoleh dari pemirsa dan pendengar. Pemilik uang itu bahkan juga memberi Emmanuel senilai $1.500.

Tak sampai di situ, ia bahkan mendapat beasiswa penuh dari sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat setelah ia menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Kini Emmanuel fokus di Ricks, sebuah sekolah asrama yang didirikan 135 tahun yang lalu untuk kalangan elit masyarakat Liberia dari keturunan budak yang dibebaskan dan mendirikan negara itu.

“ Saya menikmati sekolah, bukan karena Ricks memiliki nama besar tetapi karena disiplin akademis dan moral,” kata Emmanuel.

Seperti banyak anak-anak Liberia dari latar belakang pedesaan yang miskin terpaksa melakukannya, ia putus sekolah pada usia sembilan tahun untuk mendapatkan uang guna membantu keluarganya.

Tak lama setelah ayahnya meninggal dalam kecelakaan tenggelam dan dia pergi untuk tinggal bersama bibinya. Dia menjadi sopir ojek hanya beberapa tahun kemudian.

Ketika Emmanuel pertama kali bergabung dengan kelas enam, dia merasa sedikit rendah diri dan tidak bisa menyuarakan dirinya sendiri di kelas.

” Secara akademis, dia datang dengan fondasi yang rendah, jadi kami mencoba memasukkannya ke dalam program pengayaan. Itu membantunya,” ujar guru Emmanuel.

Emmanuel juga menikmati kehidupan di asrama. Menurutnya, asrama dapat mengajarkannya hidup mandiri suatu hari nanti.

” Aku ingin belajar akuntansi di universitas untuk mempersiapkan diri membantu membimbing penggunaan uang negara,” kata Emmanuel.

Saat mengingat masa ketika ia diolok-olok karena mengembalikan uang, Emmanuel mengakui bahwa dia bisa menggunakan uang itu untuk memperbaiki kehidupannya.

” Tetapi itu tidak akan pernah memberi saya kesempatan yang saya miliki sekarang. Terima kasih kepada Tuhan dan oran tua saya yang telah mengajari saya untuk jujur,” tuturnya.

“ Pesan saya kepada semua anak muda adalah jujur itu baik, jangan mengambil apa yang bukan milikmu,” sambung Emmanuel.

Seorang temannya menyebut Emmanuel adalah sosok yang suka berbagi dan merawat.

” Teman baik yang kami suka berbagi dan merawat karena dia pendiam dan tidak banyak bicara. Dia setia, hormat dan jujur,” kata Bethlene Kelley, teman Emmanuel.

” Jika Emmanuel menemukan sesuatu yang bukan miliknya, dia melaporkannya kepada guru. Jika guru tidak ada, dia meletakkannya di meja mereka,” sambungnya. (Uli)