Dinkes Pastikan Belum Ada Kasus Hepatitis Akut Di Jabar

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 13 Mei 2022

Indolinear.com, Jawa Barat – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Dinas Kesehatan Jawa Barat (Jabar), dr. Ryan Bayu Santika Ristandi mengungkapkan, belum ditemukan kasus hepatitis akut di wilayahnya.

Hingga Kamis (12/5/2022), tidak ada kasus hepatitis akut di Jawa Barat.

Meski demikian, Ryan menyebut, pihaknya akan tetap waspada.

Mengingat, Kemenkes telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua minggu terakhir setelah WHO menyatakan kasus hepatitis akut menyerang anak-anak yang belum diketahui penyebabnya ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Hepatitis Misterius yang belum diketahui penyebabnya sampai saat ini belum ada di Jawa Barat,” ucapnya, dikutip dari Tribunnews.com (12/05/2022).

Lebih lanjut, Ryan menyebut, sudah melakukan pertemuan dengan para tenaga kesehatan di Jawa Barat untuk memastikan tidak ada kasus Hepatitis Akut.

“Namun demikian, dari hari pertama ada surat edaran kewaspadaan dari Kemenkes merespons dari WHO, kita langsung melakukan pertemuan virtual dengan 850 nakes seJawa Barat dari puskemasmas dan rumah sakit,” jelasnya.

“Kita pastikan sampai ke level terbawah di puskesmas, kita tetap waspada,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, ada 18 kasus dugaan hepatitis akut yang terdeteksi di Indonesia.

Dari total tersebut, sebanyak tujuh orang dilaporkan meninggal.

Sebelumnya, Kemenkes mengumumkan ada lima kasus kematian anak diduga akibat hepatitis akut hingga Selasa (10/5/2022).

Dengan rincian, tiga kasus berada di DKI Jakarta, satu kasus di Jawa Timur, dan satu kasus di Sumatera Barat.

Terbaru, ada tambahan kasus kematian dari DKI Jakarta dan Kalimantan Utara.

“Iya (tujuh kasus meninggal diduga akibat hepatitis akut), tambahan satu dari DKI Jakarta dan satu Kalimantan Timur,” kata Nadia.

Nadia juga menambahkan, hingga saat ini, terdapat 18 kasus diduga hepatitis akut, Kamis (12/5/2022).

Sembilan di antaranya dalam kategori pending klasifikasi dan tujuh pasien lain tidak ditemukan hepatitis akut dan dua pasien masih dalam pemeriksaan.

“Total 18 (kasus diduga hepatitis akut) 9 pending klasifikasi, 7 tidak masuk kriteria karena bukan hepatitis akut dan 2 masih dalam pemeriksaan,” jelasnya.

Ridwan Kamil Sebut Jawa Barat Siapkan Dua Laboratorium untuk Pemeriksaan Hepatitis Akut

Diberitakan Tribunnews.com, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menyiapkan dua laboratorium untuk mengidentifikasi penyakit hepatitis akut.

“Ada dua laboratorium yang disiapkan. Satu di RSHS (Rumah Sakit Umum Pusat Dr Hasan Sadikin), kedua di Labkesda Jabar (Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat),” katanya di Alun-Alun Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (12/5/2022).

Menurut Ridwan Kamil, proses identifikasi penyakit hepatitis akut bukan perkara yang mudah.

Ia menyebut, pemeriksaan terhadap pengidap penyakit hepatitis akut tidak seperti pemeriksaan Covid-19 yang menggunakan PCR.

“Makanya disebut hepatitis akut dengan sumber yang belum bisa dipastikan unidentified origin. Laboratorium sudah kita siapkan, per kemaren belum ada laporan. Media harus hati-hati, karena untuk mengkonfirmasi itu tipe yang itu tidak sesederhana mengetes dengan PCR,” jelasnya.

Virus Penyebab Hepatitis Akut Masih Diteliti

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan virus penyebab hepatitis akut pada anak masih belum bisa dipastikan.

Hingga kini, penelitian terkait penyebab hepatitis akut masih berlangsung.

Menurut Menkes, Indonesia telah bekerjasama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait penelitian hepatitis akut.

Dilaporkan terdapat 15 kasus dugaan hepatitis akut ditemukan di Indonesia hingga Senin (9/5/2022).

“Sampai sekarang kondisinya di Indonesia ada 15 kasus,” kata Menkes.

Kini, jumlah kasus dugaan hepatitis akut ini meningkat menjadi 18 kasus, Kamis (12/5/2022).

Budi menyebut, pihaknya telah berdiskusi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dan Inggris setelah Idul Fitri.

Namun, belum ada jawaban pasti soal penyebab kasus hepatitis akut.

“Dan kami sudah mendapatkan banyak informasi, memang kesimpulannya belum bisa dipastikan virus apa yang 100 persen menyebabkan adanya penyakit hepatitis akut,” jelasnya.

“Sekarang penelitian sedang dilakukan bersama-sama oleh Indonesia bekerjasama dengan WHO dan juga bekerjasama dengan Amerika dan Inggris untuk mendeteksi secara cepat penyebabnya apa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Menkes menjelaskan, virus penyebab hepatitis akut menular melalui asupan makanan atau lewat mulut.

Untuk itu, Menkes mengimbau masyarakat untuk rajin cuci tangan dan memastikan kesehatan asupan makanan setiap anak-anak.

“Jadi kita pastikan apa yang masuk ke anak-anak kita untuk bersih, karena ini menyerang di bawah 16 tahun dan lebih banyak lagi di bawah lima tahun,” ungkap Budi. (Uli)