Di Usia ke-70 Tahun, Kerja Sama Indonesia Dan Swiss Semakin Produktif

FOTO: dpr.go.id/indolinear.com
Rabu, 3 November 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Wakil ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Mardani Ali Sera menegaskan kembali komitmen Indonesia-Swiss untuk semakin memperkuat hubungan dan kerja sama bilateral di usia ke-70 tahun.

Hal itu disampaikannya saat menerima  Kunjungan Kehormatan Ketua Parlemen Swiss, H. E. Alex Kuprecht beserta jajaran di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (1/11/2021). Turut hadir Duta Besar Swiss untuk Republik Indonesia H. E. Kurt Kunz dan Wakil Ketua BKSAP Sihar Sitorus.

Menurut Mardani berbagai kemajuan signifikan telah menandai 70 Tahun hubungan bilateral RI-Swiss. Beberapa capaian signifikan yang telah dicapai, diantaranya berlakunya secara efektif Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) Indonesia-EFTA pada tanggal 01 November 2021. Persetujuan ekonomi ini merupakan yang pertama kalinya antara Indonesia dengan negara-negara Eropa.

“Sebagai focal point dari diplomasi parlemen Indonesia, pada prinsipnya diplomasi yang kami jalankan adalah untuk memperkuat diplomasi yang dilaksanakan oleh pemerintah. Oleh karena itu, kami (DPR RI) mendukung dengan penuh beberapa capaian yang signifikan dalam hubungan kedua negara, seperti Mutual Legal Assistance (MLA), perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Swiss dan kerja sama pembangunan yang didukung secara khusus,” kata Mardani, dilansir dari Dpr.go.id (02/11/2021)

Politisi Fraksi PKS ini juga mengapresiasi hasil referendum nasional di Swiss mengenai perjanjian perdagangan bebas antara Swiss dengan Indonesia baru-baru ini. Menurutnya, hasil referendum tersebut sebagai sebuah mekanisme demokratis telah memberikan kesempatan yang lebih bagi produk Indonesia, seperti kelapa sawit dan turunannya untuk masuk secara mudah ke Swiss.

“Kedepan, kami akan mendorong dan mengingatkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap ekspor dan impor antara kedua negara agar selalu memenuhi standar lingkungan dan sosial yang berlaku di Swiss,” terang Mardani.

Hal ini sejalan dengan efektifnya pembukaan pasar ke negara EFTA. Menurut dia, Swiss bisa menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia termasuk kela ke negara eropa lainnya. “Dengan dibukanya pintu Swiss, maka kita berharap Swiss bisa menjadi jembatan kita ke eropa menjadi sangat terbuka,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Mardani juga berpesan memperingati hubungan kerja sama yang telah terjalin selama 70 tahun, Indonesia dan Swiss dapat terus meningkatkan hubungan bilateral dan tentunya dapat terus saling memberikan dukungan di forum-forum internasional.

“Khususnya dalam isu-isu yang menjadi perhatian bersama, seperti perdagangan, kesehatan, mitigasi bencana termasuk juga perubahan iklim, ekonomi digital, Hak Asasi Manusia dan kemerdekaan bangsa palestina,” pesan Mardani. (Uli)