Di Tangerang Ada Laksa Tangerang yang Buka 24 Jam

liputan6com/indolinear.com
Kamis, 11 Oktober 2018

Indolinear.com, Jakarta – Tangerang memiliki ragam makanan tradisional, salah satu yang terkenal adalah laksa. Laksa merupakan makanan berbentuk seperti mi yang terbuat dari tepung beras, lalu disiram dengan kuah yang sudah diracik dengan berbagai bumbu alami.

Untuk bisa menikmatinya tak perlu bersusah payah. Sejak 2010, Pemerintah Kota Tangerang membuat sentra wisata kuliner yang khusus menyajikan laksa, dilansir dari Liputan6.com (10/10/2018).

Kawasan kuliner laksa itu terletak di Jalan Muhammad Yamin, Babakan, Kecamatan Tangerang. Dibangun di area lahan seluas 5000 m, pengunjung dimudahkan dengan berbagai fasilitas, seperti area parkir yang lumayan luas dan wifi gratis. Lokasinya juga sangat sejuk dan nyaman karena berada tepat di bawah pohon-pohon rindang.

Selain cita rasa, laksa yang disajikan juga mengutamakan kebersihan dan kesehatan. Para pedagangnya selalu membungkus tangannya dengan plastik ketika menyiapkan dan menyajikan laksa.

Di kawasan kuliner ini terdapat tujuh penjual laksa yang masing-masing dibantu tiga pekerja. Mereka adalah orang-orang pilihan karena sudah sejak lama menjual laksa dan dikenal pembuat laksa dengan rasa yang lezat. Mereka adalah Awing, Bewok, Kumis, UU, Lepay, Suro Brewok, dan Surya.

Tak Sampai Rp 50 Ribu

Menurut Awing, kawasan wisata kuliner laksa buka setiap hari, 24 jam nonstop. Ia yang menjual laksa sejak 90-an, mengaku mengalami peningkatan ekonomi setelah berjualan di lokasi wisata kuliner laksa.

Seluruh laksa buatannya selalu habis terjual dengan omzet yang didapat Rp 1,5 juta per hari dan mengalami lonjakan berkali lipat di hari Minggu, maupun hari libur nasional. “Kalau hari Minggu atau hari libur nasional, bisa sampai Rp 5 juta,” kata Awing.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Satu porsi laksa pakai ayam kampung dibanderol Rp 24 ribu, pakai telur Rp 14 ribu, pakai ati ampela Rp 16 ribu, dan laksa polos tanpa apa-apa Rp 10 ribu.

“Mau pakai ayam, ampela, telor, nggak nyampe Rp 50 ribu,” kata Awing sambil terkekeh dengan logat Betawi. (Uli)

%d blogger menyukai ini: