Di Kota Bekasi, Tim Pengecekan Kesehatan Hewan Kurban Disebar di Tiap-tiap Kecamatan

FOTO: jakarta.tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 26 Juli 2020

Indolinear.com, Bekasi – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi membentuk tim pengecekan kesehatan hewan kurban yang bekerja selama perayaan Iduladha 1441 Hijriah tim disebar di tiap-tiap kecamatan menyisir lapak pedagang hewan.

Berdasarkan surat edaran Wali Kota Bekasi tanggal 8 Juli 2020, nomor 451/4323-SETDA.Kessos, tim gabungan seluruhnya berjumlah 211 orang.

Sebagai rincian, tim pengecekan hewan terdiri dari 90 orang petugas Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan, 9 Orang Bidang Teknis Nakeswan.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sebanyak 6 orang, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat 50 orang dan petugas Kelurahan sebanyak 56 orang.

Petugas pengecekan kesehatan hewan mulai bekerja sejak 13 hingga 30 Juli 2020 mendatang ke lapak penjual hewan di Kota Bekasi.

Selain itu, petugas pengecekan juga akan melakukan pemeriksaan pada saat proses pemotongan dari 31 Juli 2020 hingga 2 Agustus 2020 mendatang di lokasi pemotongan.

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Kota Bekasi, Sariyanti mengatakan, tim pengecekan yang sudah dibentuk dibagi ke dalam enam tim.

Masing-masing tim kata dia, bertanggung jawab melakukan pengecekan di dua kecamatan di Kota Bekasi.

“Di Kota Bekasi ada 12 kecamatan, kita bentuk enam tim, satu tim pegang 2 kecamatan, semua titik (lapak pedagang diperiksa) karena waktunya panjang harapannya bisa selesai,” kata Sariyanti, dilansir dari Jakarta.tribunnews.com (25/07/2020).

Dia menjelaskan, pengecekan hewan kurban ini fokus pada pemeriksaan kesehatan dan mengantisipasi adanya penularan penyakit berbahaya.

Terdapat dua kategori penyakit yang dikhawatirkan yakni, antraks dan zoonosis atau infeksi yang muncul dari hewan dan dapat tertular ke manusia.

“Setiap hari tim ditargetkan mengecek lima sampai enam titik lapak penjual hewan, sampai saat ini belum ditemukan adanya hewan terjangkit penyakit,” terangnya.

Adapun untuk penyakit yang saat ini ditemukan kata dia, baru sebatas penyakit ringan seperti diare akibat hewan stres usai melakukan perjalanan.

“Kalau diare biasanya dia abis dari perjalanan jauh stres dan pergantian makanan, kalau ke tempat baru makanan nggak cocok, terus diare, itu tidak terlalu bahaya karena bisa disembuhkan,” tegas dia.

Untuk pemeriksaan hewan pada saat proses pemotongan, tim juga akan melakunan penyisiran dan memeriksa daging potong di lokasi pemotongan.

“Organ dalam biasanya kita pilah-pilah, misal ada penyakit berbahaya biasanya kita sarankan ke DKM, kalo dagingnya bisa dikonsumsi itu harus apkir (ditolak),” terangnya. (Uli)

loading...