Di Daerah Ini Warga Yang Pindah Rumah Dikawal Pasukan Kuda Massal

Selasa, 23 Februari 2016
loading...

Indolinear.com – Kebiasaan menunggang kuda secara massal, mungkin sudah jarang ditemui di Indonesia kecuali dalam lomba pacuan kuda. Namun berbeda di pulau Rote Ndao, NTT, yang merupakan satu-satunya kabupaten terselatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu. Warga di sana masih menjaga tradisi menunggang kuda secara massal dalam acara adat.

Tradisi menunggang kuda, atau dengan bahasa setempat disebut Hus, dilakukan pada saat upacara adat mengantar keluarga untuk masuk rumah baru, yang dimulai dari rumah lama.

Sebelum menunggang kuda secara massal dimulai, para tetua adat dan kerabat akan menggelar upacara adat di rumah tinggal lama, dan dilanjutkan dengan konvoi rombongan kuda hingga rumah baru.

Sesampai di rumah baru, kepala suku akan membacakan doa untuk meminta kehadiran para leluhur, agar melindungi dan mendukung keluarga yang akan menempati rumah baru ini.

Petrus Boik, salah satu penungang kuda di sela-sela upacara tersebut mengatakan, menunggang kuda merupakan tradisi leluhur yang dilakukan setiap tahun dengan digelarnya pacuan kuda.

“Sementara dalam tradisi Hus atau dengan kata lain, mengangkat kembali topi adatnya orang Rote Ndao (Tii Langga) sebagai lambang kebesaran daerah,” kata Petrus.

Sementara Bupati Rote Ndao, Leonard Haning mengatakan, pihaknya akan mengembangkan tradisi itu karena merupakan peradapan nenek moyang yang masih terjaga sampai sekarang.

“Tradisi ini merupakan kekayaan budaya yang wajib dijaga, serta harus digelar setiap tahun,” ungkapnya.

Leonard Haning juga menambahkan, tradisi ini merupakan aset daerah sehingga akan tetap dijaga dan dikembangkan untuk menarik wisatawan lokal maupun asing.

“Kita akan menggelar pacuan kuda tahunan, selain sebagai asset wisata, juga untuk untuk mengangkat topi Ti’i langga yang merupakan topi kebesaran orang Rote Ndao,” ungkapnya. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com