Devi Berkaki Palsu, Jemput Rezeki Dari Bendera Merah Putih

FOTO: detik.com/indolinear.com
Jumat, 16 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Kudus – Meskipun memiliki keterbatasan fisik tidak lantas membuat memadamkan semangat Devi Arisendi (31) untuk mencari rezeki di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19. Devi berjuang mencari nafkah untuk keluarganya dengan berjualan bendera di pinggir Jalan Kudus-Pati KM 4, Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.

Dilansir dari Detik.com (14/07/2021), Devi yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat tampak menunggu pelanggan yang datang di lapaknya,. Bendera hingga umbul-umbul dengan berbagai macam ukuran dijual oleh pria yang tampak mengenakan dua buah kuk dan bantuan kaki palsu. Meskipun begitu, pria yang memiliki dua anak itu tetap semangat untuk mencari rejeki.

Devi mengaku mengalami keterbatasan fisik sejak dia lahir. Dia kini memakai dua kaki palsu dan dua buah kruk. Devi biasanya bekerja sebagai buruh di tempat asalnya di Ciamis. Kini dia memilih untuk sementara berjualan bendera saat menjelang peringatan Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia.

Meskipun memiliki keterbatasan fisik dia mengaku tidak malu. Yang terpenting bagi dia yakni mencari rezeki halal dan tidak ada niatan untuk mengemis.

“Harus semangat karena punya tanggungan keluarga. Awalnya dulu ikut teman, kemudian kalau berjualan bendera bakal laku lumayan, yang penting tidak niat ngemis, saya jualan untuk bersaing dengan penjual yang lain,” kata Devi saat ditemui di Jalan Kudus – Pati KM 4, turut Desa Ngembal Kulon Kecamatan Jati, Kudus, dilansir dari Detik.com (14/07/2021).

Dia mengatakan sudah sembilan tahun belakangan selalu berjualan di Kudus menjelang HUT Kemerdekaan Indonesia. Devi datang ke Kota Kretek tidak sendiri, dia datang bersama dua teman lainnya. Mereka sama-sama berjualan bendera dan umbul-umbul.

“Saya, ada tiga rombongan ke Kudus ada teman di sini, karena di Kudus belum banyak yang jual bendera. Kalau Semarang-Solo sudah banyak, Kudus masih belum, sedikit,” papar dia.

Di tengah pandemi COVID-19, pendapatannya dari berjualan bendera dan umbul-umbul memang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan selama 10 hari di Kudus, dia tak mendapat pembeli sama sekali selama lima hari. Rencananya dia berjualan di Kudus sampai tanggal 14 Agustus 2020.

“Permintaan sepi, beda kayak tahun kemarin. Ngerasain, kemarin tidak laku selama lima hari, dari pagi sampai sore, zonk (tanpa pembeli) terus, tahun kemarin tidak ada zonk,” ujar dia.

Tahun lalu, dia menjelaskan dalam sehari bisa menjual 20-30 kodi bendera per hari. Namun saat ini satu kodi bendera ataupun umbul-umbul laku sudah terbilang bagus.

“Ini yang saya jual ada bendera, umbul-umbul dengan berbagai ukuran dan juga background,” kata dia.

Harga bendera dan umbul-umbul yang dijual bervariasi. Tergantung jenis dan ukuran. Paling murah dipatok dengan harga Rp 20 ribu sedangkan yang paling mahal Rp 300 ribu.

“Harganya dari Rp 20 ribu sampai dengan Rp 300 ribu. Itu harga sama dengan harga tahun lalu. Tidak ada kenaikan,” kata dia.

Menurutnya, pendapat terbanyak diperolehnya pada tahun pertama dia berjualan di Kudus. Pada saat itu dia bersama dengan rombongan lima orang mampu membawa uang pulang Rp 50 juta setelah berjualan selama dua minggu.

“Yang bagus lima tahun ke belakang. Berlima itu nyampai setoran Rp 50 juta orang kelima. Rata-rata satu orang Rp 10 juta,” ujar Devi. (Uli)