Detik-Detik Ledakan Nuklir Terbesar Rusia Yang Dikecam Dunia

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 1 Desember 2019

Indolinear.com, Novaya Zemlya – Tepat 58 tahun yang lalu, aksi uji coba nuklir Rusia diluncurkan dan membuat protes warga dunia.

Senjata nuklir ‘Tsar Bomba’ –yang menyebabkan ledakan terbesar buatan manusia– itu diyakini berdaya 50 megaton atau setara dengan 50 juta ton TNT.

Uji coba ke-26 ini dilakukan dari Novaya Zemlya di Pulau Arktik, di sekitar Kutub Utara, meskipun sempat diprotes berulang kali oleh pihak Barat. Gelombang kejut dari ledakan pertama dirasakan lembaga seismologi di Uppsala Swedia pada pukul 08.30 GMT.

Ledakan nuklir pada 30 Oktober 1961 itu, disebutkan 2,5 kali lebih kuat dari uji coba nuklir Rusia yang dilakukan sepekan sebelumnya menggunakan bahan peledak berdaya 30 megaton.

Seorang juru bicara di Observatorium Kew, Inggris membenarkan kekuatan dahsyat ledakan nuklir tersebut. Gelombang listrik dari ledakan itu tercatat sekitar pukul 11.51 GMT.

“Ledakan yang satu ini benar-benar besar. Yang terbesar yang pernah saya catat,” kata si jubir tersebut, dilansir dari Liputan6.com (29/11/2019).

Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri di Rusia menolak untuk berkomentar.

Tuai Kecaman

Sebelum uji coba ledakan nuklir tersebut, PBB telah mengirimkan banding resmi meminta Rusia untuk tidak melanjutkan program pengujian nuklirnya. Namun hal itu tak digubris pemerintah Negeri Beruang Merah tersebut.

“Pemerintah Inggris sangat menyesalkan berita ledakan nuklir terbaru dan terbesar Rusia kali ini. 87 negara mengajukan banding ke pemimpin Soviet atas ledakan nuklir setara bom 50 megaton, yang membahayakan kesehatan jutaan orang di dunia,” kata Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Home.

“Pemerintah Inggris menyampaikan kemarahan dunia atas pengabaian kesejahteraan dan keselamatan umat manusia,” imbuh Home.

Di samping itu, pemerintah Amerika Serikat menegaskan, pembuatan bom 50 dan 100 megaton sudah dikenal selama bertahun-tahun. Tapi diyakini bahwa senjata yang lebih kecil lebih efektif.

“Ini adalah fakta ilmiah, bahwa 5 senjata berdaya 20 megaton akan menyebabkan kerusakan lebih banyak daripada 1 senjata berkekuatan 100 megaton,” tutur salah seorang juru bicara Gedung Putih. (Uli)

INDOLINEAR.TV