Deepwater Horizon Meledak, Picu Tumpahan Minyak Terbesar Dalam Sejarah

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 21 Mei 2020

Indolinear.com, Louisiana – Pada 20 April 2010, sebuah ledakan dan kebakaran di atas anjungan pengeboran minyak Deepwater Horizon di Teluk Meksiko, sekitar 50 mil di lepas pantai Louisiana, Amerika Serikat.

Insiden itu membunuh 11 orang dan memicu tumpahan minyak lepas pantai terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (19/05/2020).

Anjungan tersebut telah berada di tahap akhir pengeboran sumur eksplorasi untuk BP (British Petroleum), raksasa minyak Inggris.

Pada saat sumur ditutup tiga bulan kemudian, diperkirakan 4,9 juta barel (atau sekitar 206 juta galon) minyak mentah telah mengalir ke Teluk Meksiko.

Kronologi Bencana

Bencana dimulai ketika gelombang gas alam dari sumur menembakan pipa yang naik ke platform anjungan pengeboran, di mana ia memicu serangkaian ledakan dan api besar.

Dari 126 orang di dalam Deepwater Horizon yang panjangnya hampir 400 kaki, 11 pekerja tewas dan 17 lainnya terluka parah.

Api membakar selama lebih dari sehari sebelum Deepwater Horizon, dibangun dengan bujet US$ 350 juta pada 2001, tenggelam pada 22 April 2010.

Sebelum mengevakuasi Deepwater Horizon, anggota kru mencoba –namun gagal– untuk mengaktifkan perangkat keselamatan yang disebut pencegah ledakan, yang dirancang untuk mematikan aliran minyak dari sumur dalam keadaan darurat.

Selama tiga bulan berikutnya, berbagai teknik dicoba dalam upaya untuk memperbaiki lubang pengeboran, yang memuntahkan ribuan barel minyak ke Teluk setiap hari.

Akhirnya, pada 15 Juli, BP mengumumkan sumur telah ditutup sementara, dan pada 19 September, setelah semen disuntikkan ke sumur untuk menutupnya secara permanen, pemerintah federal menyatakan sumur itu mati.

Namun, pada saat itu, minyak dari tumpahan telah mencapai wilayah pesisir Louisiana, Mississippi, Alabama, dan Florida, di mana ia akan menimbulkan banyak kerugian pada perekonomian kawasan, khususnya industri perikanan dan pariwisata, dan margasatwa.

Para ilmuwan mengatakan, tingkat kerusakan lingkungan yang menyeluruh dapat membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menilai.

Pada Januari 2011, sebuah komisi investigasi nasional merilis sebuah laporan yang menyimpulkan bahwa bencana Deepwater Horizon “dapat diramalkan dan dapat dicegah” dan hasil dari “kesalahan manusia, kesalahan teknis dan kegagalan manajemen,” bersamaan dengan peraturan pemerintah yang tidak efektif.

Pada November 2012, BP setuju untuk mengaku bersalah atas 14 tuntutan pidana yang diajukan oleh Departemen Kehakiman AS, dan membayar denda US$ 4,5 miliar.

Selain itu, Departemen Kehakiman mendakwa dua manajer BP yang mengawasi pengujian sumur dengan pembunuhan tak berencana, dan eksekutif perusahaan lain membuat pernyataan palsu tentang dampak tumpahan. Pada Juli 2015, BP setuju untuk membayar denda US$ 18,7 miliar. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

INDOLINEAR.TV