Daerah Banten Masih Jadi Tujuan Utama Ekspor AS

googlecoid/indolinear.com
Senin, 27 November 2017
loading...

Indolinear.com, Banten – Banten sampai saat ini masih menjadi daerah yang terus dibidik Amerika Serikat (AS). Banten masih menjadi tujuan utama ekspor AS hingga September 2017 mencapai nilai US$ 142,77 juta disusul Tiongkok US$ 120,89 juta dan Jepang US$ 65,70 juta.

“Dominannya ekspor Banten ke AS karena negara Paman Sam tersebut butuh barang alas kaki seperti sepatu dan sendal yang banyak diproduksi di Banten,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Sabtu (25/11/2017) dilansir beritasatu.com.

Adapun nilai ekspor nonmigas 12 negara tujuan pada September 2017 mencapai US$ 613,99 juta turun 13,71 persen atau sebesar US$ 97,55 juta dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan tertinggi berasal dari Amerika Serikat yang turun US$ 29,61 juta, sedangkan penurunan terendah terjadi pada Australia yaitu sebesar US$ 0,24 juta.

Soebeno mengatakan nilai ekspor nonmigas gabungan dengan tujuan negara-negara Uni Eropa mengalami penurunan sebesar US$ 2,07 juta, demikian pula pada negara-negara ASEAN yang mengalami penurunan US$ 13,92 juta.

Secara kumulatif, ekspor nonmigas periode Januari – September 2017 untuk dua belas negara tujuan utama meningkat 26,14 persen dibanding periode sama tahun 2016. 11 dari 12 negara tujuan ekspor nonmigas mengalami peningkatan nilai ekspor, kecuali Jerman yang turun sebesar US$ 35 juta atau 15,35 persen. Peningkatan tertinggi terjadi pada Tiongkok yang naik US$ 347,32 juta.

“Pangsa ekspor nonmigas terbesar masih berasal dari Amerika Serikat, yaitu mencapai 16,99 persen, sementara pangsa ekspor untuk negara-negara ASEAN dan Uni Eropa, masing-masing 23,91 persen dan 10,13 persen,” katanya.

Nilai ekspor nonmigas Banten September 2017 turun 10,35 persen dari US$ 984,21 juta menjadi US$ 882,35 juta, sedangkan ekspor migas naik dari US$ 1,45 juta menjadi US$ 7,80 juta.

12 negara tujuan utama ekspor nonmigas Banten adalah Thailand senilai US$ 55,28 juta, Malaysia (US$ 46,82 juta), Filipina (US$ 45,65 juta), Jerman (US$ 20,67 juta), Belgia (US$ 18,38 juta), Belanda (US$ 15,29 juta), Amerika Serikat (US$ 142,77 juta), Tiongkok (US$ 120,89 juta), Jepang (US$ 65,70 juta), India (US$ 36,05 juta), Korea Selatan (US$ 24,12 juta) dan Australia (US$ 22,38 juta). (Gie)