Curtis Blaydes Belajar dari Kekalahan Menyakitkan Kontra Derrick Lewis

FOTO: kompas.com/indolinear.com
Sabtu, 25 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Petarung UFC Curtis Blaydes mengaku sudah banyak belajar dari kekalahan menyakitkan pada duel terakhirnya saat ia menderita kekalahan KO mengejutkan kontra Derrick Lewis.

Curtis Blaydes akan naik ke oktagon pada UFC 266, Minggu (26/9/2021) pagi WIB, untuk menghadapi petarung asal Brasil, Jairzinho Rozenstruik.

Duel divisi kelas Curtis Blaydes vs Jairzinho Rozenstruik memang bukan main event UFC 266 di T-Mobile Arena, Las Vegas, Nevada tersebut. Namun, pertarungan keduanya bakal menggema di divisi kelas berat.

Saat ini Blaydes duduk di peringkat keempat sementara lawannya berada di peringkat keenam.

Siapapun yang menang besar kemungkinan punya kehormatan untuk menjajal pemenang sang juara divisi Francis Ngannou atau pemegang sabuk interim Ciryl Gane.

Petarung berusia 30 tahun itu sebenarnya punya catatan hebat sebelum pertarungan terakhirnya di divisi kelas berat.

Ia hanya pernah merasakan dua kekalahan kontra Francis Ngannou sepanjang kariernya di UFC sejak 2016.

Akan tetapi, Blaydes harus mengakui keunggulan Derrick Lewis yang mencatatkan kemenangan KO pada ronde kedua saat keduanya berduel di UFC FIght Night: Blaydes vs Lewis, pada 20 Februari 2021.

Kini, tujuh bulan setelah kekalahan tersebut, Blaydes sekarang akan menghadapi Rozenstruik, seorang petarung yang terkenal dengan pukulan-pukulannya seperti Lewis.

Dilansir dari Kompas.com (24/09/2021) ia dan timnya tak merancang persiapan terlalu spesifik jelang duel ini.

“Persiapan standar. Kebanyakan lawan-lawan saya punya background seperti Jairzinho,” ujarnya.

“Kami tak perlu menambah atau mengurangi terlalu banyak dari apa yang telah kami kerjakan di level tertinggi.

” Berbicara mengenai kekalahan di laga kontra Lewis, Blaydes menceritakan suatu hal di laga tersebut yang memberinya pelajaran agar dapat menjadi petarung lebih baik pada masa depan. “Saya belajar untuk lebih sabar. Itu yang terjadi,” tutur pria yang gemar bermain video game ini.

“Saya terburu-buru. Saya sedang dalam posisi menang tetapi terburu-buru.” “Saya memaksakan takedown dan membayar harga untuk menjadi tidak sabar.” “Itu benar-benar satu hal yang saya pelajari dari laga tersebut. Kesabaran adalah kunci.” (Uli)