Cuaca Kering Memicu Kebakaran Hutan Di Pesisir Laut Tengah

FOTO: dw.com/indolinear.com
Kamis, 19 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Yerusalem – Sudah sejak tiga hari petugas pemadam Israel berjibaku meredam sebaran api yang berkobar di sebuah kawasan hutan di barat Yerusalem, dan mengancam penduduk lokal. Sebanyak 110 petugas diterjunkan bersama delapan pesawat pengebom air.

Api dikabarkan menjalar di area seluas 20 kilometer persegi, dan tercatat sebagai yang paling parah dalam sejarah Israel.

Senin (16/8), pemerintah meminta bantuan Yunani untuk melawan api. Menteri Luar Negeri Yair Lapid juga mengaku telah mengirimkan permintaan serupa kepada Siprus, Italia dan Prancis.

Suhu yang kering dan panas, ditambah dengan musim dingin yang singkat, diyakini menempatkan kawasan hutan di Israel di bawah ancaman kebakaran. Api yang menjalar sejak Minggu (15/8) sejauh ini menyelimuti kota Yerusalem dengan asap tebal.

Di Yunani sendiri, pemerintah membutuhkan bantuan dari Polandia untuk memadamkan api yang kembali menyala di sekitar Athena sejak Senin (16/8). Sebanyak 143 petugas pemadam kebakaran dikirimkan Polandia untuk memperkuat sekitar 180 petugas Yunani yang diterjunkan di sekitar ibu kota dan kawasan Keratea.

Menurut otoritas pemadaman, kebakaran di dua tempat merupakan yang terparah dari belasan titik api yang muncul di Yunani pada Senin, dilansir dari Tribunnews.com (18/08/2021).

Cuaca kering kompori karhutla

Gelombang panas dan kebakaran hutan yang melanda kawasan pesisir Laut Tengah selama Agustus ini telah menewaskan setidaknya 75 orang di Aljazair, dan 16 di Turki. Adapun Italia mengabarkan tujuh korban jiwa.

Adapun di Prancis, ribuan warga dan wisatawan harus dievakuasi dari kawasan Var di selatan, ketika api menjalar cepat. “Ribuan sudah diselamatkan sebagai langkah antisipasi. Tidak ada korban. Sekitar 750 petugas sedang memadamkan api yang saat ini masih sangat besar,” kata seorang juru bicara otoritas pemadaman lokal.

Musim kering yang ekstrem di utara Siberia dan barat Amerika Serikat juga memicu kebakaran hutan hebat sepanjang musim panas ini. Di Kalifornia, AS, otoritas setempat bersiap menghadapi kebakaran baru menyusul kekeringan dan kecepatan angin yang tinggi.

Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), bulan Juli 2021 merupakan “bulan paling panas dalam sejarah pencatatan cuaca,” kata Rick Spinard, Direktur NOAA. “Rekor baru ini menyerupai pola kerusakan yang dipicu perubahan iklim di seluruh dunia,” imbuhnya.

Akibat cuaca kering, kawasan barat Amerika Serikat ikut dilanda kelangkaan air, terutama di basin Sungai Colorado. Saat ini waduk yang menampung air sungai hanya terisi sepertiga dari kapasitas normal.

Akibatnya pemerintah terpaksa menjatah pasokan air untuk kawasan sekitar. Menurut Badan Survey Geologi AS, USGS, arus Sungai Colorado menyusut rata-rata 20 persen selama satu abad terakhir.

Fenomena kekeringan di barat AS dan pesisir Laut Tengah berdiri selaras dengan laporan Panel Iklim PBB (IPCC) perihal ancaman kelangkaan air yang yang bakal melanda di dunia. Dalam laporan yang diterima AFP, cuaca kering dan gelombang panas disebut sebagai faktor utama

“Secara global, sebanyak 800 juta manusia diperkirakan akan mengalami kelangkaan air kronis yang dipicu kekeringan akibat kenaikan rata-rata suhu Bumi sebanyak dua derajat Celcius,” tulis IPCC. (Uli)