Cerita Rakyat Yogyakarta, Mitos Sendang Toino: Solusi Enteng Jodoh

FOTO: yogya.inews.id/indolinear.com
Jumat, 17 Desember 2021

Indolinear.com, Yogyakarta – Cerita Rakyat Yogyakarta kali ini berasal dari Kelurahan Pandowoharjo, Sleman. Padukuhan Toino namanya, berbatasan langsung dengan Sungai Denggung, padukuhan ini   tidak pernah sama sekali merasakan kekeringan.

Airnya melimpah dan mengalir terus sepanjang tahun. Hal ini tentu menyebabkan dukuh Toino ini tumbuh menjadi padukuhan yang subur. Namun, dibalik itu semua, padukuhan ini mempunyai cerita mitos di dalamnya.

Penasaran, berikut adalah kutipan cerita mitos yang dilansir dari Yogya.inews.id (16/12/2021) : Dahulu kala, hiduplah seorang Dewi yang bernama Dewi Toh Ino. Dinamakan Toh Ino, karena dia memiliki toh atau tompel di tubuhnya.

Hal ini menyebabkan dirinya kerap diejek, dicaci, dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Pasalnya tidak hanya memperburuk tubuh atau menganggu pandangan orang secara rupa dan fisik, toh dianggap oleh masyarakat setempat sebagai pembawa sial atau sebuah kutukan.

Namun, pada suatu ketika, Dewi Toh Ino mencoba untuk mandi di salah satu sendang atau sumber mata air yang berada di sungai wilayah padukuhan. Ini merupakan kali pertama dirinya mandi di situ.

Meski baru awal, dirinya merasakan adanya sebuah perubahan dari dalam dirinya, terutama pada tompel yang ada di tubuhnya. Tak merasa puas, Dewi Toh Ino mengulangi hal yang sama, yakni mandi di sendang tersebut hingga berkali-kali.

Usaha dan kesabaran yang dilakukannya selama beberapa waktu belakangan ini, ternyata membuahkan hasil. Semua toh atau tompel yang ada pada tubuhnya semua sirna. Hilang dan bersih.

Begitulah kiranya hasil dari usaha Dewi Toh Ino selama ini. Akhirnya, dirinya menjadi wanita yang cantik. Tak ada lagi yang menggunjingnya. Bahkan, tidak sedikit laki-laki yang jatuh cinta kepadanya dan mengantre untuk menjadi pendaming hidupnya.

Begitulah kiranya, cerita rakyat singkat mitos Sendang Toino yang hingga saat ini masih dipercaya. Tidak sedikit orang tua-orang tua yang menyuruh anak perempuannya yang tak kunjung menikah untuk sekedar meraupkan wajahnya bahkan mandi di Sendang Toh Ino ini.

Harapan dengan melakukan hal itu, maka anak perempuannya akan segera mendapat jodoh yang sesuai. Namun, saat ini, sumber air mata di Sendang TohIno ini tidak lagi digunakan sebagai tempat mandi,  melainkan dialirkan ke rumah-rumah warga dengan mengubahnya sebagai Perusahaan Air Minum (PAM). (Uli)

loading...