Cerita Rakyat Yogyakarta, Asal Mula Tombak Kyai Pleret

FOTO: yogya.inews.id/indolinear.com
Minggu, 19 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Cerita rakyat Yogyakarta menarik untuk diikuti. Salah satuny aadalah cerita tentang asal mula Tombak Kyia Pleret.  Mungkin masih banyak masyarakat Indonesia atau bahkan masyarakat Yogyakarta yang belum mengetahui cerita atau kisah asal mula Tombak Kyai Pleret.

Kisah atau cerita yang satu ini menjadi salah satu bukti peninggalan kerajaan Mataram yang cukup legendaris, dilansir dari Yogya.inews.id (18/12/2021).

Cerita mengenai asal usul tombak Kyai Pleret ini tidak cukup familiar. Buat kamu yang belum mengetahui kisah tersebut mari kita simak cerita rakyat Yogyakarta, asal mula Tombak Kyai Pleret.

Alkisah pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemimpin atau raja di suatu daerah di Jawa Timur. Pemimpin tersebut bernama Tumenggung Wilatikta. Dia dikenal sebagai pemimpin yang sangat berwibawa dan juga disegani oleh rakyatnya.

Tumenggung Walitikta memiliki dua anak, yaitu seorang anak laki laki dan seorang anak perempuan. Anak laki lakinya bernama Raden Sahid sedangkan anak perempuannya bernama Rasa Wulan. Kedua bersaudara ini sangat dekat satu sama lain.

Pada suatu hari, Tumenggung Walitikta memanggil anak anaknya. Dia memanggil anaknya guna menyampikan bahwa umur sang putra sudah cukup dewasa dan dirasa sudah bisa untuk menggantikan ia sebagai tumenggung disana.

Raden Sahid mendengarkan perkataan sang ayahanda dengan seksama, ditemani oleh sang adik.  Dia mendengarkan perkataan ayahnya dengan kepala tertunduk sebagai bentuk rasa hormat kepada sang ayah.

Tumenggung Walitikta kemudian menyampaikan kepada Raden Sahid untuk segera menikah sebelum resmi menggantikan ayahnya sebagai Tumenggung.

Mendengar perkataan ayahnya tersebut, Raden Sahid hanya duduk termenung tanpa bisa menjawab apa apa. Dalam dirinya, dia belum memiliki niat untuk menikah. Namun, ia juga tidak berani membantah perintah sang ayah.

Tumenggung Walitikta yang melihat anak anaknya hanya terdiam kemudian menanyakan apakah Raden Sahid menyanggupi atau menolak permintaannya.

Raden Sahid menjelaskan bahwa dia tidak berniat untuk menolak, namun dia hanya masih mempertimbangkan wanita mana yang pantas untuk dia nikahi, sehingga dia tidak bisa buru buru menjawab permintaan sang ayah.

Mendengar jawaban sang anak, Tumenggung Wilatikta membiarkan anak laki lakinya untuk berpikir terlebih dahulu.

Setelah selesai dengan sang putra, giliran anak perempuannya, Rasa Wulan yang diberikan wejangan dari sang ayah bahwa ia harus siap siap apabila ada lamaran yang datang kepadanya. Rasa Wulan hanya mengangguk dan kemudian pamit meninggalkan sang ayah.

Namun, sama seperti kakaknya, Rasa Wulan juga sebenarnya belum siap untuk menikah, tapi dia tidak berani menolak atau membantah perintah ayahnya.

Pada malam harinya, Raden Sahid merasa gelisah dan tidak bisa tidur mengingat perkataan ayahnya. Karena tidak ingin dipaksa untuk menikah, Raden Sahid memutuskan untuk melarikan diri dari rumahnya.

Kaburnya Raden Sahid tidak diketahui siapapun kecuali Rasa Wulan yang mengetahui kamar kakaknya kosong. Dia merasa heran kenapa kakaknya kabur sendirian. Sebelum penghuni rumah bangun, Rasa Wulan kemudian mengemasi barang barangnya lalu pergi meninggalkan rumah.

Kepergian anak Tumenggung Wilatikta tidak diketahui siapapun hingga malam hari.  Mengetahui anaknya pergi dari rumah, Tumenggung Wilatikta kemudian menyuruh semua bawahannya untuk mencari kedua anaknya tersebut.

Sayangnya, usaha Tumenggung Wilatikta untuk mencari anaknya tidak membuahkan hasil sama sekali.  Waktu berlalu, bulan berganti tahun. Sudah bertahun tahun semenjak perstiwa kaburnya Raden Sahid dan Rasa Wulan namun belum juga ditemukan.

Di daerah yang lain Raden Sahid sibuk menggembara setelah mengalami berbagai beragam penderitaan yang cukup berat. Ia juga sempat menjadi seorang berandal di hutan dan merampas harta milik orang kaya yang kemudian ia bagikan kepada rakyat miskin.

Sementara itu ditempat berbeda, Rasa Wulan sangat berharap bisa bertemu dengan kakaknya.  Namun, usahanya tak pernah membuahkan hasil. Ia kemudian memutuskan untuk bertapa ngidang di tengah hutan Glagahwangi.

Di dalam hutan Glagahwangi, terdapat danau yang sangat jernih yaitu danau Sendhang Beji. Di pinggiran danau itu ada pohon yang tumbuh dan condong menghadap ke danau sehingga menambah keasrian dari Danau Sendhang Beji.

Dari salah satu cabang pohon rindang tersebut menjadi tempat bertapa seorang laki laki yaitu Syekh Maulana Maghribi. Dia bertama ngalong atau bertapa seperti kelelawar yang sedang tidur di pohon.  Di suatu hari, Rasa Wulan berniat untuk mandi di seberang danau Sendhang Beji.

Tampa berpikir apa apa, Rasa Wulan kemudian membuka seluruh pakaiannya dan mulai mandi di danau itu. Ia tidak sadar bahwa ada laki laki yang sedang bertapa di salah satu pohon di tepi danau. Syekh Maulana Maghribi yang melihat Rasa Wulan terpesona akan kecantikan Rasa Wulan.

Dan tanpa dia sadari, ia meneteskan air maninya ke air di danau Sendhang Beji.  Saat Rasa Wulan menyiramkan air danau ketubuhnya, tiba tiba saja perutnya berubah menjadi besar. Dia kemudia mulai mencari apakah ada orang di danau itu, dan meilhat Syekh Maulana yang sedang bertapa. Dia kemudian menghampiri Syekh Maulana dan meminta pertanggungjawabannya.

Rasa Wulan protes dan marah marah kepada Syekh Maulana. Awalnya Syekh Maulana mengelak akan tuduhan dari Rasa Wulan. Rasa Wulan tetap bersikukuh dan terus meminta pertanggungjawaban dari Syekh Maulana karena tidak ada laki kali lain selain dia.

Syekh Maulana kemudian melepaskan kemaluannya lalu membuka sarung yang dia pakai untuk ditunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa dia bukan laki laki.

Dia berharap jika ia menghilangkan kemaluannya, dia bisa terbebas dari tuduhan Rasa Wulan. Namun Rasa Wulan tetap tidak percaya dan tetap meminta Syekh Maulana Maghribi untuk bertanggung jawab.

Akhirnya Syekh Maulana Maghribi menyerah dan mau bertanggung jawab untuk merawat bayi di kandungan Rasa Wulan.  Waktu berlalu, bayi yang ada dikandungan Rasa Wulan akhirnya keluar.

Setelah bayinya lahir, Rasa Wulan kemudian menyerahkannya kepada Syekh Maulana Maghribi agar bisa dirawat hingga dewasa. Syekh Maulana Maghribi kemudian menamai anak tersebut dengan nama Kidangtelangkas.

Sementara itu, kemaluan Syekh Maulana Maghribi yang sebelumnya telah ia cabut tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah mata tombak. Tombak itu kemudian ia berinama Kanjeng Kyai Pleret yang dijadikan sebagai senjata andalan.

Tombak Kyai Pleret kemudian diwariskan secara turun temurun kepada raja raja yang bertahta. Saat ini tombak tersebut dianggap sebagai peninggalan senjata pusaka dari kerajaan Mataram.  Itulah tadi kisah atau cerita rakyat Yogyakarta, asal mula Tombak Kyai Pleret.

Dari cerita tersebut pelajaran yang bisa diambil yaitu, berani berbuat berani bertanggung jawab. Pelajaran lain adalah jangan membantah perintah orang tua. (Uli)