Cerita Rakyat Pendek Dari Jeman Kakek Dan Cucunya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 15 Januari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Seorang kakek tinggal bersama anak dan menantunya. Mata kakek itu sudah rabun. Ia juga sudah mulai tuli. Tak hanya itu, kedua tangannya pun sudah mulai rapuh. Saat makan di meja makan, Kakek sering kali menjatuhkan makanannya. Hal itu membuat anaknya kesal. Ia sering memarahi Kakek.

Kakek hanya terdiam menerima omelan anaknya. Beberapa hari kemudian, anaknya tak lagi membolehkan ia makan di meja makan. Tempat makan Kakek dipindahkan ke sudut dapur.

“Makanlah di sini agar kau tak mengganggu makan kami,” ucap anaknya, dilansir dari Dongengceritarakyat.com (14/01/2021).

Kakek hanya meneteskan air mata saat anaknya berseru seperti itu. Ia seperti tak ada artinya lagi bagi anaknya. Padahal dulu saat anaknya masih kecil, dirinyalah yang merawat sang anak dengan penuh kasih sayang. Namun, saat sang Kakek sudah tua, anaknya malah memperlakukannya dengan buruk.

Kakek menerima makanan di mangkuknya. Tangannya yang rapuh tak bisa mengangkat mangkuknya. Kemudian… prang! Mangkuk itu jatuh dan pecah. Anaknya langsung menghampiri si Kakek dan memarahinya. Sedih sekali kakek itu mendengar caci-maki yang dilontarkan oleh anaknya.

Keesokan harinya, anaknya membelikan si Kakek mangkuk dari kayu yang murah. Mangkuk itu merupakan mangkuk khusus untuk si Kakek. Kalau Kakek menjatuhkannya, mangkuk itu tidak akan pecah. Anaknya memberikan makanan kepada si Kakek dengan menggunakan mangkuk kayu itu.

Kakek selalu sedih saat menerimanya. Apalagi makanan yang didapatkannya sedikit sekali. Tak jarang saat siang dia merasa kelaparan. Cucunya yang melihat hal itu merasa iba. Tiba-tiba ia memiliki ide.

Sang cucu mencari sebuah kayu, lalu mencoba membuat mangkuk kayu. Ayah dan ibunya merasa heran. Untuk apa dia membuat mangkuk kayu? Padahal sudah disediakan mangkuk untuknya.

“Kenapa kau membuat mangkuk kayu, anakku?” tanya ibunya.

“Aku membuat mangkuk kayu untuk ayah dan ibu. Nanti saat aku dewasa, aku akan memberikan mangkuk kayu ini untuk ayah dan ibu,” ucap anaknya.

Ayah dan ibunya sungguh kaget. Kemudian mereka memandang ke arah Kakek. Mereka langsung menangis dan meminta maaf kepada Kakek. Mereka sadar bahwa kelak mereka pun akan menjadi tua dan tidak berdaya seperti Kakek. Sejak saat itu, Kakek kembali makan di meja makan. Dia juga kembali mendapatkan makanan yang cukup.

Meskipun sering memecahkan mangkuk, anaknya tak pernah lagi memarahinya. Mereka sadar dengan kesalahan mereka. Mereka tak mau anaknya kelak memperlakukan hal yang sama kepada mereka. Melihat hal itu, sang Cucu sangat senang. Memang tak seharusnya orangtua diperlakukan seperti itu.

Pesan moral dari cerita dongeng pendek Jerman adalah sayangilah kedua orangtuamu, yang selama ini telah merawatmu dengan penuh kasih sayang. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: