Cerita Pria Yang Tinggal Di Danau Terpencil Selama 40 Tahun

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 14 November 2021
loading...

Indolinear.com, Skotlandia – Selama lebih dari 40 tahun, Ken Smith menyingkirkan gaya hidup konvensional dan tinggal tanpa listrik atau air ledeng di kabin kayu buatannya sendiri, di tepi danau yang terpencil di Dataran Tinggi Skotlandia.

“Ini kehidupan yang menyenangkan,” ujar Ken, dilansir dari Tribunnews.com (13/11/2021).

“Semua orang berkata mereka bisa melakukannya, tapi tidak ada yang benar-benar melakukannya.”

Tidak semua orang mau menjalani kehidupan seperti Ken.

Terisolasi dan tertutup dari dunia, berburu dan memancing, juga mencari kayu bakar dan mencuci pakaian di pemandian tua di luar ruangan, bukanlah gaya hidup ideal untuk banyak orang.

Terlebih di usia menginjak 74 tahun.

Butuh dua jam berjalan kaki dari jalan utama di Rannoch Moor, dekat Loch Treig, Skotlandia, untuk mencapai kabin kayu milik Ken.

“Tempat ini dikenal sebagai danau yang sepi,” kata dia. “Tidak ada jalanan di sini, tapi dulu orang-orang tinggal di area ini sebelum mereka membangun bendungan.”

Jika kita melihat ke arah danau dari atas bukit, dia bilang: “Semua reruntuhan ada di sana. Skornya sekarang satu, dan itu adalah saya.”

Pembuat film Lizzie McKenzie pertama kali menghubungi Ken sembilan tahun lalu, dan selama dua tahun terakhir, dia merekam keseharian Ken untuk film dokumenter BBC Skotlandia yang berjudul The Hermit of Treig.

Ken, yang berasal dari Derbyshire, menceritakan dalam dokumenter itu tentang bagaimana dia mulai bekerja di usia 15 tahun, membangun stasiun pemadam kebakaran.

Namun hidupnya berubah di usia 26 tahun, ketika dia dipukuli oleh geng berandalan setelah keluar malam.

Dia menderita pendarahan otak dan hilang kesadaran selama 23 hari.

“Mereka bilang, saya tidak akan pernah sembuh. Mereka berkata saya tidak akan bisa bicara lagi,” ujarnya.

“Mereka juga mengatakan saya tidak akan pernah berjalan lagi, tapi kenyataannya saya bisa berjalan lagi.

“Sejak itu, saya memutuskan saya tidak akan pernah lagi hidup dengan aturan orang lain, selain diri saya sendiri,” ungkapnya.

Ken kemudian mulai melakukan perjalanan dan tertarik dengan gagasan hidup di alam liar.

Di Yukon, wilayah Kanada yang berbatasan dengan Alaska, Ken mengira-ngira apa yang akan terjadi bila dia berjalan keluar begitu saja dari jalan utama dan “menuju entah ke mana”.

Itulah yang dilakukannya. Ken mengaku dia berjalan sekitar 35.400 kilometer sebelum pulang kembali ke rumah.

Ketika dia pergi dari rumah, kedua orang tuanya meninggal dunia dan Ken tidak mengetahui informasi itu hingga dia pulang kembali.

“Butuh waktu lama sampai saya merasa terpukul,” kata dia. “Saya tidak merasakan apa-apa.”

Ken kembali ke jalan dan mengarungi Inggris. Dia berada di Rannoch, Dataran Tinggi Skotlandia, ketika tiba-tiba dia teringat apa yang terjadi pada orang tuanya dan mulai menangis.

“Saya menangis sambil berjalan kaki,” kenang dia.

“Saya berpikir, di mana gerangan tempat paling terisolasi di Inggris?” lanjut Ken, dalam film dokumenter tersebut.

“Saya terus berjalan dan mengikuti setiap teluk dan setiap bukit yang tidak ada bangunan rumahnya.

“Ratusan dan ratusan mil kehampaan. Lalu saya melihat ke seberang danau dan mendapati hutan ini.”

Dia tahu, bahwa dia telah menemukan tempat tinggal.

Ken mengatakan, ketika itulah saat dia berhenti menangis dan mengakhiri pengembaraannya.

Dia kemudian membangun kabin kayu, mula-mula bereksperimen dengan desainnya menggunakan kayu-kayu kecil.

Empat dekade berlalu, kabin ini memiliki banyak kayu bakar tapi tidak ada aliran listrik, gas, maupun air ledeng — dan tidak ada sinyal telepon.

Ken harus menebang kayu di hutan dan membawanya kembali ke pondoknya yang terpencil.

Dia menanam sayuran dan mengumpulkan buah berry, namun makanan utamanya berasal dari danau.

“Jika Anda ingin belajar bagaimana hidup secara mandiri, maka Anda harus belajar memancing,” katanya.

Sepuluh hari setelah sutradara film Lizzie meninggalkan kabinnya, pada Februari 2019, “pertapaan” Ken harus berakhir ketika dia harus dibawa pulang karena terserang stroke saat berada di luar rumah yang saat itu bersalju.

Beruntung, Ken menggunakan alat pelacak GPS, yang diberikan kepadanya beberapa hari sebelumnya. Ia berhasil memicu sinyal SOS, yang secara otomatis terkirim ke pusat respons di Houston, Texas.

Petugas memberi tahu penjaga pantai di Inggris dan Ken dibawa dengan helikopter ke rumah sakit di Port William, di mana dia kemudian dirawat selama tujuh minggu.

Para petugas di rumah sakit melakukan apa yang mereka bisa supaya Ken bisa kembali hidup mandiri, dan para dokter mencoba mengajaknya kembali ke peradaban, di mana dia bisa tinggal di apartemen dan mendapatkan perawat.

Tapi Ken hanya ingin kembali ke kabin kayunya.

Maski begitu, “penglihatan ganda” yang dideritanya setelah stroke, ditambah kehilangan ingatan, berarti Ken harus mau menerima lebih banyak bantuan ketimbang sebelumnya.

Kepala perkebunan, yang menjaga hutan tempat Ken tinggal, membawakan makanan untuknya setiap beberapa pekan sekali. Ini dibayarnya dengan dana pensiunnya sendiri.

“Orang-orang sangat baik kepada saya akhir-akhir ini,” kata Ken.

Setahun setelah penyelamatannya, Ken harus diangkut dengan helikopter lagi setelah ia terluka karena tertimpa tumpukan kayu.

Namun Ken berkata, dia tidak khawatir dengan masa depannya.

“Kita tidak ditempatkan di Bumi ini untuk selamanya,” ujar Ken.

“Saya akan berada di sini sampai hari-hari terakhir saya datang, itu pasti.”

“Saya telah mengalami banyak kecelakaan, tapi saya sepertinya bisa bertahan dari semuanya.

“Saya sudah pasti akan sakit lagi suatu hari nanti. Sesuatu akan terjadi kepada saya, dan itu akan membawa saya pergi selamanya, sama seperti orang-orang lain.

“Tapi saya harap saya bisa hidup sampai umur 102 tahun.” (Uli)