Cerita Oktara Geovanny Saroza: Anak Sopir Truk Batubara Jadi Dokter

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Kamis, 23 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Pagi masih muda. Jarum jam di dinding baru menunjuk pukul 7 pagi. Tapi dokter muda itu sudah duduk ruangannya, di Puskesmas Bareng di Jalan Dr. Soetomo No. 47, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Puskesmas Bareng baru saja selesai direnovasi pada tahun 2019. Bangunan bertingkat itu ada di atas tanah seluas 1.887 meter persegi. Dengan  luas bangunan 258 meter persegi, pusksemas ini memiliki kamar perawatan sebanyak 25 tempat tidur. Puskesmas itu juga menyediakan layanan Unit Gawat Darurat atau UGD selama 24 jam.

Dokter muda itu setiap hari berangkat dari rumah kontrakannya  sebelum jam 7 pagi. Sebab, pukul 7 pagi, dokter muda itu sudah mulai menerima pasien. Di sana ia berpraktik sebagai dokter umum. Dengan tekun dia mendengarkan satu per satu keluhan pasien hingga jam 2 siang. Rutinitas ini dia lakukan dari hari Senin hingga Sabtu.

Dokter muda itu adalah Oktara Geovanny Saroza, 25 tahun. “ Saya baru sebulan di sini,” katanya, dilansir dari Dream.co.id (21/06/2022).

Oktara belum lama ini dilantik menjadi dokter. Ia merupakan penerima beasiswa Bidikmisi. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur.

Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya dalam tempo tujuh tahun. Padahal beasiswa bidikmisi bisa menyediakan biaya kuliah untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, selama delapan tahun kuliah. Ini karena beban kuliah kedokteran itu banyak dan tidak mudah.

Kini, Oktara pun mulai berpraktik sebagai dokter umum dalam program magang atau internship di Puskesmas Bareng, Jombang.

Oktara Geovanny Saroza lahir di Gresik, Jawa Timur, tanggal 9 Juni 1997.

Ia merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Eddy Saroza. Sementara ibunya bernama Rini Kuswanti.

Ayahnya bekerja sebagai sopir truk batubara di Kalimantan Timur. Ayahnya pindah ke Bontang, Kalimantan Timur, sejak tahun 1999 sampai sekarang. Sementara ibunya seorang ibu rumah tangga biasa.

Oktara mengikuti pendidikan SD sampai SMA di Bontang. Saat SMP dan SMA dia bersekolah di Yayasan Pendidikan Vidya Dhana (YPVDP) atau biasa disebut Vidiatra.

Saat sekolah SMP dan SMA Oktara bisa sekolah gratis, karena dia menerima beasiswa dari PT Badak NGL.

PT Badak Natural Gas Liquefaction atau PT Badak NGL, adalah salah satu dari perusahaan pengolah gas alam cair (LNG, Liquid Natural Gas) di Indonesia. Perusahaan ini berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Kilang PT Badak LNG merupakan kilang LNG terbesar di Indonesia, bahkan dunia. PT Badak LNG juga merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Kota Bontang maupun Indonesia.

Nah, PT Badak NGL juga menyediakan beasiswa di sekolah YPVDP yang  didirikan perusahaan itu. Oktara adalah salah satu penerima beasiswa itu sehingga dia bisa bersekolah gratis sejak SMP sampai lulus SMA.

“ Beasiswa itu amat membantu saya. Karena,  secara ekonomi keluarga saya bisa dibilang kelas menengah ke bawah,” tuturnya.

Oktara mengenang selama menetap di Bontang itu keluarganya tak pernah punya rumah milik sendiri. Mereka terus berpindah-pindah, dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Mengikuti tempat kerja ayahnya yang juga sopir truk batubara dengan status pekerja kontrak.

Ada kalanya ayahnya menganggur begitu kontrak kerjanya habis. Hingga perlu menunggu beberapa waktu hingga ayahnya mendapat kontrak kerja yang baru.

Oktara lulus dari SMA YPVDP atau Vidiatra pada tahun 2015. Dari guru SMA-nya, dia mengetahui ada kesempatan untuk kuliah bagi anak yang datang dari keluarga pas-pasan seperti dirinya. Karena pemerintah melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyediakan beasiswa Bidikmisi.

Dari gurunya dia juga mengetahui bahwa beasiswa Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu.

Akhirnya Oktara memutuskan untuk mendaftar beasiswa Bidikmisi dan mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sekaligus, seperti saran gurunya.. Ia mendaftar untuk ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Ia memang bercita-cita ingin menjadi dokter.

Oktara menyadari kuliah di Fakultas Kedokteran adalah fakultas yang terhitung mahal. Ia sadar kedua orang tuanya tidak akan mampu membiayai.

“ Kalau dari biaya sendiri, orang tua terang tidak sanggup.  Orang tua tidak akan mampu membiayai. Apalagi fakultas kedokteran yang terkenal mahal,” ujarnya.

Untunglah seorang guru yang ikut memantau perkembangan Oktara sejak SMP dan SMA membantunya. Dia mememerhatikan Oktara adalah siswa yang berpotensi, walau secara ekonomi tidak mampu. Maka gurunya memberi beberapa saran beasiswa. Antara lain, kesempatan mendapat kredit pinjaman untuk pembiyaaan kuliah (student loan) yang disediakan PT Badak NGL.

PT Badak NGL memang menyediakan pinjaman pembiayaan kuliah atau student loan sebesar Rp 9 juta per semester. Pinjaman itu wajib dikembalikan oleh mahasiswa begitu dia lulus dan bekerja. Pembayaran kembali dilakukan dengan cara dicicil, seperti yang lazim dilakukan mahasiswa di Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

Maka, harapan Oktara pun berkobar. Ia pun mengisi pendaftaran untuk pinjaman pembiayaaan kuliah itu dari PT badak NGL, dan disetujui. Jejak rekam prestasi belajarnya yang baik sejak SMP dan SMA membuat PT Badak NGL memercayainya.

Karena itulah, Oktara berani mengikuti tes SNMPTN dan mendaftar ke Fakultas Kedokteran UNAIR. Dengan bantuan pinjaman itu, setidaknya dapat digunakannya untuk membayar sewa kamar atau kos selama dia kuliah.

Kabar baiknya lagi, dia lulus masuk Fakultas Kedokteran UNAIR. Tak hanya itu dia juga menerima kabar bahwa permohonan beasiswa Bidikmisi-nya diterima.

Alhasil, dari beasiswa Bidikmisi, dia bisa membayar UKT secara gratis. UKT merupakan istilah singkatan dari Uang Kuliah Tunggal yang perlu dibayar oleh mahasiswa untuk per semesternya. Biaya UKT termurah di Fakultas Kedokteran UNAIR saat  dia masuk sebesar Rp 2,4 juta per semester.

Dengan beasiswa Bidikmisi, dia dibebaskan membayar uang kuliah atau UKT selama studi di Fakultas Kedokteran Unair. Karena dia kuliah di Kedokteran, maka dia diberi waktu maksimal bebas UKT, yaitu selama delapan tahun.

“ Selain itu saya bisa menerima uang saku sebesar Rp 700 ribu sebulan,” kata Oktara. Uang beasiswa itu  dia terima setiap semester sebesar Rp 4,2 juta.

Maka, pada tahun 2015, dia pun berangkat ke Surabaya. Karena secara ekonominya dia bukan dari keluarga mampu, hanya dia saja yang berangkat ke Surabaya. Sementara orang tuanya hanya bisa mengiringi dengan doa,  tanpa bisa mengantarkannya langsung ke Surabaya.

Setiba di Surabaya, dia langsung pergi ke asrama mahasiswa Bontang. Sebelum berangkat, ia sudah mendapatkan informasi bahwa pemerintah Bontang, Kalimantan Timur, menyediakan asrama bagi mahasiswa Bontang di Surabaya

Ia mengaku sewa asrama itu gratis. Tapi mahasiswa yang tinggal di sini harus patungan untuk membayar listrik dan air. “ Bayar untuk listrik dan air cuma Rp 200 ribu per bulan,” kata Oktara. Itulah satu-satunya biaya yang dia keluarkan. Selainnya, gratis.

Maka, dia pun mulai kuliah di Fakultas Kedokteran UNAIR sebagai mahasiswa baru. Ia akui kuliah di Fakultas Kedokteran terbilang mahal. Terutama buku-buku kedokteran. Karena rata-rata harga buku kedokteran termurah harganya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per buku.

Tapi dia tak hilang akal. Untuk memenuhi buku-buku kedokteran, dia memilih membeli dari kakak kelas yang sudah lulus. Dari situ harga buku turun dratis, jadi tinggal Rp 100-Rp 200 ribu.

Ia pun menggunakan perpustakaan kampus semaksimal mungkin. Oktara menuturkan, mahasiswa kedokteran  kini dapat mengakses buku dan jurnal kedokteran secara online yang disediakan kampusnya secara gratis. Ini amat membantu dia untuk menghemat pengeluaran pembelian buku.

Untuk alat praktek dokter, seperti stetoskop dan alat pengukur tensi, dia menyiasatinya dengan cara meminjam pada. Sehingga dia tidak harus membeli. “ Tapi, memang perlu usaha lebih untuk mencari ke teman-teman, siapa yang peralatannya tidak dipakai pada hari itu,” paparnya.

Ia juga bekerja di sela-sela kuliah untuk menambah uang saku. Ia bekerja dengan cara memberikan les privat bimbingan belajar bagi siswa yang ikut SNMPTN. Dari sini dia bisa memperoleh tambahan Rp 200 ribu – 300 ribu per minggu.

Ia juga kerap menjadi model peraga untuk praktik dokter di fakultasnya dengan berpura-pura sebagai pasien yang diperiksa. Dari sini dia bisa mendapat makan gratis dan uang saku. Untuk biaya makan sehari-hari, dia membatasi pengeluarannya sebesar Rp 100 ribu seminggu.

Dengan bekerja sampingan dan menerapkan berbagai jurus gaya hidup irit, dia bisa menamatkan kuliah. Boleh dikatakan, selama kuliah dia nyaris hampir tak pernah meminta uang pada orangtuanya.

Bahkan, uang pinjaman kuliah dari PT Badak NGL yang dia dapat setiap semester sebesar Rp 9 juta, separuhnya dia kirim kembali ke ibunya. “ Untuk tambah-tambah biaya sekolah adik-adik,” akunya.

Dengan semangat tak mau menyerah, Oktara akhirnya bisa menyelesaikan pendikan Strata-1-nya dalam tempo 3,5 tahun. Ia lulus dengan pujian karena mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,42.

Selama mengambil pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran, dia memang lebih banyak mempelajari teori. Sehingga ketika lulus S-1, dia pun menjalani Koas. Ini adalah tahap selanjutnya dalam mengambil pendidikan profesi dokter.

Mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliah di jurusan ilmu kedokteran akan berperan sebagai dokter muda dan terjun langsung ke rumah sakit. Koas jadi tahap pengaplikasian ilmu kedokteran dasar yang telah diperoleh pada masa kuliah.

Untuk Koas ini Oktara menjalani di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Ia membantu dokter-dokter senior memeriksa pasien, dan belajar banyak dari pengalaman langsung. Ia menyelesaikan Koas-nya selama 2,5 tahun.

Jadi, dari 8 tahun masa pendidikan di Fakultas Kedokteran UNAIR yang ditanggung Bidikmisi, dia hanya menjalaninya selama 7 tahun.

Setelah menyelesaikan Koas, Oktara mengikuti Ujian Nasional Dokter pada Desember 2021.  Ia pun dinyatakan resmi lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran UNAIR pada Januari 2022.

Saat Oktara dilantik jadi dokter Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) Periode 1 Tahun 2022, Rabu 2 Januari 2022, mata ibunya  berkaca-kaca menyiratkan rasa bangga diliputi keharuan. “ Saya bangga sekali, sampai tidak bisa berkata-kata,” ungkap Rini Kuswanti lirih, saat melihat anaknya dilantik menjadi dokter FK UNAIR.

Setelah lulus jadi dokter, kini Oktara tengah magang atau internship. Ini dilakukan untuk mendapatkan izin membuka tempat praktik berupa Surat Tanda Registrasi atau STR yang sudah dipatenkan.

Selama 1 tahun menjalani internship, seorang dokter baru itu akan bekerja secara langsung di bawah pimpinan dokter senior. Setelah menyelesaikan magang, barulah bisa mengurus STR jika ingin membuka klinik. Jika tidak ingin menjalankan praktik sendiri, seorang dokter baru itu bisa bekerja di rumah sakit ataupun puskesmas.

Saat dihubungi Dream.co.id pekan lalu, Oktara mengaku kini tengah jadi dokter magang di Pusksemas Bareng, Kabupaten Jombang. Ia akan magang di selama enam bulan. Dan, enam bulan berikutnya dia akan magang di Rumah Sakit Muhamadiyah Jombang. Jadi, total dia akan magang selama setahun.

Untuk magangnya ini, ia mendapat bantuan hidup dari pemrintah sebesar Rp 3 juta per bulan. Ia pun lalu memboyong ibunya dan tiga adiknya dari Kalimantan Timur untuk tinggal bersamanya di rumah kontrakan di Jombang. Ketiga adiknya -anak ketiga, keempat dan kelima- itu  masih duduk di kelas II SMA, kelas 1 SD, dan yang paling kecil baru berumur 5 tahun.

Ibunya diajak pindah ke tanah Jawa juga karena adik Oktara yang kedua kini kuliah di Institut Pertanian Bogor. Adiknya  pun menerima beasiswa Bidikmisi.

Sementara ayahnya masih bekerja sebagai sopir tambang batubara di Bontang, Kalimatan Timur.

Ditanya kesannya setelah menjadi seorang dokter dan pengalamannya mendapat beasiswa Bidikmisi, dia berpesan agar calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu jangan berputus-asa dan kehilangan harapan.

“ Kesempatan itu selalu ada selama kita mau mencari dan berusaha. Selain itu, dari pengalaman saya, selalu ada hambatan-hambatan yang harus dilalui. Tapi, jangan jadikan hambatan sebagai kendala,” ujarnya, yakin.

Oktara mengaku bangga akhirnya berhasil menggapai cita-citanya menjadi dokter. Tapi, menurutnya keberhasilan ini juga berkat doa dan bimbingan orang tua. “ Selain berusaha, tetaplah patuh dan dengar nasehat orangtua,” katanya.

Dalam mencapai cita-citanya, ia sangat bersyukur mendapatkan bantuan Bidikmisi dari pemerintah dan peminjaman biaya studi dari PT Badak NGL. Berkat bantuan tersebut biaya kuliah fakultas kedokteran yang mahal bisa tertutupi. Ia pun berterimakasih pada Civitas Akademika UNAIR yang telah memberikan lingkungan pendidikan non-diskriminatif, sehingga kalangan ekonomi mana pun dapat kuliah dengan nyaman dan memiliki akses yang sama.

Pada akhirnya, Oktara kini memang telah berhasil. Dari seorang anak sopir truk batubara, dia kini menjelma sebagai dokter. Tanpa beasiswa mungkin intan yang terendam dalam lumpur akan selamanya tenggelam dalam lumpur. Tapi melalui beasiswa, dia berhasil jadi dokter sungguhan. Sungguh perjuangan yang tak mudah. (Uli)