Cerita Bintang Ekananda Pendiri Koinpack Membendung Sampah Plastik

FOTO: dream.co,id/indolinear.com
Jumat, 10 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Pagi itu, Senin 30 Mei 2022, seorang pemuda berkacamata telah berada di Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan. Jarum jam di stasiun itu menunjuk pukul setengah 8 pagi. Pemuda itu sebelumnya berangkat dari apartemen sewaaanya di kawasan Bumi Serpong Damai. Ia ingin berangkat kerja ke Jakarta.

Saat KRL ke arah Jakarta tiba, dia pun segera naik. Karena  penumpang ramai, ia harus berdiri berdesakan dengan ratusan penumpang KRL di gerbong. Kebanyakan menggunakan masker.  Ia sampai di Stasiun KRL Kebayoran, Jakarta Selatan, sebelum jam 10 pagi.

Ia memutuskan naik ojek online menuju kantornya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

“ 10.15 gapapa Mas? Saya baru turun KRL dan otw kantor, maaf.” Ia memang sebelumnya punya janji untuk melakukan wawancara, dilansir dari Dream.co.id (08/06/2022).

Pria berkacamata  itu adalah pendiri perusahaan rintisan atau startup Koinpack, Bintang Ekananda, 28 tahun. Ia baru saja diganjar penghargaan 30 under 30 Asia oleh majalah Forbes sebagai anak muda di bawah usia 30 tahun paling berpengaruh di Asia untuk kategori dampak sosial yang ditimbulkan.

Ia memang terbiasa berangkat ke kantor sehari-hari naik KRL atau naik sepeda motor. Bila merasa lelah, dia memutuskan naik KRL. Tapi bila merasa segar, dia memilih naik sepeda motor. Begitulah rutinitas hariannya setiap hari pada saat jam kerja. Begitu sederhana.

Bintang Ekananda lahir di Desa Balapulang Wetan, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada 29 Mei 1994.

Ia merupakan anak pertama dari dua orang bersaudara. Adiknya seorang perempuan yang selisih umurnya hanya terpaut tiga tahun. Ayahnya bernama Purwanto, sedangkan nama ibunya, Azizah.

Kedua orangtua Bintang bekerja sebagai guru.  Ayahnya adalah guru fisika di SMA. Sementara ibunya seorang guru Geografi di bangku SMP.

Bintang menghabiskan pendidikan SD dan SMP-nya di SDN I dan SMPN I Balapulang Wetan. Saat SMA, dia sekolah di SMAN I Slawi.

Setamat SMA pada tahun 2010, dia kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Jawa Tengah. Ia mengambil jurusan Teknik Lingkungan.

Saat kuliah, dia mulai akrab dengan isu-isu lingkungan. Selain aktif sebagai anggota Senat Mahasiswa, dia juga senang naik gunung. Ia penah naik gunung Sindoro tahun 2016,

“ Saya mulai memahami isu-isu lingkungan justru saat saya duduk di bangku kuliah,” akunya.

Bersama Kelompok Studi Lingkungan dan Himpunan Mahasiswa Teknologi Lingkungan, dia juga pernah menjadi sukarelawan dalam program penanaman ribuan pohon mangrove di pesisir pantai yang terkikis karena abrasi di kawasan pesisir Jawa Tengah.

Setelah tamat kuliah akhir tahun 2015, barulah dia merantau ke Jakarta.  Dia pun mulai melamar pekerjaan sesuai bidang ilmunya di teknologi lingkungan.

Pada tahun 2016, lamarannya diterima di Lautan Luas Tbk. Perusahaan itu merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi bahan kimia yang bermarkas di Jakarta. Perusahaan ini mendistribusikan dan memproduksi berbagai macam-macam bahan kimia dasar dan khusus.

Di sana, Bintang bekerja sesuai kompetensinya di bidang environmental engineering. Ia bertanggungjawab untuk meneliti, mengaudit serta mencegah pencemaran lingkungan yang bisa ditimbulkan oleh 30 anak perusahaan Lautan Luas Tbk.

“ Sebab perusahaan ini perusahaan kimia. Jadi tugas saya untuk mengontrol pencemaran udara, air, dan tanah dari produk perusahaan ini agar tidak merusak lingkungan dalam proses produksinya,” tuturnya.

Hanya selama 2 tahun 7 bulan, ia bekerja di Lautan Luas TBK sebagai environmental engineer. Ia berhenti bekerja di sana karena dia mendapat beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris untuk belajar di University of Leeds, Inggris.

Pada awal tahun 2018, Bintang pun terbang ke Inggris untuk mulai mengambil program master di University of Leeds Inggris untuk studi Energy and Environment, School of Chemical and Process Enginering.

Pada akhir tahun 2019,  dia menyelesaikan program masternya di University of Leeds dan  pulang kembali ke Indonesia.

Saat tiba di Indonesia, tepatnya pada bulan Februari 2020, dia mulai bekerja pada Enviu. Bintang memilih bekerja di Enviu karena merasa memiliki visi yang sama dengan program Zero Waste Living Lab Enviu.

Enviu adalah sebuah studio ventura sosial yang bermarkas di Rotterdam, Belanda dan sudah beroperasi sejak tahun 2004. Enviu tidak hanya beroperasi di Belanda. Enviu juga ada di India, Chile, Afrika, Indonesia dan yang terbaru di Malaysia.

Di Indonesia, Enviu mendirikan ventura-venturanya melalui sebuah program bernama Zero Waste Living Lab. Program ini berfokus pada solusi penggunaan ulang atau reuse untuk pencegahan pencemaran lingkungan melalui kemasan plastik sekali pakai. Enviu masuk ke Indonesia pada tahun 2019.

“ Jadi Enviu ini perusahaaan yang melahirkan perusahaan startup lingkungan. Jadi perusahaan yang melahirkan perusahaan,” jelas Bintang.

Setelah bergabung, Bintang diminta membuat startup yang ingin dia dirikan, mulai dari konsep hingga pelaksanaan di lapangan. Setelah seminggu berpikir keras, maka tercetuslah  ide tentang pendirian Koinpack.

Maka, oleh Enviu, Bintang pun ditunjuk sebagai Direktur, sekaligus pendiri Koinpack yang pendanaan awalnya berasal dari Enviu.

Menurut Bintang, ide membuat Koinpack itu didirikan karena adanya fakta bahwa ada jenis sampah plastik yang sangat sulit didaur ulang secara ekonomis, seperti sachet. Jenis sampah ini banyak dibuang oleh masyarakat Indonesia.  Padahal, tingkat daur ulangnya di Indonesia hanya 10%.

Limbah yang tidak terdaur ulang  itu akhirnya banyak mencemari perairan dan wilayah pesisir. Apalagi, sachet tidak memilik nilai di pasar daur ulang dan memakan waktu lama untuk dikumpulkan. Sachet memiliki harga pasar yang sangat rendah untuk pendaur ulang.  Harganya kurang dari Rp700,000 per ton di beberapa lokasi, itu pun jika ada permintaan. Dan, dibutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan 1 ton.

Sebagai konsekuensinya, sistem pengumpulan informal atau swasta dan industri daur ulang tidak berminat pada sachet.  Jenis plastik ini pun akhirnya bertebaran dan mencemari lingkungan.

Menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta, sampah plastik merupakan ancaman konkret terhadap Teluk Jakarta dan Kepulauan Kecil di Jakarta. Alasannya, Jakarta yang luasnya 661,5 km² dengan  jumlah penduduk mencapai 10 juta jiwa, memiliki 13 aliran sungai dan bermuara di Teluk Jakarta. Sementara Teluk Jakarta menerima beban sampah dari Jakarta, Tangerang dan Bekasi sebanyak 8,32 ton per hari dan 59%  di antaranya adalah sampah plastik, menurut peneltian terakhir yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Di Koinpack, Bintang menyediakan produk-produk harian rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, cairan pencuci piring, beras, dan minyak goreng dari merek-merek yang sudah familiar di masyarakat dalam kemasan yang bisa dikembalikan (returnable) dan digunakan ulang (reuse).

Cara kerjanya cukup sederhana:. Pertama, pelanggan membeli produk-produk Koinpack di mitra penjualan Koinpack atau langsung mengubungi Koinpack melalui WhatsApp (WA) Koinpack di nomor: 0813-1888-0402.

Jika membeli melalui mitra Koinpack, botol produk akan di-scan oleh mitra Koinpack menggunakan aplikasi Koinpack agar tetap terlacak. Lalu, pelanggan bisa menghabiskan isi produknya.

Setelah isi produk habis, pelanggan bisa mengembalikan kemasannya ke mitra Koinpack yang sama pada saat mereka membeli, atau bisa dijemput oleh tim Koinpack jika mereka membeli langsung ke Koinpack.

Saat mengembalikan botol plastik kemasan, pelanggan akan mendapatkan cashback atau potongan harga 5-10 persen lebih murah untuk pembelian selanjutnya setelah mereka mengembalikan kemasan.

“ Jadi mirip seperti langganan air galon,” kata Bintang.  “ Dengan begini, kita bisa bersama-sama mencegah sampah kemasan sekali pakai langsung dari sumbernya.”

Saat ini, mitra penjualan Koinpack ada sebanyak 50 titik yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Untuk selengkapnya bisa dicek di laman resmi Koinpack di www.koinpack.id.

Jenis-jenis mitra Koinpack sangat beragam mulai dari warung, bank sampah, komunitas PKK bahkan hingga agen-agen individu. Dalam dua tahun berdiri sampai saat ini Koinpack sudah memiliki 50 mitra.

Selain ingin berkontribusi pada penyelamatan lingkungan, Bintang ingin Koinpack juga mempunyai dampak sosial.

“ Bagi mereka yang ingin menjadi agen atau mitra, Koinpack juga membuka diri. Silahkan hubungi nomer WA Koinpack,” ujarnya, merujuk nomor telepon WA yang ada di atas.

Dengan mengajak bank sampah, komunitas PKK, dan agen-agen individu yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga, Koinpack berharap bisa membantu mereka untuk mendapatkan manfaat ekonomi.

Dengan mekanisme penggunaan ulang atau reuse, Bintang yakin persoalan sampah plastik akan bisa dilawan dari hulunya.

Karena dengan wadah kemasan plastik yang bisa digunakan ulang, baik untuk deterjen, sabun, cairan pencuci piring, sampo, dan minyak goreng, akan mengurangi beban Bumi untuk menghadapi sampah plastik yang butuh ribuan tahun diolah oleh alam menjadi limbah yang tak berbahaya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton pertahun. Sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Sampah plastik di Jakarta setiap harinya mencapai 34 persen dari sampah harian di 2019. Adapun rata-rata total sampah harian Jakarta di 2019 mencapai 7.702 ton.

Indonesia masuk urutan kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia pada tahun 2019 dengan 3,21 juta metrik ton pertahun, sedangkan di urutan pertama dipegang China dengan 8,81 juta metrik ton pertahun.

Bahkan, pada tahun 2018, sebagai contoh kasus sampah plastik  telah mengancam lingkungan, khususnya di laut.  Ini terjadi di salah satu destinasi wisata bawah laut di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ketika itu warga setempat geger dengan adanya penemuan mayat seekor ikan paus sperm yang mati terdampar dengan perut berisi enam kilogram plastik, termasuk 115 buah sampah plastik air minum gelas.

Bintang mengungkapkan, selain meluaskan mitra tempat kemasan yang bisa dikembalikan, ia punya  pekerjaan  besar lainnya bagi Koinpack ke depan, yaitu: mengajak merek-merek terkenal berpatisipasi dan bermitra dengan Koinpack.

Dengan demikian konsep reuse itu akan semakin meluas dan konsumen punya lebih banyak pilihan tergantung kecenderungan konsumen pada merek-merek tertentu. “ Ini memang pekerjaan rumah kita ke depan,” ujarnya.

Karena dampaknya yang nyata pada pengurangan sampah plastik, Koinpack berkali-kali memperoleh penghargaan. Di antaranya menjadi juara 1 Ais Innovation Chalenge tahun 2020 yang salah satu pengagasnya lembaga dunia PBB UNDP, Country Star of The Alibaba Cloud x KrAsia Global Startup Accelerator Indonesia Demo Day, menjadi penerima pengargaan pertama iF Design Social Impact Prize 2021, dan 10 bisnis sosial terpilih untuk Program Instellar dan IKEA Social Enterpreneurship Indonesias Accelreator.

Akan halnya penghargaan dari Forbes untuk 30 under 30 Asia, Bintang mengaku tak tahu siapa yang mencalonkan dia.

Belakangan dia baru mengetahui bahwa ada 2.500 nominasi yang diusulkan dari seluruh Asia. Lalu, dari 2.500 kandidat diperas menjadi 500 kandidat di semifinal. “ Sehingga pada akhirnya terpilih 300 orang untuk Asia dan 30 orang per kategori,” jelasnya.

Ia sendiri tak menyangka dirinya terpilih untuk kategoti social impact dari majalah Forbes. Baginya, penghargaan ini membuatnya semakin yakin Koinpack sudah berada di jalur yang tepat.

“ Penghargaan ini tidak hanya berharga bagi saya, namun juga untuk seluruh Tim Koinpack. Ini juga semakin memvalidasi solusi reuse Koinpack dalam mencegah sampah kemasan plastik sekali pakai di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pelanggan dan mitra Koinpack atas kepercayaannya. Mari kita bersama-sama mengakhiri krisis sampah kemasan plastik sekali pakai ini dengan beralih ke solusi reuse,” kata Bintang.

Ia sendiri mengaku belum ada investor lain di Koinpack selain Enviu. Ia membuka diri terhadap angel investor yang mau berkontribusi untuk penyelamatan planet Bumi. “ Kami terbuka. Silahkan nanti bicarakan dengan Enviu bagaimana teknisnya,” ujarnya.

Dalam usia 28 tahun, Bintang Ekanada dan Koinpack telah berhasil menjadi bintang harapan di kegelapan langit akibat pencemaran sampah plastik. Ia menjadi pelopor startup Indonesia guna melawan sampah plastik di Indonesia dengan konsep pengunaan ulang kemasan plastik atau reuse. Pantaslah majalah Forbes menasbihkannya sebagai anak muda di bawah 30 tahun yang memiliki pengaruh besar di Asia. (Uli)

loading...